cropped-dsc1048.jpg

Hidup ialah untuk menunaikan kewajiban. Hidup ialah untuk menunaikan kewajiban.

Jadi, bunuh diri ialah sebuah dosa yang besar dan maksiat yang paling hebat. Bunuh diri adalah bukti dari kita memungkiri hidup dan memungkiri kewajiban yang kita pikul sebagai seorang manusia. Bunuh diri adalah tindakan pengecut yang tak bertanggungjawab. Nyawa yang dibinasakan bukan hanya nyawa sendiri, akan tetapi nyawa masyarakat. Hilanglah sebuah kelengkapan masyarakat dari hilangnya satu nyawa..

Bolehkah orang bunuh diri karena pikirannya berkerut karena banyak masalah yang tidak dapat diselesaikannya? Tidak! Karena hidup ini bukan untuk bersenang-senang. Jangan sampai kita takut memakan yang pahit, karena cuma tahu manisnya. Kalau tidak manis, janganlah kemudian mengeluh, merajuk hingga menghilangkan nyawa.

Bolehkah seorang mahasiswa bunuh diri karena dia tidak lulus dalam ujian? Tidak! Karena tidak lulus dalam ujian ialah ujian juga. Mengapa kita putus asa dalam lantaran kita tidak berdiploma atau bersarjana, padahal bukan itu tempat bergantung di kemudian hari? Ribuan dan bahkan berjuta orang memperoleh diploma atau sarjana, namun tak lulus ujiannya dalam masyarakat.

Menambah ilmu penting, tetapi yang lebih penting menuntun kekuatan pikiran itu menurut jalan yang betul. Karena bukanlah dengan semata-mata banyak ilmu saja manusia berharga. Yang lebih penting adalah hasil kekuatan pikiran yang telah berilmu itu. Coba perhatikan bagaimana pentingnya penemuan tentang mesin listrik, radio, televisi dan lain-lain; bukanlah itu hasil kepandaian menggunakan ilmu, pandai menimbang dan kuat pula pikiran?

Bila orang bodoh ialah orang yang kurang akal, bila orang kejam adalah orang yang tidak punya rasa kasihan, maka orang yang tidak punya kemauan adalah orang yang tidak patut diberi nama manusia lagi.

Mengapa orang yang tidak punya kemauan tidak patut dianggap manusia lagi? Karena ia tidak tahu bagaimana cara hendak berdiri dalam perjuangan hidup. Padahal ia memiliki pertolongan cukup, kekuatan cukup, dan lapangan kerja luas. Namun, ia tidak mau menempuhnya seraya menggali lubang menuju akhir hidupnya sendiri.

Descartes berkata, “Tidak ada suatu keadaan yang lebih lekat kepada diri manusia melebihi kemauannya”. Ditambahkan lagi oleh Schopenhauer, bahwa hakikatnya seluruh hidup itu adalah kemauan.

Bagaimana kita mencapai kemauan itu? Setengahnya ada pada keberanian. Berani menjaga kehormatan diri. Berani untuk menjauhi dari keinginannya menghadapi perkara yang merendahkannya. Tidak mau perilakunya menjadi rendah karena itulah yang menghilangkan kemauannya.

Setengah dari kemauan itu juga kekuatan dan percaya diri. Ingat bahwa kepercayaan akan membawa kemenangan. Betapapun besarnya rintangan, akan mampu dihadapi kalau yang menempuhnya itu mempunyai hati yang tenang dan sabar.

Bagaimana kita menjalankan kemauan itu? Singkatnya untuk menjalankan kemauan itu, tiap orang harus merdeka. Merdeka yang dimaksudkan itu ialah:

Tidak merampas atau menyinggung kemerdekaan orang lain. Karena tiap-tiap manusia terkekang oleh undang-undang dan hukum pergaulan hidup.

  • Tidak putus asa nya ia karena keras hati menuju cita-cita yang besar. Tidak tergeserpun karena satu halangan, baik karena rintangan musuh atau rintangan ketakutan. Dikerjakan suatu kewajiban yang dirasakan hatinya, bukan karena upah, tapi karena itu yang diperintahkan hatinya.
  • Tiada takut menderita karena melaksanakan kewajiban. Tidak takut menyembunyikan kebenaran, walaupun banyak orang yang akan benci.
  • Tidak ditipu oleh kemasyuran dan pujian. Tidak membebek dan mengangguk menurut kata orang lain. Ia berkata karena hatinya yang berkata dan diam karena hatinya berkata diam.
  • Hormat pada dirinya dan sanggup memikul risiko dan bertanggungjawab. Dirinya tegak sendiri dan berdiri sendiri, bukan dibawah pengaruh orang lain. Kuat akan tetapi tidak sombong. Kemauannya kuat karena kuat keyakinannya.

Lalu bagaimanakah saat kita mengalami sebuah keraguan di dalam hati saat melakukan pekerjaan? Lekas kerjakan sesuatu yang dikehendaki dan sanggup dilakukan! Berhasilnya orang dalam pekerjaan itu karena dikerjakan sambil ditimbang, bukan ditimbang tapi tidak kerja!

Disarikan dari kalimat-kalimat dalam buku Lembaga Hidup, karya Prof. Dr. Hamka. Dibagikan dalam sebuah grup WA di bulan Juni 2016

Advertisements

Berikan Komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s