Islam : Ad-Diin Satu-Satunya di Dunia

Pencarian manusia akan Tuhan bersamaan dengan pencarian manusia terhadap agama. Agama dan Tuhan tidak bisa terpisah karena secara tidak langsung agama menyediakan jalan untuk manusia agar mampu mengenal Tuhannya.

Pokok utama dari agama adalah menyediakan sebuah jalan pengenalan untuk manusia berupa jalan hidup, tuntunan perilaku dan juga cara pandang manusia mengenai alam semesta. Oleh karena itu, indikator pertama dan paling utama dalam beragama yang utuh dan lengkap adalah mengakui adanya Tuhan dan aturan dan juga jalan yang ditetapkan Tuhan.

Istilah agama sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu, a-gama. Istilah pertama a-gama ini berarti ‘tidak’ (a) dan ‘kacau’ (gama).  Dalam arti bahasa Sansekerta ini,  bisa dikatakan agama adalah pencegah dari kacau dalam diri manusia. Manusia yang seringkali lepas dari fitrahnya sendiri dalam pengertian ini, dikendalikan oleh agama. Agama berfungsi sebagai peraturan dan juga pencegah dari kacaunya tindakan dan perilaku manusia dalam bertindak dan berusaha. Oleh karena itu, agama menjadi patokan dalam kehidupan manusia.

Dalam beberapa definisi lain menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama adalah ‘sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya’. Sedangkan agama dalam istilah bahasa Inggris adalah ‘religion’, atau berasal dari kata dasar dalam bahasa Latin ‘religio’ yang berarti mengikat. Arti menurut istilah religion ini adalah bahwa agama adalah pengikat bagi diri manusia.

Dalam definisi yang ditetapkan Islam, agama dinyatakan dengan istilah ad-din. Din sendiri berarti ‘hutang’ dalam bahasa Indonesia[1]. Dikatakan sebagai hutang adalah karena manusia akan selalu berhutang kepada Tuhannya.

Manusia selalu berhutang karena Tuhannya lah yang menjadikan dirinya ada dari tiada, menciptakan dirinya dengan sebaik-baiknya tanpa diri manusia itu sendiri yang memerintahkan segala isi dalam diri manusia itu untuk bekerja dengan baik dan benar, dan menciptakan berbagai kenikmatan lain yang manusia sendiri tidak bisa menghitungnya satu persatu. Karena manusia itu ada, maka rasa syukur dan berterimakasih dari manusia itu yang membuat manusia harus mengenal dan menyembah Tuhan.

Konsep ad-din menyatakan juga walaupun manusia selalu berusaha untuk membayar hutang tersebut, Allah akan selalu membalasnya lagi dengan nikmat yang jauh lebih besar dan jauh lebih baik daripada sebelumnya. Inilah yang menyebabkan hutang manusia menjadi tidak bisa terbayar oleh dirinya sendiri. Bahkan semua jalan dan cara untuk membayar hutang yang dimiliki oleh manusia itu juga merupakan kepunyaan dari Allah swt.

Inilah yang membuat manusia harus menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Allah swt untuk membayarnya. Penyerahan manusia secara total ini yang menjadi tujuan utama dari ad-din. Totalitas penyerahan diri manusia ini yang dengan senang hati dan rela ini merupakan dasar untuk percaya atau menjadi dasar untuk beriman. Kepercayaan tersebut tentu diraih dari perjalanan akal manusia yang sudah mencari dengan pemikiran dan pengetahuannya sehingga akal manusia tersebut tahu mengapa dia harus percaya. Tingkatan perjalanan akal dan pengetahuan yang dipakai ini yang pada akhirnya membuat tinggi martabat Iman (percaya) dan Islam (penyerahan) pada diri seseorang.

Ad din sendiri tidak bermakna hanya untuk Islam saja sebenarnya. Akan tetapi, Islam adalah ad din yang sebenarnya karena ditujukan kepada hambanya yang mampu untuk menggunakan fungsi akalnya dalam mengenal Allah swt. Akal ini yang menjadi pembeda dari pemahaman orang-orang yang sudah merasa menyerahkan diri sepenuhnya dengan Allah swt, akan tetapi tidak menyerahkan dirinya sepenuhnya dengan aturan dan juga tuntutan yang digariskan oleh Allah swt.

Islam berarti ketundukan, penyerahan dan mengikuti hanya kepada Allah swt. Ketundukan dengan penyerahan diri sepenuh hati tersebut membuat tiada yang lain selain Allah swt. Inilah yang tidak dipahami oleh orang-orang yang tidak menggunakan akal dan pemikirannya untuk memikirkan apa yang dibalik dari setiap nikmat dan juga keindahan yang dia miliki dan lihat di bumi ini.

Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan ini diakibatkan konsep Islam yang hanya bersandar kepada sumber-sumber yang utama yaitu Al-Qur’an dan hadits. Kesempurnaan ini yang tidak dimiliki oleh agama dan kepercayaan yang lain yang sumbernya selalu berubah-ubah tergantung alam dan perkembangan pemikiran manusia. Patokan dalam kesempurnaan ini yang menjadikan untuk menjadi sempurna dan baik dalam Islam, maka kembalilah ke asal pemikiran atau asas yang dahulu ditetapkan. Bukan mengubahnya sesuai akal dan perkembangan pemikiran manusia. Karena akal dan pemikiran manusia memiliki kelemahan yaitu tidak bisa menjangkau hal-hal yang metafisika serta kadang dapat bisa rusak diakibatkan rusaknya perilaku dan penurutan diri akal terhadap hawa nafsu. Oleh karena itu, pengembalian manusia kepada Islam, menjadi hal yang mutlak untuk mencapai kesempurnaan diri yang digariskan dalam ad din.

[1] Prof. Naqib Al Attas. Islam dan Sekularisme.

*Tulisan ini ditulis untuk penugasan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Indonesia Tanpa JIL Chapter Bandung Angkatan Pertama yang dilaksanakan bulan Maret – Juli 2015

Advertisements

Berikan Komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: