Setia Antara Dua Zaman

145145858188609_300x430.jpg
Surat dari Praha (Diambil dari 21cineplex.com)

 

 

Judul Film : Surat Dari Praha
Genre : Drama/Romantic
Durasi Film : 94 menit
Sutradara: Angga D. Sasongko
Main Cast: Tyo Pakusadewo, Julie Estelle, Widyawati, Rio Dewanto, Chicco Jerikho

 

“Kamu pikir kehadiranmu bisa menggantikan semua? Apa yang sudah direnggut dari saya? Hidup saya, tanah air saya, cinta saya? Kamu pikir mudah hidup sebagai sarjana nuklir tapi bekerja sebagai janitor, puluhan tahun, puluhan tahun? Dan terlibat dengan perempuan yang saya tak ketahui jejaknya?”

Jaya

###
Setelah setahun lamanya pergi meninggalkan rumah, Larasati (Julie Estelle) datang kembali menemui ibunya bernama Sulastri (Widyawati) untuk meminjam sertifikat rumah. Ditengah Sulastri yang sedang terbaring sakit di rumah sakit, Larasati memaksa ibunya menyerahkan sertifikat rumah untuk dijual agar mampu membiayai perceraiannya dengan suaminya (Chicco Jerikho) yang telah berselingkuh dengan perempuan lain disaat Larasati hamil dua bulan. Kabar perceraian dan permintaan yang sangat mengagetkan dari Larasati tersebut membuat Sulastri sangat sedih. Hingga beberapa saat kemudian, Sulastri meninggalkan dunia untuk selamanya.

Rumah Sulastri kemudian diwariskan kepada Larasati, anak Sulastri satu-satunya. Namun, rumah tersebut akan diberikan pada Larasati jika Larasati mengantarkan sebuah kotak beserta sepucuk surat kepada seseorang yang berada di Praha, Ceko yang kemudian dibuktikan dengan selembar surat tanda terima.

Larasati pikir wasiat ibunya itu akan mudah untuk dijalankan. Namun, hal tersebut menjadi sulit setelah Jaya (Tyo Pakusadewo), seorang pria tua yang menjadi tujuan pengiriman kotak beserta sepucuk surat tersebut, menolak mentah-mentah barang peninggalan Sulastri. Jaya kemudian mengusir Larasati untuk segera pergi dari rumahnya. Larasati mengatakan kepada Jaya bahwa ia akan tetap datang ke rumah Jaya sampai ia mampu menerima barang peninggalan Sulastri dan menandatangani tanda terima.

Ditengah perjalanan Larasati menuju penginapannya, Larasati dirampok oleh seorang supir taksi sehingga Larasati kehilangan segala barang-barangnya. Dengan hanya bermodalkan barang peninggalan Sulastri, Larasati terpaksa meminta menginap di rumah Jaya sebagai orang yang dikenalnya di Praha.

Walaupun Jaya menerima Larasati untuk menginap di rumahnya, Jaya masih enggan untuk menerima barang-barang peninggalan Sulastri. Jaya pun enggan untuk memberitahukan apa hubungan sebenarnya antara Jaya dengan Sulastri. Karena itu akhirnya, Larasati membuka kotak yang akan diberikan kepada Jaya tersebut.

Dalam kotak tersebut ternyata Larasati menemukan banyak sekali surat Jaya kepada Sulastri yang dikirimkan dari tahun 1985. Surat-surat tersebut menggambarkan hubungan Jaya dan Sulastri selama ini yang ternyata adalah seorang kekasih sejak lama. Larasati yang sejak kecilnya merasa bingung mengapa ia tidak memiliki kasih dari seorang ibu sejak lahir dan mengapa ayahnya terlihat begitu menderita sampai kematiannya, sontak langsung meledak amarahnya begitu saja.

Lalu tergambarlah siapa sebenarnya Jaya ini. Jaya adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa Indonesia yang dikirim oleh pemerintah Sukarno atau Orde Lama untuk belajar di Praha, Ceko. Pada saat setelah peristiwa G30SPKI tahun 1965 terjadi, pemerintah Orde Baru kemudian menggelorakan semangat dan propaganda kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadi anti-Sukarno dan anti-komunisme. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri pada saat itu kemudian diminta untuk menandatangani surat pernyataan bahwa mereka mendukung pemerintahan Suharto dan mereka mengutuk pemerintahan Sukarno yang pro-komunis. Itu semua dilakukan karena rezim Orde Baru saat itu sangat takut dengan intelektual-intelektual yang sangat loyal terhadap Sukarno, apalagi mereka yang berhaluan kiri.

Jaya mengatakan dengan lantang bahwa ia adalah seorang nasionalis dan bukan seorang komunis. Maka dari itu, walaupun Jaya menolak komunisme, Jaya tidak bisa menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa Jaya mengutuk pemerintahan Sukarno. Karena Jaya menyadari bahwa dengan rezim Sukarno lah ia bisa mengenyam ilmu di Ceko.

Hal itu ternyata berakibat fatal untuk Jaya. Pemerintah Orde Baru langsung mengeluarkan surat pembatalan kewarganegaraan bagi mereka yang tidak mau mengutuk Sukarno. Terlebih lagi, Jaya dan mahasiswa lainnya yang tidak mau menandatangani surat tersebut langsung dicap sebagai komunis di Indonesia. Mereka semua akhirnya menjadi stateless (tidak memiliki kewarganegaraan) dan hidupnya luntang-lantung di negeri orang. Jaya pun sudah tidak bisa lagi pulang ke Indonesia dan mendengar kabar keluarga serta Sulastri di Indonesia.

Sebelum berangkat ke Ceko, Jaya ternyata sudah berjanji kepada Sulastri dua hal. Pertama, Jaya akan segera kembali dari Ceko dan menikahi Sulastri. Janji yang kedua adalah: Jaya akan mencintai Sulastri selama-lamanya. Namun, pada akhirnya nasib membawa Jaya hanya bisa menepati janjinya yang kedua.

20 tahun setelah Jaya dihapuskan kewarganegaraan Indonesianya (tahun 1985), Jaya mulai menulis surat kepada Sulastri. Jaya mulai menulis dan mengirim surat setelah 20 tahun lamanya karena Jaya takut suratnya kepada Sulastri pada masa tahun 1965-1970 itu akan membuat Sulastri dipenjara. Sulastri akan dianggap sebagai tahanan politik kelas C karena memiliki hubungan dengan seorang yang dianggap komunis di luar negeri.

