Terusir

29370077
Penulis: Prof. Dr. Hamka
Penerbit : Gema Insani
Tahun: 2016
Halaman : 132 halaman

Sejak kecil, Sofyan tak pernah mengenal siapa ibunya. Ayahnya bernama Azhar selalu berkata bahwa ibunya sudah pergi entah berada di mana. Sofyan kecil yang tak pernah mengenal kasih sayang ibunya, memendam sebuah rasa rindu untuk segera bertemu dengan ibunya. Sampai akhirnya, Sofyan menerima bahwa ibunya takkan kembali padanya.
Continue reading “Terusir”

Advertisements

Setia Antara Dua Zaman

145145858188609_300x430.jpg
Surat dari Praha (Diambil dari 21cineplex.com)

 

 

Judul Film : Surat Dari Praha
Genre : Drama/Romantic
Durasi Film : 94 menit
Sutradara: Angga D. Sasongko
Main Cast: Tyo Pakusadewo, Julie Estelle, Widyawati, Rio Dewanto, Chicco Jerikho

 

“Kamu pikir kehadiranmu bisa menggantikan semua? Apa yang sudah direnggut dari saya? Hidup saya, tanah air saya, cinta saya? Kamu pikir mudah hidup sebagai sarjana nuklir tapi bekerja sebagai janitor, puluhan tahun, puluhan tahun? Dan terlibat dengan perempuan yang saya tak ketahui jejaknya?”

Jaya

###
Setelah setahun lamanya pergi meninggalkan rumah, Larasati (Julie Estelle) datang kembali menemui ibunya bernama Sulastri (Widyawati) untuk meminjam sertifikat rumah. Ditengah Sulastri yang sedang terbaring sakit di rumah sakit, Larasati memaksa ibunya menyerahkan sertifikat rumah untuk dijual agar mampu membiayai perceraiannya dengan suaminya (Chicco Jerikho) yang telah berselingkuh dengan perempuan lain disaat Larasati hamil dua bulan. Kabar perceraian dan permintaan yang sangat mengagetkan dari Larasati tersebut membuat Sulastri sangat sedih. Hingga beberapa saat kemudian, Sulastri meninggalkan dunia untuk selamanya.

Rumah Sulastri kemudian diwariskan kepada Larasati, anak Sulastri satu-satunya. Namun, rumah tersebut akan diberikan pada Larasati jika Larasati mengantarkan sebuah kotak beserta sepucuk surat kepada seseorang yang berada di Praha, Ceko yang kemudian dibuktikan dengan selembar surat tanda terima.

Larasati pikir wasiat ibunya itu akan mudah untuk dijalankan. Namun, hal tersebut menjadi sulit setelah Jaya (Tyo Pakusadewo), seorang pria tua yang menjadi tujuan pengiriman kotak beserta sepucuk surat tersebut, menolak mentah-mentah barang peninggalan Sulastri. Jaya kemudian mengusir Larasati untuk segera pergi dari rumahnya. Larasati mengatakan kepada Jaya bahwa ia akan tetap datang ke rumah Jaya sampai ia mampu menerima barang peninggalan Sulastri dan menandatangani tanda terima.

Ditengah perjalanan Larasati menuju penginapannya, Larasati dirampok oleh seorang supir taksi sehingga Larasati kehilangan segala barang-barangnya. Dengan hanya bermodalkan barang peninggalan Sulastri, Larasati terpaksa meminta menginap di rumah Jaya sebagai orang yang dikenalnya di Praha.

Walaupun Jaya menerima Larasati untuk menginap di rumahnya, Jaya masih enggan untuk menerima barang-barang peninggalan Sulastri. Jaya pun enggan untuk memberitahukan apa hubungan sebenarnya antara Jaya dengan Sulastri. Karena itu akhirnya, Larasati membuka kotak yang akan diberikan kepada Jaya tersebut.

