Ketidaksempurnaan dalam Kesempurnaan

Siapa yang tidak kenal Captain Tsubasa? Seorang tokoh dari sebuah komik yang diciptakan oleh Yoichi Takahashi ini menceritakan tentang seorang anak laki-laki bernama Tsubasa yang berjuang meraih cita-citanya membawa Jepang menjuarai Piala Dunia.

Perjuangan Tsubasa meraih cita-cita tersebut tidaklah mudah. Perjuangannya tersebut membuat Captain Tsubasa menjadi sebuah cerita yang sangat menarik sehingga menginspirasi beberapa anak kecil seperti Fernando Torres dan Hidetoshi Nakata untuk memulai karier mereka sebagai pesepakbola.

Sejak awal mula ceritanya, tokoh-tokoh dalam Captain Tsubasa selalu bermain dengan teknik yang mahadahsyat. Tokoh-tokoh Captain Tsubasa diceritakan sejak awal sebagai tokoh yang superpower yang memiliki teknik-teknik super dan kemampuan yang luar biasa lainnya.

Tengoklah Tsubasa sendiri. Tsubasa sebagai tokoh utama mempunyai beberapa teknik seperti flying drive shot, sky drive shot, overhead kick dan lain sebagainya.

Selain memiliki teknik yang luar biasa, ternyata Tsubasa pun mampu untuk mengkopi teknik orang lain menjadi tekniknya sendiri.

Sebut saja pada saat Tsubasa melawan Stefan Levin di pertandingan perempat final World Youth. Dikarenakan salah satu defender Jepang terluka akibat menerima tembakan “pistol” Levin yang bertubi-tubi, Tsubasa kemudian melakukan 7 rainbow feint dan tembakan pistol yang merupakan teknik khas Levin untuk membalas dendamnya. Namun, ternyata Tsubasa memang orang baik. Teknik Lewin itu hanya digunakan untuk memenangkan pertandingan, bukan untuk melukai lawan.

Berbagai prestasi Tsubasa kemudian tercantum dalam komik ini. Setelah menjuarai liga anak-anak di Jepang, Tsubasa pindah ke Brasil dan menjadi pemain profesional di sebuah klub ternama Brasil yaitu Sao Paulo. Belum cukup sampai itu, Tsubasa kemudian diceritakan menjadikan Jepang juara dunia di turnamen Piala Dunia Yunior dan juga di World Youth. Tsubasa kemudian pindah ke Barcelona FC dan kemudian memimpin timnya dalam bersaing di La Liga. Kini cerita Tsubasa beralih ke perjuangan Jepang menaklukan Olimpiade Madrid dan Piala Dunia 2002.

**********
Captain Tsubasa memang sebuah karya Yoichi Takahashi yang mendunia. Tapi, jarang ada orang yang tahu bahwa Yoichi Takahashi memiliki sebuah karya komik sepakbola lainnya yang bernama Hungry Heart .

Hungry Heart berkisah tentang seorang siswa SMA yang menyukai sepakbola bernama Kano Kyosuke. Kyosuke baru saja pindah ke pindah ke sebuah sekolah bernama Jyojo.

Kano Kyosuke ini mempunyai seorang kakak bernama Kano Seisuke yang merupakan seorang pemain besar kebanggaan Jepang. Sejak kecil Kyosuke dan Seisuke selalu berlatih bersama, namun karena Seisuke baru saja ditransfer ke klub besar Italia AC Milan banyak orang mulai membandingkan antara permainan mereka.

Karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya tersebut, rasa suka Kyosuke terhadap sepakbola semakin berkurang.

Baru ketika di Jyojo itu Kyosuke bertemu dengan seorang gadis bernama Tsujiwaki Miki, yang mengembalikan cintanya dan sukanya kepada sepakbola.

Kemudian dengan Kansuke bergabung di tim sepakbola Jyojo, maka Jyojo menjadi sebuah tim underdog penuh kejutan yang mengalahkan tim tim besar.

Berbeda dengan Captain Tsubasa, cerita Hungry Heart adalah cerita yang lebih realistis. Beberapa kali Kansuke menerima kekalahan dalam pertandingan sepakbolanya. Namun, kekalahan ini ia bayar dalam tahun berikutnya. Kansuke pun akhirnya dikontrak menjadi salah satu pemain klub besar Eropa bernama Ajax.