Namun, Jaya tidak tahu bahwa Sulastri sudah menikah selama 11 tahun dan sudah memiliki Larasati yang berumur 2 tahun pada saat ia menulis surat tersebut di tahun 1985. Surat pertama dari Jaya inilah yang membuat Sulastri berubah sikap dengan suaminya dan juga dengan Larasati. Kenang Larasati di masa kecilnya, ibunya lebih banyak mengurung diri di kamar dan juga tidak begitu semangat membangun keluarganya. Satu yang membuat Larasati teringat adalah betapa gembiranya ibunya saat tukang pos datang memberikan surat ke rumah yang ternyata melebihi kesenangan pada saat hari pertama Larasati masuk sekolah. Suami Sulastri yang mengetahui bahwa cinta Sulastri ternyata bukan untuknya kemudian meninggal lebih cepat daripada Sulastri.

Menerima surat dari Jaya ternyata tidak membuat Sulastri membalas langsung surat dari Jaya. Pikir Sulastri saat itu ialah, jika Sulastri mengirimkan satu saja surat balasan kepada Jaya dengan isi misalnya: bahwa Sulastri sudah menikah dan memiliki satu anak, maka bisa dipastikan Jaya tidak akan lagi mengirimkan surat kepada Sulastri selama-lamanya. Hal ini yang membuat Jaya terus mengirimkan surat kepada Sulastri tanpa tahu surat tersebut diterima atau tidak. Setelah 136 surat sudah dikirimkan Jaya kepada Sulastri, Jaya akhirnya menyerah dan menganggap Sulastri memang tidak menerima surat-suratnya itu.

###
Film ini memberikan kita sebuah realita yang jarang masyarakat Indonesia bahas mengenai kehidupan setelah peristiwa G30SPKI usai. Film ini yang memberikan kita kenyataan tentang kondisi eksil (orang-orang yang tidak bisa kembali ke negaranya karena sebuah alasan) seperti misalkan, tidak semua eksil itu komunis, dan betapa berat kehidupan para eksil setelah dibuang dari tanah airnya sendiri. Menggali beberapa hal sejarah dari negara ini perlu kita lakukan bersama sebagai generasi muda agar pengalaman pahit seperti ini di Indonesia tak terulang kembali. Angga D. Sasongko sang sutradara film ini, seperti yang dikutip Artharini (2016) menyebutkan bahwa walaupun kisah cinta dalam cerita ini merupakan sebuah cerita rekaan yang dibuat berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan, fakta sejarah serta konsekuensi yang mengikuti bangsa Indonesia yang menjadi dasar dari film ini perlu diketahui serta didalami oleh para generasi muda. Malah kedepannya sineas Indonesia ditantang oleh Angga untuk membuat film yang lebih substanstif dari tema ini dan langsung masuk ke akar cerita.

Wargadiredja (2017) menyebutkan bahwa dengan adanya kejadian G30SPKI ini membuat Indonesia kehilangan satu generasi intelektual Indonesia. Dahulu, Presiden Sukarno telah bercita-cita untuk membangun bangsa Indonesia yang mandiri dengan menyiapkan pemuda-pemuda pilihan untuk belajar di beberapa negara blok Timur. Mereka diberikan beasiswa untuk belajar beberapa hal seperti ilmu teknik, ekonomi, sinematografi, sastra, musik dan lain-lain. Jaya yang ada dalam film ini pun diberikan beasiswa untuk belajar teknik nuklir di Ceko. Namun, karena ketakutan rezim Orde Baru terhadap intelektual-intelektual yang loyal terhadap Sukarno membuat Indonesia gagal untuk memulangkan salah satu generasi intelektualnya untuk membangun negeri. Kata mereka yang Orde Baru, para intelektual muda inilah yang akan membangun serta menjalankan kembali sistem pemerintahan ala bung Karno jika kembali ke Indonesia.

Bagaimana kemudian kabar para eksil pada zaman ini? Kabar yang ditulis Tirto.id (Dhani, 2016) menyebutkan ada yang sudah meninggal dunia dengan tanpa kewarganegaraan, ada yang masih berjuang di negaranya dengan penghidupannya masing-masing dan ada yang masih berjuang untuk diterima kembali menjadi warga negara Indonesia.

Sebuah hal menarik yang saya temui dari film ini ialah idealisme kuat para tokoh eksil yang digambarkan mengenggam penuh apa yang dibelanya tanpa adanya sebuah penyesalan. Apalagi dengan kondisi mereka sebagai oposisi di zaman itu, mengenggam keyakinan yang bertentangan dengan pihak penguasa akan menyebabkan mereka kehilangan segalanya yang mereka punya termasuk nyawa mereka. Tapi kebanyakan mereka, seperti kata Jaya dalam film ini, “Tidak ada penyesalan untuk menolak Orde Baru. Itu dilakukan dengan sadar.”

Barangkali jika ada yang perlu disesali para eksil ialah adalah mereka tidak bisa mengabdikan ilmunya untuk Indonesia, tempat orang-orang yang mereka cintai. Khususnya untuk Jaya yang sangat menyesal dan sangat takut jika ia mengecewakan Sulastri, seorang gadis yang sangat ia cintai sejak dulu sebelum kepergiannya ke Praha

###

 

 

….

….
Kadang hidup memang lebih sering berisi apa yang tidak kita inginkan, dan kita seakan-akan dipaksa masuk ke dalamnya, merasa tak punya pilihan. Hingga satu-satunya pilihan ialah kita sendiri.
….
….
Aku hanya berharap waktu dan perjalanan dapat menyembuhkan luka,
dan memadamkan segala kemarahan.