Dalam kotak tersebut ternyata Larasati menemukan banyak sekali surat Jaya kepada Sulastri yang dikirimkan dari tahun 1985. Surat-surat tersebut menggambarkan hubungan Jaya dan Sulastri selama ini yang ternyata adalah seorang kekasih sejak lama. Larasati yang sejak kecilnya merasa bingung mengapa ia tidak memiliki kasih dari seorang ibu sejak lahir dan mengapa ayahnya terlihat begitu menderita sampai kematiannya, sontak langsung meledak amarahnya begitu saja.

Lalu tergambarlah siapa sebenarnya Jaya ini. Jaya adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa Indonesia yang dikirim oleh pemerintah Sukarno atau Orde Lama untuk belajar di Praha, Ceko. Pada saat setelah peristiwa G30SPKI tahun 1965 terjadi, pemerintah Orde Baru kemudian menggelorakan semangat dan propaganda kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadi anti-Sukarno dan anti-komunisme. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri pada saat itu kemudian diminta untuk menandatangani surat pernyataan bahwa mereka mendukung pemerintahan Suharto dan mereka mengutuk pemerintahan Sukarno yang pro-komunis. Itu semua dilakukan karena rezim Orde Baru saat itu sangat takut dengan intelektual-intelektual yang sangat loyal terhadap Sukarno, apalagi mereka yang berhaluan kiri.

Jaya mengatakan dengan lantang bahwa ia adalah seorang nasionalis dan bukan seorang komunis. Maka dari itu, walaupun Jaya menolak komunisme, Jaya tidak bisa menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa Jaya mengutuk pemerintahan Sukarno. Karena Jaya menyadari bahwa dengan rezim Sukarno lah ia bisa mengenyam ilmu di Ceko.

Hal itu ternyata berakibat fatal untuk Jaya. Pemerintah Orde Baru langsung mengeluarkan surat pembatalan kewarganegaraan bagi mereka yang tidak mau mengutuk Sukarno. Terlebih lagi, Jaya dan mahasiswa lainnya yang tidak mau menandatangani surat tersebut langsung dicap sebagai komunis di Indonesia. Mereka semua akhirnya menjadi stateless (tidak memiliki kewarganegaraan) dan hidupnya luntang-lantung di negeri orang. Jaya pun sudah tidak bisa lagi pulang ke Indonesia dan mendengar kabar keluarga serta Sulastri di Indonesia.

Sebelum berangkat ke Ceko, Jaya ternyata sudah berjanji kepada Sulastri dua hal. Pertama, Jaya akan segera kembali dari Ceko dan menikahi Sulastri. Janji yang kedua adalah: Jaya akan mencintai Sulastri selama-lamanya. Namun, pada akhirnya nasib membawa Jaya hanya bisa menepati janjinya yang kedua.

20 tahun setelah Jaya dihapuskan kewarganegaraan Indonesianya (tahun 1985), Jaya mulai menulis surat kepada Sulastri. Jaya mulai menulis dan mengirim surat setelah 20 tahun lamanya karena Jaya takut suratnya kepada Sulastri pada masa tahun 1965-1970 itu akan membuat Sulastri dipenjara. Sulastri akan dianggap sebagai tahanan politik kelas C karena memiliki hubungan dengan seorang yang dianggap komunis di luar negeri.

Namun, Jaya tidak tahu bahwa Sulastri sudah menikah selama 11 tahun dan sudah memiliki Larasati yang berumur 2 tahun pada saat ia menulis surat tersebut di tahun 1985. Surat pertama dari Jaya inilah yang membuat Sulastri berubah sikap dengan suaminya dan juga dengan Larasati. Kenang Larasati di masa kecilnya, ibunya lebih banyak mengurung diri di kamar dan juga tidak begitu semangat membangun keluarganya. Satu yang membuat Larasati teringat adalah betapa gembiranya ibunya saat tukang pos datang memberikan surat ke rumah yang ternyata melebihi kesenangan pada saat hari pertama Larasati masuk sekolah. Suami Sulastri yang mengetahui bahwa cinta Sulastri ternyata bukan untuknya kemudian meninggal lebih cepat daripada Sulastri.

