Jasad yang Terganti (Film Review:Self/Less)

 

selfless

Disaat nyawa manusia bisa terus hidup sampai kekal nantinya, jasad manusia sendiri tidak abadi. (mortal). Pada suatu saat nanti, jasad tidak bisa menghidupi nyawa, karena jasad sudah tidak bisa lagi mendukung apa yang dibutuhkan oleh nyawa. Penggantian jasad menjadi problem solving dalam film ini agar manusia bisa hidup abadi walaupun dia akhirnya sudah sakit-sakitan dan menua. Namun, walau jasad mampu tergantikan, ternyata hati dan perasaan sebagai manusia tak mampu tergantikan.

Self/Less

science-fiction-thriller; 117 minutes; Rating IMDb :6,5/10

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan nama. Ya, manusia pada suatu saat nanti pasti akan mati meninggalkan dunia yang fana menuju keabadian alam berikutnya. Tidak ada harta yang dibawa, dan tiada pula tahta yang bisa dibawa. Hanyalah amal perbuatan yang bisa dibawa.

Tiada ada manusia yang bisa lolos dari kematian. Kematian akan menyerang pada waktunya, walaupun manusia itu sudah berlindung dibalik benteng yang tinggi, meminta perlindungan dari hal lain di dunia ataupun lari dari pahitnya kenyataan. Bahkan Rasulullah saw sendiri pernah berkata bahwa manusia akan melalui banyak cara untuk mencapai kematian nantinya. Hanya saja jika manusia sudah lolos dari banyak macam cara mencapai kematian itu, manusia tidak akan lolos dari satu cara mencapai kematian yang terakhir. Cara mencapai kematian yang paling akhir itu adalah “menjadi tua”.

Tua sendiri merupakan keniscayaan, bahwa jasad manusia tidak bisa bertahan selamanya di dunia. Jasad manusia memiliki waktunya (lifetime) sendiri. Disaat nyawa manusia bisa terus hidup sampai kekal nantinya, jasad manusia sendiri ‘mortal’ atau tak bisa abadi. Pada suatu saat, jasad tidak bisa menghidupi nyawa, karena jasad sudah tidak bisa lagi mendukung apa yang dibutuhkan oleh nyawa.

Nah, film ini menceritakan sebuah ide bagaimana manusia bisa hidup abadi walaupun dia akhirnya sudah sakit-sakitan dan menua? Jawabannya ialah penggantian jasad.

Ide awal film ini sebenarnya adalah bagaimana ide atau kejeniusan orang bisa bertahan, walaupun jasad orang tersebut sudah tidak bisa digunakan. Bayangkan jika Einstein atau Edison bisa hidup abadi atau bisa hidup lebih lama lagi, berapa banyak ide-ide jenius mereka yang bisa mereka ciptakan untuk dunia? Live Longer to Greater Good for the World. Begitulah kira-kira impian yang ada di film ini.

Film ini bercerita tentang seorang pengusaha kaya raya nan cerdas yang bernama Damian Hale. Hale merupakan seorang laki-laki yang sudah mendapatkan apapun yang dia inginkan di dunia ini. Dengan usahanya yang diusahakan sejak masih masa muda untuk membangun imperium bisnisnya, Hale sudah mendapat harta yang banyak, jabatan yang tinggi, dan seorang anak perempuan yang sehat. Namun seperti manusia yang lain, Hale menghadapi masa tuanya dengan penyakit-penyakit yang ada dalam jasadnya. Obat-obatan pun akhirnya menjadi penyambung hidupnya untuk menghadapi penyakit-penyakitnya itu.

Dengan vonis dokter yang menyatakan hidupnya tinggal 6 bulan lagi karena kanker, Hale tiba-tiba mendapatkan sebuah kartu nama asing tentang seseorang yang bernama Profesor Albright. Albright kemudian menawarkan Hale agar bisa hidup abadi (atau lebih lama) dengan menggunakan metode radikal ilmiah yang ia kembangkan bernama ‘shedding’ (peluruhan). Metode shedding ini berfungsi untuk memindahkan nyawa Hale ke sebuah tubuh lelaki muda yang baru, sehat, six pack (Yes, bukan Prenagen), sehingga Hale bisa hidup lebih lama lagi dan hidupnya pun lebih berkualitas.

