Menjawab Kritisnya Para “Manusia yang Cerdas dan Bandel secara Intelektual”

Selama saya berkuliah kurang lebih sekitar 4,5 tahun di kampus, saya sering sekali ditugaskan untuk melaksanakan bantuan asistensi kepada adik-adik tingkat saya di beberapa matakuliah jurusan di kampus. Seperti biasa, asistensi ini bertujuan untuk menyiapkan peserta agar mereka mampu mengerti alur berpikir dan alur pemecahan masalah dari satu matakuliah yang mereka ambil selama satu semester sehingga para peserta mampu melaksanakan soal UTS atau UAS yang diberikan dosen dengan baik. Biasanya asistensi ini saya lakukan bersama teman-teman asisten dari lab.

Ada cerita menarik yang saya alami di pertengahan tahun 2014 (April) pada saat saya ditugaskan untuk mengampu sebuah asistensi matakuliah untuk adik-adik tingkat saya. Dalam asistensi ini, saya diminta untuk mengajar kurang lebih 40-50 mahasiswa yang berada dalam satu matakuliah yang sama. Untuk memudahkan, saya dan teman-teman asisten membagi diri dengan beberapa masalah untuk didiskusikan dan juga dibahas.

Pada saat saya memaparkan dan membahas beberapa soal, ada seorang adik tingkat saya yang betul-betul sangat kritis sekali dalam mempertanyakan segala metode dan alat kerja yang saya gunakan untuk menyelesaikan soal tersebut. Saking kritisnya, waktu yang diberikan untuk saya yang seharusnya digunakan untuk menjelaskan kepada mahasiswa yang lain ternyata habis untuk menjelaskan satu soal tersebut kepada anak ini.

Mengapa menurut saya hal ini menjadi menarik? Karena sepanjang saya memberikan asistensi di kampus saya, jarang sekali ada mahasiswa atau adik tingkat saya yang benar-benar menaruh perhatian penuh terhadap beberapa persoalan yang kami didiskusikan. Kebanyakan dari mereka mungkin hanya angguk-angguk saja saat ada tentor atau dosennya menjelaskan, tapi jarang sekali ada orang yang betul-betul mengkritisi dari beberapa hal yang disampaikan. Suasana pembelajaran yang awalnya redup dengan bentuk satu arah penyampaian, kini menjadi terbuka dua arah karena adanya tanggapan dari peserta. Saya sebagai pengajar merasakan lebih hidup dan lebih banyak menyampaikan materi, sementara adik tingkat saya ini juga merasa lebih banyak yang dia bisa pahami. Baru saat itulah, saya merasakan “kebebasan budaya ilmu di kampus” yang digembor-gemborkan di kampus itu ada.

Setahun berselang setelah asistensi tersebut, si adik tingkat saya yang kritis ini alhamdulillah masuk menggantikan posisi saya sebagai asisten lab.


Sensei Edi Sukur dalam Rapat Kerja Nasional MITI KM di tahun 2016 pernah menyampaikan terkait hukum 80:20 atau hukum Pareto. Seperti yang dikatakan seorang ekonom asal Italia yang bernama Wilfred Pareto, hukum Pareto menggambarkan sebuah fenomena alam bahwa: “yang sedikit itulah yang memiliki banyak” atau “yang sedikit kuantitasnya itulah yang memiliki kualitas lebih“. Bisa kita ambil contohnya hukum Pareto ini seperti dalam beberapa hal di kehidupan kita.

Dalam bidang makroekonomi, 20% rakyat di sebuah negara ternyata merupakan pemilik 80% kekayaan di negara tersebut. Dalam bidang sales di sebuah perusahaan, ternyata 20% dari pelanggannya yang bertanggungjawab menghasilkan 80% keuntungan di perusahaan tersebut. Dalam analisa perencanaan persediaan (logistic management), kita mengenal bahwa adanya produk-produk tertentu (dari sekian banyak produk kita) yang jika dijual akan memiliki nilai keuntungan yang paling besar jika misalkan kita jual produk tersebut dalam jumlah sedikit saja. Dalam melihat sebuah organisasi bisa kita perhatikan saat ini, ternyata hanya 20% pengurus dari sebuah organisasi yang memberikan impak 80% di hasil organisasinya tersebut.

Dan juga dalam melihat bakat dan keahlian manusia, bisa kita lihat ternyata sedikit memang orang-orang yang memiliki sesuatu bakat atau kemampuan yang lebih dibandingkan manusia-manusia lainnya.

Adik tingkat saya ini yang saya ceritakan di awal cerita ini menurut saya adalah salah satu orang yang masuk dalam 20% tadi. Kelebihannya dalam mengkritisi persoalan dan kemampuannya dalam beretorika menurut saya merupakan bukti bahwa ia adalah “seseorang yang cerdas dan sekaligus bandel dalam intelektual” (meminjam istilah pak Andika Saputra, seorang dosen Arsitektur UMS)

Seseorang seperti ia ini menurut saya, akan menjadi sebuah orang yang spesial jika dapat kita arahkan dalam hal yang benar. Saya jujur bisa melihat kemampuannya ini jika diasah dapat membantu jalannya prestasi penelitian atau bahkan dakwah di masyarakatnya. Dalam perspektif saya, orang-orang yang cerdas sekaligus bandel secara intelektual ini hanya dapat diarahkan jika kita memahami alur pikirannya, menyamakan perspektif dia dengan kita, sekaligus mengarahkannya dengan hal-hal yang benar perlahan-lahan berdasarkan pemahamannya. Artinya kita memahaminya lewat argumentasi-argumentasi yang tersusun dalam diskusi. Tidak bisa kita serta merta langsung tabrak dengan logika kita. Karena pada nyatanya saat kita tabrak langsung seseorang langsung terhadap kepercayaannya, ia akan merasakan kekhawatiran, ancaman, ketakutan dan bahkan penolakan dengan hadirnya kita. Kita akan langsung memaksakan ancaman padanya.

Saat ini saya miris melihat kasus seorang remaja SMA bernama Afi Nihaya Faradisa yang Facebooknya sempat tidak bisa dibuka akibat menyebarkan beberapa “pesan-pesan inspiratif” yang mungkin bertabrakan dengan beberapa pendapat yang umum di kelompok masyarakat. Pada saat membaca tulisannya tentang keberagaman, saya memang merasa tak setuju dengan tulisannya. Namun, pada saat itu saya bersyukur karena di negeri ini sudah muncul satu orang lagi yang cerdas sekaligus bandel dalam intelektualnya. Banned akun media sosial bukan menjadi solusi bagi saya untuk membimbing orang seperti dik Afi ini. Saya lebih mengharapkan adik kita Afi ini dapat dibimbing oleh dengan baik oleh orang yang memahami ghazwul fikri yang benar lewat jalur diskusi atau berargumentasi.

Atau tidak, saran saya adalah iqro! Cobalah membaca Al Qur’an yang menjelaskan kisah nabi yang mencari Tuhan-Nya seperti di kisah Ibrahim dan Musa!

Sebagai alternatif juga, coba cari tulisan atau buku Buya Hamka yang bercerita tentang proses manusia mencari Tuhannya. Seingat saya, dalam buku Pendidikan Agama Islam dan Pandangan Hidup Muslim, Hamka bercerita pula tentang besarnya nikmat manusia serta besarnya alam semesta ini sebagai anugerah yang luar biasa untuk manusia.

Karena itu sejatinya iman bukan warisan. Karena manusia paham betapa besarnya nikmat yang Allah swt berikan padanya (dan ia juga tak mungkin membalasnya satu-satu persatu kecuali dengan menggunakan nikmat Tuhannya), maka ia secara sepenuh hati menyerahkan dirinya (aslama) menjadi seorang Muslim. Inilah pokok diin yang sesungguhnya. Menjadi seorang Islam.

Saya juga sebagai alumni Universitas Telkom (Tel-U) yang juga berkecimpung di dakwah kampus, saat ini miris dan sekaligus khawatir tentang perkembangan komunisme di kampus tercinta. Menurut berita yang saya kutip dari BBC Indonesia [1], Tel-U baru saja menskorsing mahasiswanya akibat mempropagandakan komunisme lewat buku-buku. Saya sepakat bahwa penyebaran paham komunisme itu dilarang di dalam kampus (dan memang seharusnya dicegah), tapi dimanakah peran aktivis dakwah kampus Tel-U dalam menyikapi hal ini? Bagaimana peran peer-to-peer antara mahasiswa kampus yang berfungsi untuk mencegah teman mahasiswanya berperilaku salah? Apa memang saat ini aktivis dakwah kampus memang masih terkotak-kotakkan dalam sebuah eksklusivitas yang tak mungkin bisa dijangkau oleh mahasiswa lain?

Saya sebetulnya ingin menyindir diri saya pribadi dan juga aktivis dakwah kampus di kampus saya tercinta dengan status Facebook dari pak Andika Saputra ini:

#
Lah yo kalau sekarang pegiat dakwah kampus justru mabuk dengan segala hal berbau pernikahan; yang dibaca buku soal pernikahan, yang diobrolkan soal pasangan hidup dan yang diadakan seputar kajian pranikah, apa iya mereka mampu mendakwahi kalangan mahasiswa-kritis yang kesehariannya lekat dengan Karl Marx, F. Nietzsche, M. Foucault hingga R. Dawkins?

Di sinilah terjadi keterpisahan antara pegiat dakwah kampus yang saya maksud dalam tulisan ini dengan kalangan mahasiswa-kritis yang dikenal cerdas sekaligus bandel dalam intelektual. Yang berdakwah tidak (mau) mengenali dan tidak berkenan meleburkan diri dalam komunitas yang dianggapnya salah jalan dan tersesat. Di sisi lain, mahasiswa-kritis tersebut pun tidak berkenan mendekatkan diri dengan komunitas dakwah kampus karena dipandang sekedar komunitas ‘menye-menye’ yang tidak mampu berdialektika pemikiran dengan mereka.
Kalau pegiat dakwah kampus tidak menyasar kalangan mahasiswa-kritis, lalu siapa yang merangkul mereka dan mengakrabkan mereka dengan Islam?
#

Betul-betul saya harus istigfar, karena diri ini masih belum mampu menarik gerbong-gerbong kemaslahatan yang lebih luas di kampus.

Karena itu bagi pegiat dakwah Ilmiy di kampus. Mari kita berbenah dan juga melihat sekeliling.

Apakah kita sudah menerapkan saran gurunda kita pak H.O.S Cokroaminoto dalam berjuang? [2]

#
Setinggi-tinggi ilmu, hingga rakyat saat itu membuka mata bahwa kolonialisme dan feodalisme bukan kondisi final yang ideal. Keluar dari rasa nyaman yang terlanjur tertanam di benak priyayi-priyayi Jawa yang dibuai politik etis Belanda, dan petani yang tenang-tenang saja.

Semurni-murni tauhid, sehingga pelaku dan penerus kebangkitan selalu takut akan azab Allah jika khianat dalam amanahnya menjalankan negeri ini. Seperti Umar bin Khattab ra. yang ditanya “Kenapa engkau tidak menghias Ka’bah dengan sutera?” dan menjawab “Perut orang mukmin lebih utama.”

Sepintar-pintar siasat, sehingga cita-citanya itu beliau wujudkan dalam wadah organisasi strategis, yang beliau setia kepadanya hingga akhir hayatnya, tak lupa mewarisi cita-citanya kepada generasi penerusnya.
#


seorang mantan mahasiswa yang pernah nyambi nyari duit di 2 laboratorium keilmuan di kampus, sambil sedikit nge-hangout 3 tahun lamanya dengan bro-bro di lembaga dakwah kampus

Dimas Prabu Tejonugroho

Sumber :
[1] BBC Indonesia. Mahasiswa dihukum karena buku kiri: ‘Paranoid akibat ketidaktahuan’. Diakses 1 Juni 2017

[2] https://astrinuristyami.wordpress.com/2013/08/19/setinggi-tinggi-ilmu-semurni-murni-tauhid-sepintar-pintar-siasat-h-o-s-tjokroaminoto/

Tanda Tanya

Sebuah (tanda tanya) penting untuk motivasi diri. Orang sukses terdefinisi sebagai orang yang membuat (tanda tanya) lebih baik sehingga mereka juga memperoleh jawaban yang lebih baik yang memberi kekuatan agar mereka mengetahui, apa yang harus mereka lakukan pada satu kondisi, dan dimana mereka dapat mencapai keberhasilan yang mereka inginkan.

Continue reading “Tanda Tanya”

Sibuklah Hidup atau Sibuklah Mati?

Sebuah tulisan bedah film boxoffice (The Shawshank Redemption) yang tuntas diselesaikan dan dipresentasikan pada awal November 2015 di sebuah grup Whatsapp. Film yang dibedah merupakan salah satu film terbaik sepanjang masa dengan rating imdb 9,3 dari 10. Bedah film disini bertujuan untuk memperkaya kualitas diri dan orang lain dengan mengambil beberapa poin atau hikmah untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Continue reading “Sibuklah Hidup atau Sibuklah Mati?”

#SetengahMenujuDua

Ada satu quote yang saya ingat dari seorang dosen saya yang saya ingat terus sebagai motivasi. Tak perlu disebutkan namanya dosennya, cukup saya sebutkan jabatannya sebagai Kaprodi. Quote beliau saya beri title disini sebagai #SetengahMenujuDua.

Diberikan 4 tahun yang lalu, saat kami masih dalam fase botak dan lugunya memasuki masa kuliah diantara para senior kami yang ikut mengawasi diluar pintu kelas perkuliahan.

Satu ditambah satu, sama dengan dua.

Setengah ditambah setengah, sama dengan nol.

Satu pekerjaan yang sudah kita selesaikan ditambah satu pekerjaan yang juga sudah selesai kita kerjakan lagi akan bernilai DUA pekerjaan yang selesai.

Akan tetapi, pekerjaan yang kita selesaikan setengah-setengah, ditambah pekerjaan yang lain yang juga kita kerjakan setengah-setengah, akan menghasilkan nilai nol.

Karena kita tidak mendapatkan value added apa-apa dari 2 pekerjaan itu. 

N.B :

Pesan saya untuk para laki-laki yang belum mampu, cukupkanlah dengan #SetengahMenujuDua, jangan ditambah lagi dengan angka yang lain. Penambahan angka lebih dari dua hanya menyebabkan anda dianggap bervisi tinggi untuk berpoligami lebih dari dua.