Kutipan balasan surat Sulastri dalam surat terakhir untuk Jaya

 

 

Depok, 11 Februari 2018
Dimas Prabu Tejonugroho

Referensi:

Artharini, I. (2016, February). Komunis atau bukan: Indonesia kecil dalam kisah para eksil. Retrieved from Elshinta.com: http://elshinta.com/news/45940/2016/02/02/komunis-atau-bukan-indonesia-kecil-dalam-kisah-para-eksil

Dhani, A. (2016, March). Yang Terasing dan Dipinggirkan, Kisah Pilu Eksil di Pengasing. Retrieved from Tirto.id: https://tirto.id/yang-terasing-dan-dipinggirkan-kisah-pilu-eksil-di-pengasing-tZH

Wargadiredja, A. T. (2017, September). Gestapu Menghapus Satu Generasi Intelektual Indonesia. Retrieved from Vice.com: https://www.vice.com/id_id/article/pakmpn/gestapu-menghapus-satu-generasi-intelektual-indonesia

 

Advertisements

Menjawab Kritisnya Para “Manusia yang Cerdas dan Bandel secara Intelektual”

Selama saya berkuliah kurang lebih sekitar 4,5 tahun di kampus, saya sering sekali ditugaskan untuk melaksanakan bantuan asistensi kepada adik-adik tingkat saya di beberapa matakuliah jurusan di kampus. Seperti biasa, asistensi ini bertujuan untuk menyiapkan peserta agar mereka mampu mengerti alur berpikir dan alur pemecahan masalah dari satu matakuliah yang mereka ambil selama satu semester sehingga para peserta mampu melaksanakan soal UTS atau UAS yang diberikan dosen dengan baik. Biasanya asistensi ini saya lakukan bersama teman-teman asisten dari lab.

Ada cerita menarik yang saya alami di pertengahan tahun 2014 (April) pada saat saya ditugaskan untuk mengampu sebuah asistensi matakuliah untuk adik-adik tingkat saya. Dalam asistensi ini, saya diminta untuk mengajar kurang lebih 40-50 mahasiswa yang berada dalam satu matakuliah yang sama. Untuk memudahkan, saya dan teman-teman asisten membagi diri dengan beberapa masalah untuk didiskusikan dan juga dibahas.

Pada saat saya memaparkan dan membahas beberapa soal, ada seorang adik tingkat saya yang betul-betul sangat kritis sekali dalam mempertanyakan segala metode dan alat kerja yang saya gunakan untuk menyelesaikan soal tersebut. Saking kritisnya, waktu yang diberikan untuk saya yang seharusnya digunakan untuk menjelaskan kepada mahasiswa yang lain ternyata habis untuk menjelaskan satu soal tersebut kepada anak ini.

Mengapa menurut saya hal ini menjadi menarik? Karena sepanjang saya memberikan asistensi di kampus saya, jarang sekali ada mahasiswa atau adik tingkat saya yang benar-benar menaruh perhatian penuh terhadap beberapa persoalan yang kami didiskusikan. Kebanyakan dari mereka mungkin hanya angguk-angguk saja saat ada tentor atau dosennya menjelaskan, tapi jarang sekali ada orang yang betul-betul mengkritisi dari beberapa hal yang disampaikan. Suasana pembelajaran yang awalnya redup dengan bentuk satu arah penyampaian, kini menjadi terbuka dua arah karena adanya tanggapan dari peserta. Saya sebagai pengajar merasakan lebih hidup dan lebih banyak menyampaikan materi, sementara adik tingkat saya ini juga merasa lebih banyak yang dia bisa pahami. Baru saat itulah, saya merasakan “kebebasan budaya ilmu di kampus” yang digembor-gemborkan di kampus itu ada.

Setahun berselang setelah asistensi tersebut, si adik tingkat saya yang kritis ini alhamdulillah masuk menggantikan posisi saya sebagai asisten lab.


Sensei Edi Sukur dalam Rapat Kerja Nasional MITI KM di tahun 2016 pernah menyampaikan terkait hukum 80:20 atau hukum Pareto. Seperti yang dikatakan seorang ekonom asal Italia yang bernama Wilfred Pareto, hukum Pareto menggambarkan sebuah fenomena alam bahwa: “yang sedikit itulah yang memiliki banyak” atau “yang sedikit kuantitasnya itulah yang memiliki kualitas lebih“. Bisa kita ambil contohnya hukum Pareto ini seperti dalam beberapa hal di kehidupan kita.

Dalam bidang makroekonomi, 20% rakyat di sebuah negara ternyata merupakan pemilik 80% kekayaan di negara tersebut. Dalam bidang sales di sebuah perusahaan, ternyata 20% dari pelanggannya yang bertanggungjawab menghasilkan 80% keuntungan di perusahaan tersebut. Dalam analisa perencanaan persediaan (logistic management), kita mengenal bahwa adanya produk-produk tertentu (dari sekian banyak produk kita) yang jika dijual akan memiliki nilai keuntungan yang paling besar jika misalkan kita jual produk tersebut dalam jumlah sedikit saja. Dalam melihat sebuah organisasi bisa kita perhatikan saat ini, ternyata hanya 20% pengurus dari sebuah organisasi yang memberikan impak 80% di hasil organisasinya tersebut.

Dan juga dalam melihat bakat dan keahlian manusia, bisa kita lihat ternyata sedikit memang orang-orang yang memiliki sesuatu bakat atau kemampuan yang lebih dibandingkan manusia-manusia lainnya.

Adik tingkat saya ini yang saya ceritakan di awal cerita ini menurut saya adalah salah satu orang yang masuk dalam 20% tadi. Kelebihannya dalam mengkritisi persoalan dan kemampuannya dalam beretorika menurut saya merupakan bukti bahwa ia adalah “seseorang yang cerdas dan sekaligus bandel dalam intelektual” (meminjam istilah pak Andika Saputra, seorang dosen Arsitektur UMS)

Seseorang seperti ia ini menurut saya, akan menjadi sebuah orang yang spesial jika dapat kita arahkan dalam hal yang benar. Saya jujur bisa melihat kemampuannya ini jika diasah dapat membantu jalannya prestasi penelitian atau bahkan dakwah di masyarakatnya. Dalam perspektif saya, orang-orang yang cerdas sekaligus bandel secara intelektual ini hanya dapat diarahkan jika kita memahami alur pikirannya, menyamakan perspektif dia dengan kita, sekaligus mengarahkannya dengan hal-hal yang benar perlahan-lahan berdasarkan pemahamannya. Artinya kita memahaminya lewat argumentasi-argumentasi yang tersusun dalam diskusi. Tidak bisa kita serta merta langsung tabrak dengan logika kita. Karena pada nyatanya saat kita tabrak langsung seseorang langsung terhadap kepercayaannya, ia akan merasakan kekhawatiran, ancaman, ketakutan dan bahkan penolakan dengan hadirnya kita. Kita akan langsung memaksakan ancaman padanya.