Menerima surat dari Jaya ternyata tidak membuat Sulastri membalas langsung surat dari Jaya. Pikir Sulastri saat itu ialah, jika Sulastri mengirimkan satu saja surat balasan kepada Jaya dengan isi misalnya: bahwa Sulastri sudah menikah dan memiliki satu anak, maka bisa dipastikan Jaya tidak akan lagi mengirimkan surat kepada Sulastri selama-lamanya. Hal ini yang membuat Jaya terus mengirimkan surat kepada Sulastri tanpa tahu surat tersebut diterima atau tidak. Setelah 136 surat sudah dikirimkan Jaya kepada Sulastri, Jaya akhirnya menyerah dan menganggap Sulastri memang tidak menerima surat-suratnya itu.

###
Film ini memberikan kita sebuah realita yang jarang masyarakat Indonesia bahas mengenai kehidupan setelah peristiwa G30SPKI usai. Film ini yang memberikan kita kenyataan tentang kondisi eksil (orang-orang yang tidak bisa kembali ke negaranya karena sebuah alasan) seperti misalkan, tidak semua eksil itu komunis, dan betapa berat kehidupan para eksil setelah dibuang dari tanah airnya sendiri. Menggali beberapa hal sejarah dari negara ini perlu kita lakukan bersama sebagai generasi muda agar pengalaman pahit seperti ini di Indonesia tak terulang kembali. Angga D. Sasongko sang sutradara film ini, seperti yang dikutip Artharini (2016) menyebutkan bahwa walaupun kisah cinta dalam cerita ini merupakan sebuah cerita rekaan yang dibuat berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan, fakta sejarah serta konsekuensi yang mengikuti bangsa Indonesia yang menjadi dasar dari film ini perlu diketahui serta didalami oleh para generasi muda. Malah kedepannya sineas Indonesia ditantang oleh Angga untuk membuat film yang lebih substanstif dari tema ini dan langsung masuk ke akar cerita.

Wargadiredja (2017) menyebutkan bahwa dengan adanya kejadian G30SPKI ini membuat Indonesia kehilangan satu generasi intelektual Indonesia. Dahulu, Presiden Sukarno telah bercita-cita untuk membangun bangsa Indonesia yang mandiri dengan menyiapkan pemuda-pemuda pilihan untuk belajar di beberapa negara blok Timur. Mereka diberikan beasiswa untuk belajar beberapa hal seperti ilmu teknik, ekonomi, sinematografi, sastra, musik dan lain-lain. Jaya yang ada dalam film ini pun diberikan beasiswa untuk belajar teknik nuklir di Ceko. Namun, karena ketakutan rezim Orde Baru terhadap intelektual-intelektual yang loyal terhadap Sukarno membuat Indonesia gagal untuk memulangkan salah satu generasi intelektualnya untuk membangun negeri. Kata mereka yang Orde Baru, para intelektual muda inilah yang akan membangun serta menjalankan kembali sistem pemerintahan ala bung Karno jika kembali ke Indonesia.

Bagaimana kemudian kabar para eksil pada zaman ini? Kabar yang ditulis Tirto.id (Dhani, 2016) menyebutkan ada yang sudah meninggal dunia dengan tanpa kewarganegaraan, ada yang masih berjuang di negaranya dengan penghidupannya masing-masing dan ada yang masih berjuang untuk diterima kembali menjadi warga negara Indonesia.

Sebuah hal menarik yang saya temui dari film ini ialah idealisme kuat para tokoh eksil yang digambarkan mengenggam penuh apa yang dibelanya tanpa adanya sebuah penyesalan. Apalagi dengan kondisi mereka sebagai oposisi di zaman itu, mengenggam keyakinan yang bertentangan dengan pihak penguasa akan menyebabkan mereka kehilangan segalanya yang mereka punya termasuk nyawa mereka. Tapi kebanyakan mereka, seperti kata Jaya dalam film ini, “Tidak ada penyesalan untuk menolak Orde Baru. Itu dilakukan dengan sadar.”