Namun dengan berpindahnya Hale ke tubuh yang baru, Albright mengingatkan bahwa Hale akan kehilangan seluruh hidupnya yang lama. Dia akan kehilangan identitasnya yang lama sebagai seorang jutawan, direktur perusahaan dan seorang ayah. Hale sendiri akan kembali ke dunia menjadi orang muda yang baru, dengan identitas yang baru.

Setelah penyakitnya dirasa semakin kronis dan ia tidak mampu bertahan, akhirnya Hale mengambil jalan ‘shedding’ untuk mempertahankan hidupnya di dunia. Albright kemudian mengatur agar Hale terlihat ‘mati’ di lingkungan yang mengenalnya. Setelah itu, seluruh dunia kini mengetahui bahwa Damian Hale sudah meninggal dunia dan mewariskan segala yang ia punya untuk orang lain. Namun, mereka tidak tahu Hale sebenarnya masih hidup dengan identitas dan tubuh yang baru.

Damian Hale kemudian hidup dengan tubuh yang baru dan juga tinggal di tempat tinggal yang baru. Dengan memiliki sebuah tubuh yang baru, Hale menikmati segala kesenangan lebih yang ia tidak bisa dapatkan dengan tubuhnya yang lama. Berkawan, berpesta, dan berfoya-foya menjadi kegiatannya setiap hari. Tapi, semua itu berubah ketika Hale tiba-tiba jatuh pingsan di rumahnya dengan mengalami sebuah halusinasi yang sangat hebat tentang gambaran sebuah rumah dimana ada seorang anak dan juga seorang wanita didalamnya.

Halusinasi ini disebabkan karena Hale lupa meminum obatnya seperti yang dianjurkan Albright. Ya, ternyata shedding memiliki efek samping tersendiri dalam beberapa jangka waktu kehidupan Hale yang baru. Dengan tubuh yang baru tersebut, Hale harus meminum sebuah obat rutin dari Albright yang akan mempertahankan nyawa Hale di dalam tubuhnya yang baru. Ibaratnya kata Albright, seperti saat seorang manusia menerima organnya yang baru, ia harus meminum obat tertentu agar tubuhnya bisa menerima organnya yang baru tersebut. Albright kemudian membawa obat tersebut dengan jumlah yang lebih banyak dan menganjurkan Hale untuk meminum obat itu dalam dosis yang lebih banyak. Albright lalu mengatur agar Hale pergi ke Hawaii untuk beristirahat dengan tenang melupakan halusinasinya.

Tapi seiring waktu, Hale sadar bahwa halusinasinya itu bukan halusinasi biasa. Halusinasi itu seperti membawa ia ke dalam sebuah memori dan mengarahkannya ke sebuah tempat. Tempat yang dikunjungi Hale akhirnya bukan Hawaii, namun tempat yang ditunjukkan di dalam memorinya tersebut.

Saat mendatangi tempat dalam memorinya tersebut, Hale sangat terkejut saat menemukan rumah, anak dan wanita di dalam halusinasinya itu benar-benar ada. Bahkan Hale tambah terkejut saat sang wanita dan sang anak mengidentifikasi Hale sebagai suami dan ayah mereka yang sudah lama meninggal. Ternyata baru diketahui, jika tubuh Hale yang baru ini milik seseorang yang lain yang bernama Mark. Mark sendiri merupakan seorang suami dan ayah dari keluarganya yang terpaksa menjual dirinya kepada Albright agar bisa menyelamatkan anaknya yang diketahui sedang sakit parah dan membutuhkan biaya tinggi untuk pengobatannya. Setelah anaknya sehat, istri dan anak Mark hanya tahu bahwa Mark sekarang sudah meninggal pergi dari dunia fana.