Saat ini saya miris melihat kasus seorang remaja SMA bernama Afi Nihaya Faradisa yang Facebooknya sempat tidak bisa dibuka akibat menyebarkan beberapa “pesan-pesan inspiratif” yang mungkin bertabrakan dengan beberapa pendapat yang umum di kelompok masyarakat. Pada saat membaca tulisannya tentang keberagaman, saya memang merasa tak setuju dengan tulisannya. Namun, pada saat itu saya bersyukur karena di negeri ini sudah muncul satu orang lagi yang cerdas sekaligus bandel dalam intelektualnya. Banned akun media sosial bukan menjadi solusi bagi saya untuk membimbing orang seperti dik Afi ini. Saya lebih mengharapkan adik kita Afi ini dapat dibimbing oleh dengan baik oleh orang yang memahami ghazwul fikri yang benar lewat jalur diskusi atau berargumentasi.

Atau tidak, saran saya adalah iqro! Cobalah membaca Al Qur’an yang menjelaskan kisah nabi yang mencari Tuhan-Nya seperti di kisah Ibrahim dan Musa!

Sebagai alternatif juga, coba cari tulisan atau buku Buya Hamka yang bercerita tentang proses manusia mencari Tuhannya. Seingat saya, dalam buku Pendidikan Agama Islam dan Pandangan Hidup Muslim, Hamka bercerita pula tentang besarnya nikmat manusia serta besarnya alam semesta ini sebagai anugerah yang luar biasa untuk manusia.

Karena itu sejatinya iman bukan warisan. Karena manusia paham betapa besarnya nikmat yang Allah swt berikan padanya (dan ia juga tak mungkin membalasnya satu-satu persatu kecuali dengan menggunakan nikmat Tuhannya), maka ia secara sepenuh hati menyerahkan dirinya (aslama) menjadi seorang Muslim. Inilah pokok diin yang sesungguhnya. Menjadi seorang Islam.

Saya juga sebagai alumni Universitas Telkom (Tel-U) yang juga berkecimpung di dakwah kampus, saat ini miris dan sekaligus khawatir tentang perkembangan komunisme di kampus tercinta. Menurut berita yang saya kutip dari BBC Indonesia [1], Tel-U baru saja menskorsing mahasiswanya akibat mempropagandakan komunisme lewat buku-buku. Saya sepakat bahwa penyebaran paham komunisme itu dilarang di dalam kampus (dan memang seharusnya dicegah), tapi dimanakah peran aktivis dakwah kampus Tel-U dalam menyikapi hal ini? Bagaimana peran peer-to-peer antara mahasiswa kampus yang berfungsi untuk mencegah teman mahasiswanya berperilaku salah? Apa memang saat ini aktivis dakwah kampus memang masih terkotak-kotakkan dalam sebuah eksklusivitas yang tak mungkin bisa dijangkau oleh mahasiswa lain?

Saya sebetulnya ingin menyindir diri saya pribadi dan juga aktivis dakwah kampus di kampus saya tercinta dengan status Facebook dari pak Andika Saputra ini:

#
Lah yo kalau sekarang pegiat dakwah kampus justru mabuk dengan segala hal berbau pernikahan; yang dibaca buku soal pernikahan, yang diobrolkan soal pasangan hidup dan yang diadakan seputar kajian pranikah, apa iya mereka mampu mendakwahi kalangan mahasiswa-kritis yang kesehariannya lekat dengan Karl Marx, F. Nietzsche, M. Foucault hingga R. Dawkins?

Di sinilah terjadi keterpisahan antara pegiat dakwah kampus yang saya maksud dalam tulisan ini dengan kalangan mahasiswa-kritis yang dikenal cerdas sekaligus bandel dalam intelektual. Yang berdakwah tidak (mau) mengenali dan tidak berkenan meleburkan diri dalam komunitas yang dianggapnya salah jalan dan tersesat. Di sisi lain, mahasiswa-kritis tersebut pun tidak berkenan mendekatkan diri dengan komunitas dakwah kampus karena dipandang sekedar komunitas ‘menye-menye’ yang tidak mampu berdialektika pemikiran dengan mereka.
Kalau pegiat dakwah kampus tidak menyasar kalangan mahasiswa-kritis, lalu siapa yang merangkul mereka dan mengakrabkan mereka dengan Islam?
#

Betul-betul saya harus istigfar, karena diri ini masih belum mampu menarik gerbong-gerbong kemaslahatan yang lebih luas di kampus.

Karena itu bagi pegiat dakwah Ilmiy di kampus. Mari kita berbenah dan juga melihat sekeliling.

Apakah kita sudah menerapkan saran gurunda kita pak H.O.S Cokroaminoto dalam berjuang? [2]

#
Setinggi-tinggi ilmu, hingga rakyat saat itu membuka mata bahwa kolonialisme dan feodalisme bukan kondisi final yang ideal. Keluar dari rasa nyaman yang terlanjur tertanam di benak priyayi-priyayi Jawa yang dibuai politik etis Belanda, dan petani yang tenang-tenang saja.

Semurni-murni tauhid, sehingga pelaku dan penerus kebangkitan selalu takut akan azab Allah jika khianat dalam amanahnya menjalankan negeri ini. Seperti Umar bin Khattab ra. yang ditanya “Kenapa engkau tidak menghias Ka’bah dengan sutera?” dan menjawab “Perut orang mukmin lebih utama.”

Sepintar-pintar siasat, sehingga cita-citanya itu beliau wujudkan dalam wadah organisasi strategis, yang beliau setia kepadanya hingga akhir hayatnya, tak lupa mewarisi cita-citanya kepada generasi penerusnya.
#


seorang mantan mahasiswa yang pernah nyambi nyari duit di 2 laboratorium keilmuan di kampus, sambil sedikit nge-hangout 3 tahun lamanya dengan bro-bro di lembaga dakwah kampus

Dimas Prabu Tejonugroho

Sumber :
[1] BBC Indonesia. Mahasiswa dihukum karena buku kiri: ‘Paranoid akibat ketidaktahuan’. Diakses 1 Juni 2017

[2] https://astrinuristyami.wordpress.com/2013/08/19/setinggi-tinggi-ilmu-semurni-murni-tauhid-sepintar-pintar-siasat-h-o-s-tjokroaminoto/

Ketidaksempurnaan dalam Kesempurnaan

Siapa yang tidak kenal Captain Tsubasa? Seorang tokoh dari sebuah komik yang diciptakan oleh Yoichi Takahashi ini menceritakan tentang seorang anak laki-laki bernama Tsubasa yang berjuang meraih cita-citanya membawa Jepang menjuarai Piala Dunia.