*******************
Sebagai seorang komikus yang mempunyai karya mendunia, Yoichi Takahashi selalu ditunggu untuk melanjutkan serial cerita Captain Tsubasa nya dibandingkan cerita komik Hungry Heart. Namun, ternyata sangat sulit sekarang bagi Yoichi Takahashi untuk melanjutkan kisah Tsubasa.

Sesuai pengakuan Takahashi pada tahun 2000-an di sebuah media, sulit ternyata bagi Takahashi untuk kesempurnaan cerita Tsubasa yang selalu memenangkan pertandingan dan pertandingan lainnya.

Karena image Tsubasa selalu sempurna, maka apapun cerita tentang Tsubasa seharusnya menjadi sempurna. Ini yang kemudian menjadi jebakan dari kesempurnaan Tsubasa.

Suatu plot cerita Captain Tsubasa baru-baru ini adalah Tsubasa yang tidak mengikuti pertandingan akibat sibuknya mengikuti pertandingan di liga Eropa atau dipaksa “cedera parah”. Mengenai cedera parah ini memang tidak disebutkan mengapa Tsubasa mengalami cedera parah, namun karena cederanya tersebut membuat Barcelona menjadi sebuah tim yang dapat dikalahkan.

Lihatlah cerita tim Olimpiade Jepang pada saat mereka ditinggal Tsubasa. Dengan tidak adanya Tsubasa yang sedang sibuk bermain di Eropa, membuat Jepang sempat kalah oleh Australia dan nyaris tersingkir di babak penyisihan Olimpiade.

Beruntung pada pertandingan terakhir antara Jepang dan Australia, Taro Misaki memberikan sentuhan permainan cerdas sehingga Jepang berhasil menang telak atas Australia.

Jika dahulu Tsubasa dianggap menarik karena Tsubasa selalu sempurna, kali ini untuk melanjutkan sebuah kisah Tsubasa ternyata pengarangnya sendiri harus membuat Tsubasa “kalah” atau “tidak mampu”.

 

Takahashi pada suatu wawancara mengatakan bahwa ia lebih mudah dan tertarik untuk melanjutkan serial Hungry Heart. Karena tokoh utama dari serial Hungry Heart sudah pernah kalah, maka untuk membuat tokoh utama menjadi kalah menjadi sangat mungkin sekali.

Alur ceritanya mampu untuk dibuat lebih banyak, dan juga jalan ceritanya pun juga bisa romantis. Namun sayang, serial Hungry Heart tidak dilanjutkan akibat demand yang besar dari pembaca untuk melanjutkan Tsubasa.

Ini membuat saya berpikir ternyata manusia butuh juga yang namanya “kalah”, “gagal”, “mengambil risiko”, dan hal-hal yang tidak enak lainnya.

Mengapa hidup manusia harus seperti itu? Jelas, kalau tidak ada seperti itu hidup manusia tidak akan seru!

Kalau kita lihat dan pikirkan : mengapa ada permainan yang menguji adrenalin seperti jet coaster, bungee jumping dan lain sebagainya? Karena saya rasa manusia ingin merasakan rasa takutnya sendiri dengan aman.

Jadi dengan permainan yang menguji adrenalin tersebut, melawan dan berjuang dengan rasa takut ini kemudian seperti sebuah rekreasi dan penyegaran.

Bahwa terlepas dari rasa takut adalah merupakan kemenangan sendiri dari rasa bosan dan juga rasa jenuh akan kehidupan sehari-hari.


Bagi saya, kehidupan itu ibaratnya kita bermain game. Adakalanya kita menang, dan adakalanya kita kalah. Yang tidak sempurna terkadang mencari yang lebih sempurna, dan yang sempurna kadang malah mencari ketidaksempurnaan.

Jadi ingatlah walaupun kamu menang, jangan lupa saat kamu masih berada di bawah.

Apalagi saat kamu kalah, selalu ingat bagaimana caranya untuk bangkit menuju menang.

Makanya permainan hidup itu tidak seru bagi para gamer yang sukanya main save-load.

Tahu gamer yang sukanya main save-load itu seperti apa? Itu lho yang setelah kalah ngulang lagi buat new game atau mengulang game dengan save yang lama.

Memangnya kamu yakin setelah kamu gagal dan mati, kamu bisa kembali restart atau bikin new life untuk kedua kalinya seperti game?

Depok, 20 Maret 2017

Dimas Prabu Tejonugroho

  • yang sedang menikmati dan mencoba hidup dengan bumbu-bumbu penyedap nan penuh risiko
Advertisements

Berikan Komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s