Barangkali jika ada yang perlu disesali para eksil ialah adalah mereka tidak bisa mengabdikan ilmunya untuk Indonesia, tempat orang-orang yang mereka cintai. Khususnya untuk Jaya yang sangat menyesal dan sangat takut jika ia mengecewakan Sulastri, seorang gadis yang sangat ia cintai sejak dulu sebelum kepergiannya ke Praha

###

 

 

….

….
Kadang hidup memang lebih sering berisi apa yang tidak kita inginkan, dan kita seakan-akan dipaksa masuk ke dalamnya, merasa tak punya pilihan. Hingga satu-satunya pilihan ialah kita sendiri.
….
….
Aku hanya berharap waktu dan perjalanan dapat menyembuhkan luka,
dan memadamkan segala kemarahan.

Kutipan balasan surat Sulastri dalam surat terakhir untuk Jaya

 

 

Depok, 11 Februari 2018
Dimas Prabu Tejonugroho

Referensi:

Artharini, I. (2016, February). Komunis atau bukan: Indonesia kecil dalam kisah para eksil. Retrieved from Elshinta.com: http://elshinta.com/news/45940/2016/02/02/komunis-atau-bukan-indonesia-kecil-dalam-kisah-para-eksil

Dhani, A. (2016, March). Yang Terasing dan Dipinggirkan, Kisah Pilu Eksil di Pengasing. Retrieved from Tirto.id: https://tirto.id/yang-terasing-dan-dipinggirkan-kisah-pilu-eksil-di-pengasing-tZH

Wargadiredja, A. T. (2017, September). Gestapu Menghapus Satu Generasi Intelektual Indonesia. Retrieved from Vice.com: https://www.vice.com/id_id/article/pakmpn/gestapu-menghapus-satu-generasi-intelektual-indonesia

 

Atheis – 1949 (Book Review)

Atheis

Atheis merupakan sebuah novel karangan Achdiat Karta Mihardja yang diterbitkan tahun 1949. Berkisah tentang pergolakan pemikiran seorang Muslim bernama Hasan yang meragukan keimanannya sendiri setelah bertemu temannya yang berbeda pandangan dan pemahaman. Berbagai penghargaan pemerintah dan dari UNESCO pada era 70-an mengikrarkan Atheis sebagai salah satu novel terbaik yang dimiliki Indonesia.

Continue reading “Atheis – 1949 (Book Review)”

Jasad yang Terganti (Film Review:Self/Less)

 

selfless

Disaat nyawa manusia bisa terus hidup sampai kekal nantinya, jasad manusia sendiri tidak abadi. (mortal). Pada suatu saat nanti, jasad tidak bisa menghidupi nyawa, karena jasad sudah tidak bisa lagi mendukung apa yang dibutuhkan oleh nyawa. Penggantian jasad menjadi problem solving dalam film ini agar manusia bisa hidup abadi walaupun dia akhirnya sudah sakit-sakitan dan menua. Namun, walau jasad mampu tergantikan, ternyata hati dan perasaan sebagai manusia tak mampu tergantikan.

Continue reading “Jasad yang Terganti (Film Review:Self/Less)”

Sibuklah Hidup atau Sibuklah Mati?

Sebuah tulisan bedah film boxoffice (The Shawshank Redemption) yang tuntas diselesaikan dan dipresentasikan pada awal November 2015 di sebuah grup Whatsapp. Film yang dibedah merupakan salah satu film terbaik sepanjang masa dengan rating imdb 9,3 dari 10. Bedah film disini bertujuan untuk memperkaya kualitas diri dan orang lain dengan mengambil beberapa poin atau hikmah untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Continue reading “Sibuklah Hidup atau Sibuklah Mati?”