Perjuangan Tsubasa meraih cita-cita tersebut tidaklah mudah. Perjuangannya tersebut membuat Captain Tsubasa menjadi sebuah cerita yang sangat menarik sehingga menginspirasi beberapa anak kecil seperti Fernando Torres dan Hidetoshi Nakata untuk memulai karier mereka sebagai pesepakbola.

Sejak awal mula ceritanya, tokoh-tokoh dalam Captain Tsubasa selalu bermain dengan teknik yang mahadahsyat. Tokoh-tokoh Captain Tsubasa diceritakan sejak awal sebagai tokoh yang superpower yang memiliki teknik-teknik super dan kemampuan yang luar biasa lainnya.

Tengoklah Tsubasa sendiri. Tsubasa sebagai tokoh utama mempunyai beberapa teknik seperti flying drive shot, sky drive shot, overhead kick dan lain sebagainya.

Selain memiliki teknik yang luar biasa, ternyata Tsubasa pun mampu untuk mengkopi teknik orang lain menjadi tekniknya sendiri.

Sebut saja pada saat Tsubasa melawan Stefan Levin di pertandingan perempat final World Youth. Dikarenakan salah satu defender Jepang terluka akibat menerima tembakan “pistol” Levin yang bertubi-tubi, Tsubasa kemudian melakukan 7 rainbow feint dan tembakan pistol yang merupakan teknik khas Levin untuk membalas dendamnya. Namun, ternyata Tsubasa memang orang baik. Teknik Lewin itu hanya digunakan untuk memenangkan pertandingan, bukan untuk melukai lawan.

Berbagai prestasi Tsubasa kemudian tercantum dalam komik ini. Setelah menjuarai liga anak-anak di Jepang, Tsubasa pindah ke Brasil dan menjadi pemain profesional di sebuah klub ternama Brasil yaitu Sao Paulo. Belum cukup sampai itu, Tsubasa kemudian diceritakan menjadikan Jepang juara dunia di turnamen Piala Dunia Yunior dan juga di World Youth. Tsubasa kemudian pindah ke Barcelona FC dan kemudian memimpin timnya dalam bersaing di La Liga. Kini cerita Tsubasa beralih ke perjuangan Jepang menaklukan Olimpiade Madrid dan Piala Dunia 2002.

**********
Captain Tsubasa memang sebuah karya Yoichi Takahashi yang mendunia. Tapi, jarang ada orang yang tahu bahwa Yoichi Takahashi memiliki sebuah karya komik sepakbola lainnya yang bernama Hungry Heart .

Hungry Heart berkisah tentang seorang siswa SMA yang menyukai sepakbola bernama Kano Kyosuke. Kyosuke baru saja pindah ke pindah ke sebuah sekolah bernama Jyojo.

Kano Kyosuke ini mempunyai seorang kakak bernama Kano Seisuke yang merupakan seorang pemain besar kebanggaan Jepang. Sejak kecil Kyosuke dan Seisuke selalu berlatih bersama, namun karena Seisuke baru saja ditransfer ke klub besar Italia AC Milan banyak orang mulai membandingkan antara permainan mereka.

Karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya tersebut, rasa suka Kyosuke terhadap sepakbola semakin berkurang.

Baru ketika di Jyojo itu Kyosuke bertemu dengan seorang gadis bernama Tsujiwaki Miki, yang mengembalikan cintanya dan sukanya kepada sepakbola.

Kemudian dengan Kansuke bergabung di tim sepakbola Jyojo, maka Jyojo menjadi sebuah tim underdog penuh kejutan yang mengalahkan tim tim besar.

Berbeda dengan Captain Tsubasa, cerita Hungry Heart adalah cerita yang lebih realistis. Beberapa kali Kansuke menerima kekalahan dalam pertandingan sepakbolanya. Namun, kekalahan ini ia bayar dalam tahun berikutnya. Kansuke pun akhirnya dikontrak menjadi salah satu pemain klub besar Eropa bernama Ajax.

*******************
Sebagai seorang komikus yang mempunyai karya mendunia, Yoichi Takahashi selalu ditunggu untuk melanjutkan serial cerita Captain Tsubasa nya dibandingkan cerita komik Hungry Heart. Namun, ternyata sangat sulit sekarang bagi Yoichi Takahashi untuk melanjutkan kisah Tsubasa.

Sesuai pengakuan Takahashi pada tahun 2000-an di sebuah media, sulit ternyata bagi Takahashi untuk kesempurnaan cerita Tsubasa yang selalu memenangkan pertandingan dan pertandingan lainnya.

Karena image Tsubasa selalu sempurna, maka apapun cerita tentang Tsubasa seharusnya menjadi sempurna. Ini yang kemudian menjadi jebakan dari kesempurnaan Tsubasa.

Suatu plot cerita Captain Tsubasa baru-baru ini adalah Tsubasa yang tidak mengikuti pertandingan akibat sibuknya mengikuti pertandingan di liga Eropa atau dipaksa “cedera parah”. Mengenai cedera parah ini memang tidak disebutkan mengapa Tsubasa mengalami cedera parah, namun karena cederanya tersebut membuat Barcelona menjadi sebuah tim yang dapat dikalahkan.

Lihatlah cerita tim Olimpiade Jepang pada saat mereka ditinggal Tsubasa. Dengan tidak adanya Tsubasa yang sedang sibuk bermain di Eropa, membuat Jepang sempat kalah oleh Australia dan nyaris tersingkir di babak penyisihan Olimpiade.

Beruntung pada pertandingan terakhir antara Jepang dan Australia, Taro Misaki memberikan sentuhan permainan cerdas sehingga Jepang berhasil menang telak atas Australia.