Hale yang tidak terima bahwa hidup yang ia jalani sekarang merupakan hasil dari pengorbanan nyawa orang lain, lalu memprotes perlakuan Albright terhadap Mark. Pertikaian antara Albright dan Hale ini yang menyebabkan baku tembak antara Hale dan orang-orang Albright yang membuat Hale harus pergi menyelamatkan diri sambil membawa istri dan anak Mark. Istri Mark yang akhirnya mengetahui bahwa suaminya tersebut secara rohnya bukan Mark, marah dan terpaksa mengikuti kata-kata Hale demi keselamatan dirinya dan anaknya. Kini keluarga Mark harus lari dan bersembunyi mengikuti Hale sambil mencari kebenaran realita yang sebenarnya tentang Mark.

Di saat pengejaran tersebut, secara otomatis Hale tidak mendapatkan suplai obat dari Albright. Saat obat tersebut sudah habis dan halusinasi Hale semakin menjadi-jadi, diketahui bahwa obat yang diminum Hale itu berfungsi untuk mempertahankan nyawa Hale didalam tubuh Mark. Jika Hale sudah berhenti meminum obat itu dalam waktu lama, maka nyawanya sendiri dalam tubuh Mark tersebut akan menghilang dan nyawa Mark akan muncul kembali dalam tubuhnya yang lama. Itu berarti sebenarnya Mark tetap hidup dalam tubuh lamanya, namun Mark akan hidup jika Hale berhenti ‘menumpang tubuh lama Mark’ dengan berhenti meminum obat tersebut. Akhirnya dibawah ancaman pistol Hale di sebuah scene, Albright memberikan suplai obat terakhir untuk Hale. Albright mengatakan bahwa dirinya alasan Hale bisa hidup lebih lama didunia ini. Sehingga jika Hale membunuh Albright, maka jangan harap Hale masih ada di dunia ini.

Saat menyadari kondisinya semakin tidak aman untuk dia dan keluarga Mark, Hale akhirnya pergi ke rumah seorang sahabat karibnya yang bernama Martin untuk meminta pertolongan. Martin inilah sahabat baik Hale yang membantu Hale dalam membangun imperium bisnisnya yang terdahulu. Hale meminta Martin agar mengungsikan keluarga Mark ke Karibia agar tidak dibunuh oleh Albright. Martin kemudian setuju, dan menyiapkan segalanya agar keluarga Mark bisa pergi ke Karibia tanpa diketahui Albright.

Disaat proses-proses pengungsian itulah, Hale bertemu dengan Tony, anak dari Martin yang seharusnya sudah meninggal 2 tahun yang lalu, dalam jasad anak kecil yang berbeda. Dalam scene inilah diketahui bahwa Martin ternyata menghidupkan kembali anaknya dengan bantuan Albright. Martin juga yang memberikan kartu nama Albright kepada Hale secara diam-diam agar Hale bisa hidup lebih lama. Martin kemudian menjelaskan bahwa rasa cintanya kepada anaknya yang menyebabkan dia membutuhkan Albright. Martin juga menjelaskan bahwa ia tidak ingin kehilangan Hale sebagai teman baiknya. Pada akhirnya, Martin tidak bisa menolong Hale karena orang-orang Albright sudah menunggu untuk menyergap Hale. Keluarga Mark berhasil diculik dan dibawa oleh Albright ke tempat laboratoriumnya.

Demi mencari tempat laboratorium Albright, Hale memutuskan untuk berhenti untuk meminum obat untuk sementara waktu. Karena lepasnya pengaruh obat tersebut, Hale kembali berhalusinasi dalam pikirannya dan mencari memori Mark terdahulu yang menunjukkan tempat laboratorium Albright. Setelah menemukan laboratorium tersebut, Hale bergegas menyelamatkan keluarga Mark.