Jika dahulu Tsubasa dianggap menarik karena Tsubasa selalu sempurna, kali ini untuk melanjutkan sebuah kisah Tsubasa ternyata pengarangnya sendiri harus membuat Tsubasa “kalah” atau “tidak mampu”.

 

Takahashi pada suatu wawancara mengatakan bahwa ia lebih mudah dan tertarik untuk melanjutkan serial Hungry Heart. Karena tokoh utama dari serial Hungry Heart sudah pernah kalah, maka untuk membuat tokoh utama menjadi kalah menjadi sangat mungkin sekali.

Alur ceritanya mampu untuk dibuat lebih banyak, dan juga jalan ceritanya pun juga bisa romantis. Namun sayang, serial Hungry Heart tidak dilanjutkan akibat demand yang besar dari pembaca untuk melanjutkan Tsubasa.

Ini membuat saya berpikir ternyata manusia butuh juga yang namanya “kalah”, “gagal”, “mengambil risiko”, dan hal-hal yang tidak enak lainnya.

Mengapa hidup manusia harus seperti itu? Jelas, kalau tidak ada seperti itu hidup manusia tidak akan seru!

Kalau kita lihat dan pikirkan : mengapa ada permainan yang menguji adrenalin seperti jet coaster, bungee jumping dan lain sebagainya? Karena saya rasa manusia ingin merasakan rasa takutnya sendiri dengan aman.

Jadi dengan permainan yang menguji adrenalin tersebut, melawan dan berjuang dengan rasa takut ini kemudian seperti sebuah rekreasi dan penyegaran.

Bahwa terlepas dari rasa takut adalah merupakan kemenangan sendiri dari rasa bosan dan juga rasa jenuh akan kehidupan sehari-hari.


Bagi saya, kehidupan itu ibaratnya kita bermain game. Adakalanya kita menang, dan adakalanya kita kalah. Yang tidak sempurna terkadang mencari yang lebih sempurna, dan yang sempurna kadang malah mencari ketidaksempurnaan.

Jadi ingatlah walaupun kamu menang, jangan lupa saat kamu masih berada di bawah.

Apalagi saat kamu kalah, selalu ingat bagaimana caranya untuk bangkit menuju menang.

Makanya permainan hidup itu tidak seru bagi para gamer yang sukanya main save-load.

Tahu gamer yang sukanya main save-load itu seperti apa? Itu lho yang setelah kalah ngulang lagi buat new game atau mengulang game dengan save yang lama.

Memangnya kamu yakin setelah kamu gagal dan mati, kamu bisa kembali restart atau bikin new life untuk kedua kalinya seperti game?

Depok, 20 Maret 2017

Dimas Prabu Tejonugroho

  • yang sedang menikmati dan mencoba hidup dengan bumbu-bumbu penyedap nan penuh risiko

cropped-dsc1048.jpg

Hidup ialah untuk menunaikan kewajiban. Hidup ialah untuk menunaikan kewajiban.

Jadi, bunuh diri ialah sebuah dosa yang besar dan maksiat yang paling hebat. Bunuh diri adalah bukti dari kita memungkiri hidup dan memungkiri kewajiban yang kita pikul sebagai seorang manusia. Bunuh diri adalah tindakan pengecut yang tak bertanggungjawab. Nyawa yang dibinasakan bukan hanya nyawa sendiri, akan tetapi nyawa masyarakat. Hilanglah sebuah kelengkapan masyarakat dari hilangnya satu nyawa..

Bolehkah orang bunuh diri karena pikirannya berkerut karena banyak masalah yang tidak dapat diselesaikannya? Tidak! Karena hidup ini bukan untuk bersenang-senang. Jangan sampai kita takut memakan yang pahit, karena cuma tahu manisnya. Kalau tidak manis, janganlah kemudian mengeluh, merajuk hingga menghilangkan nyawa.

Bolehkah seorang mahasiswa bunuh diri karena dia tidak lulus dalam ujian? Tidak! Karena tidak lulus dalam ujian ialah ujian juga. Mengapa kita putus asa dalam lantaran kita tidak berdiploma atau bersarjana, padahal bukan itu tempat bergantung di kemudian hari? Ribuan dan bahkan berjuta orang memperoleh diploma atau sarjana, namun tak lulus ujiannya dalam masyarakat.

Menambah ilmu penting, tetapi yang lebih penting menuntun kekuatan pikiran itu menurut jalan yang betul. Karena bukanlah dengan semata-mata banyak ilmu saja manusia berharga. Yang lebih penting adalah hasil kekuatan pikiran yang telah berilmu itu. Coba perhatikan bagaimana pentingnya penemuan tentang mesin listrik, radio, televisi dan lain-lain; bukanlah itu hasil kepandaian menggunakan ilmu, pandai menimbang dan kuat pula pikiran?

Bila orang bodoh ialah orang yang kurang akal, bila orang kejam adalah orang yang tidak punya rasa kasihan, maka orang yang tidak punya kemauan adalah orang yang tidak patut diberi nama manusia lagi.

Mengapa orang yang tidak punya kemauan tidak patut dianggap manusia lagi? Karena ia tidak tahu bagaimana cara hendak berdiri dalam perjuangan hidup. Padahal ia memiliki pertolongan cukup, kekuatan cukup, dan lapangan kerja luas. Namun, ia tidak mau menempuhnya seraya menggali lubang menuju akhir hidupnya sendiri.

Descartes berkata, “Tidak ada suatu keadaan yang lebih lekat kepada diri manusia melebihi kemauannya”. Ditambahkan lagi oleh Schopenhauer, bahwa hakikatnya seluruh hidup itu adalah kemauan.

Bagaimana kita mencapai kemauan itu? Setengahnya ada pada keberanian. Berani menjaga kehormatan diri. Berani untuk menjauhi dari keinginannya menghadapi perkara yang merendahkannya. Tidak mau perilakunya menjadi rendah karena itulah yang menghilangkan kemauannya.

Setengah dari kemauan itu juga kekuatan dan percaya diri. Ingat bahwa kepercayaan akan membawa kemenangan. Betapapun besarnya rintangan, akan mampu dihadapi kalau yang menempuhnya itu mempunyai hati yang tenang dan sabar.

Bagaimana kita menjalankan kemauan itu? Singkatnya untuk menjalankan kemauan itu, tiap orang harus merdeka. Merdeka yang dimaksudkan itu ialah:

Tidak merampas atau menyinggung kemerdekaan orang lain. Karena tiap-tiap manusia terkekang oleh undang-undang dan hukum pergaulan hidup.

  • Tidak putus asa nya ia karena keras hati menuju cita-cita yang besar. Tidak tergeserpun karena satu halangan, baik karena rintangan musuh atau rintangan ketakutan. Dikerjakan suatu kewajiban yang dirasakan hatinya, bukan karena upah, tapi karena itu yang diperintahkan hatinya.
  • Tiada takut menderita karena melaksanakan kewajiban. Tidak takut menyembunyikan kebenaran, walaupun banyak orang yang akan benci.
  • Tidak ditipu oleh kemasyuran dan pujian. Tidak membebek dan mengangguk menurut kata orang lain. Ia berkata karena hatinya yang berkata dan diam karena hatinya berkata diam.
  • Hormat pada dirinya dan sanggup memikul risiko dan bertanggungjawab. Dirinya tegak sendiri dan berdiri sendiri, bukan dibawah pengaruh orang lain. Kuat akan tetapi tidak sombong. Kemauannya kuat karena kuat keyakinannya.

Lalu bagaimanakah saat kita mengalami sebuah keraguan di dalam hati saat melakukan pekerjaan? Lekas kerjakan sesuatu yang dikehendaki dan sanggup dilakukan! Berhasilnya orang dalam pekerjaan itu karena dikerjakan sambil ditimbang, bukan ditimbang tapi tidak kerja!

Disarikan dari kalimat-kalimat dalam buku Lembaga Hidup, karya Prof. Dr. Hamka. Dibagikan dalam sebuah grup WA di bulan Juni 2016

Membangun Budaya Organisasi

Budaya organisasi yang dominan dan sejalan dengan visi, misi dan dimensi organisasi serta selaras dengan tuntuan lingkungan akan mengarahkan individu di organisasi tersebut memberi kinerja yang terbaik untuk organisasi mereka.


Tulisan ini saya sampaikan di grup Whatsapp ODOJ MITI MJR SJS 7 dalam kuliah Whatsapp harian pada tanggal 9 Januari 2017.

Lewat kulsap pagi ini, saya ingin berbagi tentang sebuah konsep strategi manajemen sumber daya manusia yang saya pelajari selama saya mengerjakan kuliah tugas akhir di S1 Teknik Industri, Universitas Telkom.

Konsep yang saya bagi pagi hari ini adalah tentang “membangun budaya organisasi”. Tema ini menarik bagi saya, karena pada setiap organisasi yang selalu saya ikuti pasti selalu ada permasalahan atau intrik dalam membangun individu agar sesuai dengan budaya organisasi yang ia anut. Budaya organisasi ini juga merupakan sebuah tema yang sering dibahas pada kuliah-kuliah di Psikologi Industri dan juga pada kuliah di magister manajemen.

Mengapa kita harus membangun budaya organisasi yang baik di organisasi kita? Karena fungsi budaya sendiri itu adalah mengarahkan. Budaya organisasi yang dominan dan sejalan dengan visi, misi dan dimensi organisasi serta selaras dengan tuntuan lingkungan akan mengarahkan individu di organisasi tersebut memberi kinerja yang terbaik untuk organisasi mereka.

Jadi bisa diibaratkan, budaya organisasi ini adalah penekan bagi setiap individu agar mampu berfungsi sebagaimana yang diinginkan organisasi untuk meraih tujuan mereka.

Bagaimana budaya organisasi ini bekerja? Untuk menjelaskan ini, saya mencuplik sebuah teori dari Hofstede yang mengatakan bahwa budaya itu adalah sebuah mental programming (pemrograman mental).

Kata mbah Hofstede, otak manusia itu seperti komputer. Mengalami proses pemrograman baik disadari atau tidak disadari. Akan tetapi berbeda dengan komputer, manusia dapat menolak suatu pemrograman. Karena manusia memiliki akal dan juga nilai dasar yang diyakini masing-masing.

Sebagai contohnya, karyawan sebuah perusahaan yang memiliki nilai dominan pada nilai “relationship” (hubungan antar manusia) saat bekerja. Dia terkadang akan sulit menerima nilai “task oriented” (orientasi tugas) yang dibudayakan pada perusahaan lain yang mengadopsi nilai tersebut. Karena itu penting bagi organisasi untuk menerima seseorang yang dapat dibentuk sesuai tujuan organisasi tersebut agar bisa memajukan organisasi tersebut sesuai value yang dianutnya.

Tak usah jauh-jauh menengok perusahaan atau organisasi lain untuk menengok adanya perbedaan nilai dasar pada setiap manusia. Kita tengok organisasi yang kita ikuti saja.

Seperti contoh saya berikan kasus di organisasi lembaga dakwah kampus yang saya ikuti, yaitu Al Fath Universitas Telkom. Tanpa disadari atau tidak dalam agenda PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru), biasanya kita menyasar para adik-adik mahasiswa untuk diajak masuk dalam organisasi kita. Atau kita ajak orang-orang yang setidaknya sudah mempunyai value yang sama-sama kita anut untuk masuk ke dalam organisasi kita (contoh : anak-anak Rohis SMA).

Mengapa kita menyasar orang-orang seperti itu? Karena adik-adik mahasiswa tersebut  itu genuine, maka mereka bisa mudah dibentuk nilai-nilainya lewat pemrograman mental yang kita bentuk. Karena anak-anak Rohis SMA tersebut mereka sudah terbentuk sesuai dengan value kita, maka akan lebih mudah kita arahkan sesuai budaya organisasi kita. Ini juga sama halnya seperti sebuah perusahaan lebih suka menerima lulusan yang fresh graduated, karena mereka bisa dibentuk.

Nah, sekarang bagaimana kita membangun budaya organisasi di tempat kita? Sebelumnya saya ingin menjelaskan bagaimana kita membangun budaya organisasi, saya ingin terlebih dahulu menjelaskan elemen-elemen dari budaya organisasi agar kita semua tahu apa yang kita bangun.

Edgar Schein, seorang maestro dari konsep budaya organisasi ini pernah bersabda bahwa ada tiga elemen budaya organisasi.