Seperti akhir bahagia yang ditunjukkan pada film-film action Hollywood, Hale akhirnya berhasil menyelamatkan keluarga Mark dan membunuh Albright. Keluarga Mark kemudian diungsikan ke Karibia dan tetap tinggal bersama Hale. Setelah itu, Hale memutuskan untuk tidak meminum obat Albright selamanya sehingga Mark akan kembali kembali mengisi jasad yang ditinggalkan Hale. Hale kemudian mati, dan Mark yang merasa sudah -tertidur sangat lama-, kembali bangkit dan berkumpul bersama keluarganya di Karibia.

Beberapa poin penting yang saya lihat dari film ini adalah:

Pertama, terkait pandangan pembuat film mengenai konsep kematian sendiri. Bagi saya jujur, sangat kurang ajar saat melihat sains akhirnya bisa menggantikan peran Tuhan dalam mencabut dan memberikan nyawa kepada sebuah jasad manusia, walau akhirnya mekanismenya tidak sempurna (Let’s see, nyawa Anda tergantung obat yang harus selalu Anda minum). Tapi terlihat disini bagaimana persepsi pembuat film atau orang Barat sendiri dalam menghadapi kematian. Kematian dianggap sebagai ancaman terbesar bagi mereka, karena mereka tidak meyakini adanya akhirat dibalik matinya seorang manusia. Karena itu, sebagai seorang Muslim yang mempercayai bahwa adanya hari akhir dan juga akhirat, kita harus tetap berusaha dan yakin bahwa kematian pasti datang pada kita, dan kita harus tetap berusaha untuk meraih hasil di akhirat kita kelak.

Kedua, masih terkait dengan kematian lagi. Disini saya coba untuk meninjau perilaku berbagai manusia yang galau dan kalut saat sedang menghadapi masalah kematian. Ada yang tidak rela saat ditinggalkan orang yang dia sayang (Martin dengan anaknya Tony), ada yang ingin mengulangi hidupnya lagi karena ingin berusaha lebih baik dengan hidupnya yang baru (Hale), dan ada juga manusia yang rela mati berkali-kali karena dia tahu dia akan hidup kembali di dunia ini (anak buah Albright). Ini seperti mengulangi beberapa penjelasan dalam ayat Al Qur’an tentang kematian:

 “(Demikianlah keadaan orang orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” (Q.S Al Mu’minun ayat 99-100)

Ketiga, tentang Damian Hale dan ide awal film ini yaitu ‘sebuah kejeniusan yang bisa bertahan walaupun jasad sudah tiada’. Saya rasa sebenarnya tanpa perlu shedding sekalipun, Damian Hale bisa saja untuk menurunkan bakat-bakat bisnis dan ‘kejeniusannya’. Karena apa? Karena Hale adalah seorang ayah yang memiliki seorang anak.

Tapi dalam film ini digambarkan bahwa Hale tidak mampu melakukannya. Dalam beberapa dialog dengan putrinya dapat tergambarkan bahwa putrinya tidak mendapatkan cukup perhatian dari ayahnya untuk berkembang sebagaimana mestinya. Bisnisnya yang sangat besar membuat putrinya tidak cukup mendapatkan kasih sayang dari ayahnya, apalagi setelah diketahui bahwa Damian Hale telah berpisah dengan istrinya. Putrinya sendiri hanya beranggapan bahwa bukti cinta ayahnya ada pada uang yang selalu dikirimkan, padahal putrinya menginginkan lebih daripada hanya sekedar uang.

Saya rasa disini Hale telah gagal menjadi seorang ‘pengkader’ yang baik karena ia hanya membangun artefaknya saja, bukan membangun value yang seharusnya ada dalam diri seorang anak. Karena itu, mari kita belajar agar kita membangun anak dari ‘dalam’ dia sendiri sehingga sang anak bisa mengenal value yang kita turunkan kepada mereka secara sempurna.

@thedimasprabu – 2015

 

Advertisements

Berikan Komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s