  1. Artefak (Artifacts) merupakan bagian dari budaya perusahaan yang paling luar dan tampak. Ia dapat diamati baik oleh para karyawan dan juga oleh pihak luar. Tidak jarang artefak dipilih dipilih dan dimunculkan agar pihak internal organisasi atau pihak eksternal organisasi mempersepsikannya sebagai nilai yang ingin ditanam.

Berbagai contoh artefak adalah lambang-lambang dan berbagai benda yang dalam organisasi, seperti : logo, slogan, warna, dan bahasa.

Sebagai contoh artefak dari ODOJ MITI MJR SJS adalah slogannya : “Malam jadi Rahib, Siang jadi Singa”. Logonya pun menyerupai slogannya dengan munculnya lambang singa.

  1. Values berarti nilai-nilai yang kasat mata. Artinya nilai-nilai ini terletak pada ranah “bawah sadar manusia” yang secara tidak langsung mempengaruhi perilaku seseorang. Nilai-nilai ini biasanya terbentuk dari kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus.

Values sendiri dalam penerapan di budaya organisasi terbagi dua : Espoused values (nilai yang diharapkan), dan enacted values (nilai yang sudah ada)

Jika kita ingin mengubah budaya suatu organisasi, hal pertama yang kita perlu analisis adalah enacted values. Jadi, apa saja nilai-nilai yang sudah ada dalam diri anggota organisasi kita? Bagaimana mereka menerapkannya? Analisis ini bisa melalui kuisoner atau wawancara mendalam dengan anggota organisasi kita.

Setelah kita analisis enacted values, berikutnya yang harus kita analisis adalah espoused values. Espoused values ini perlu kita definisikan lebih lanjut secara operasional dengan dikaitkan dengan perilaku-perilaku organisasi yang ingin kita bentuk lewat mental programming yang kita jalankan. Biasanya kemudian nilai-nilai ini kita definisikan dalam the do’s dan juga the don’t. The do’s artinya hal-hal yang harus atau wajib anggota organisasi itu lakukan, dan the don’t artinya hal-hal yang tidak boleh anggota organisasi tersebut itu lakukan. Biasanya do dan don’t ini terdapat dalam aturan dan standar operasional organisasi.

Saya berikan contoh dalam organisasi lembaga dakwah kampus, terdapat sebuah nilai yang ingin kita budayakan yaitu “Lebih Dekat dan Lebih Bersahabat”. Nilai tersebut kemudian didefinisikan dalam  the do’s menjadi sebuah prinsip 6S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun, Semangat) yang wajib dipatuhi oleh setiap anggotanya. The don’t nya ya kemudian berarti perilaku-perilaku yang berkebalikan dengan hal-hal tersebut.

Selain mendefinisikan perilaku-perilaku yang ingin kita bentuk, tugas kita sebagai leader atau manajemen sebuah organisasi adalah mengupayakan nilai-nilai ini masuk dalam tingkatan operatif. Artinya nilai-nilai ini tanpa harus diingatkan oleh kita sudah bisa dijalankan oleh anggota organisasi kita.

  1. Asumsi dasar (basic assumptions) adalah filosofi yang dianut seseorang atau sekelompok orang yang mempengaruhi pola piker, perasaan, emosi, mental-set mereka. Karena ia filosofi, maka letaknya jauh berada di dalam “kognitif” manusia yang dibentuk dalam waktu yang relatif panjang.

Jika sekelompok karyawan memiliki asumsi dasar bahwa kerja keras dan kejujuran adalah kunci keberhasilan maka nilai-nilai yang mereka anut adalah kerja keras dan kejujuran. Namun, dapat dibayangkan jika asumsi dasar para karyawan adalah bekerja didasari oleh pilihan yaitu memanipulasi atau dimanipulasi, maka nilai yang mereka anut adalah unfair competition.

Jadi, membangun budaya organisasi pada hakikatnya adalah membangun elemen-elemen budaya organisasi ini agar sesuai dengan visi, misi dan tujuan organisasi.

Setelah kita mengetahui adanya elemen-elemen budaya organisasi ini, kita juga harus mengetahui fungsi pemimpin dalam membangun budaya organisasi.

Fungsi pemimpin atau khalifah ini sangat penting karena ialah yang menggerakkan anggota organisasinya mencapai visi, misi yang diharapkan organisasi. Pemimpin juga setidaknya harus mampu menjalankan atau mencontohkan elemen-elemen budaya organisasi yang sudah ia bentuk kepada anggota organisasinya agar anggotanya bisa dan merasa harus untuk mengikuti. Disinilah ada sebuah keharusan bagi seorang pemimpin untuk bisa memberikan keteladanan bagi para anggotanya.

Berbagai ahli di bidang psikologi industry menyebutkan satu tipe leadership yang seharusnya menjadi focus kita bersama. Tipe leadership itu ialah tipe “transformational leadership”.

Transformational leadership adalah leader yang memiliki visi jauh kedepan, mengkomunikasikannya, dan memberi contoh untuk mentransformasi anggotanya.

Maka, dalam hal ini saya juga menasehati diri saya sendiri, bahwa menjadi pemimpin seharusnya menjadi teladan bagi yang lain. Karena itu, sangat penting bagi pemimpin untuk menjaga sikap dan kata-katanya. Sebagaimana quote yang saya dengar dari seorang jenderal di Indonesia-> “Perkataan seorang pemimpin itu ialah setengah dari kebijakannya”. Itulah yang harus kita cermati dan sadari saat menjadi pemimpin untuk menjaga kata-kata kita.

 

<img src="http://path-mkgapi.kakao.com/dn/path_classic/moment_photos/04dada0f-da50-4a04-823c-0b51751794f9/original.jpg" />
Ada yang mau hasil olahan singkong ini? 😂

Tim GoPanganLokal MITI KM Jabaja pada dua hari ini sedang melakukan community development ke Desa Dungus, Rangkasbitung, Banten.

Salah satu agenda hari ini adalah lomba inovasi pangan lokal yang melibatkan ibu-ibu Desa Dungus dengan singkong sebagai bahan utamanya.

Kami percaya, sedikit yang kami lakukan di desa ini akan membantu kemandirian pangan Indonesia di masa yang akan datang.

#GPLKontributif
View on Path