Setia Antara Dua Zaman

145145858188609_300x430.jpg
Surat dari Praha (Diambil dari 21cineplex.com)

 

 

Judul Film : Surat Dari Praha
Genre : Drama/Romantic
Durasi Film : 94 menit
Sutradara: Angga D. Sasongko
Main Cast: Tyo Pakusadewo, Julie Estelle, Widyawati, Rio Dewanto, Chicco Jerikho

 

“Kamu pikir kehadiranmu bisa menggantikan semua? Apa yang sudah direnggut dari saya? Hidup saya, tanah air saya, cinta saya? Kamu pikir mudah hidup sebagai sarjana nuklir tapi bekerja sebagai janitor, puluhan tahun, puluhan tahun? Dan terlibat dengan perempuan yang saya tak ketahui jejaknya?”

Jaya

###
Setelah setahun lamanya pergi meninggalkan rumah, Larasati (Julie Estelle) datang kembali menemui ibunya bernama Sulastri (Widyawati) untuk meminjam sertifikat rumah. Ditengah Sulastri yang sedang terbaring sakit di rumah sakit, Larasati memaksa ibunya menyerahkan sertifikat rumah untuk dijual agar mampu membiayai perceraiannya dengan suaminya (Chicco Jerikho) yang telah berselingkuh dengan perempuan lain disaat Larasati hamil dua bulan. Kabar perceraian dan permintaan yang sangat mengagetkan dari Larasati tersebut membuat Sulastri sangat sedih. Hingga beberapa saat kemudian, Sulastri meninggalkan dunia untuk selamanya.

Rumah Sulastri kemudian diwariskan kepada Larasati, anak Sulastri satu-satunya. Namun, rumah tersebut akan diberikan pada Larasati jika Larasati mengantarkan sebuah kotak beserta sepucuk surat kepada seseorang yang berada di Praha, Ceko yang kemudian dibuktikan dengan selembar surat tanda terima.

Larasati pikir wasiat ibunya itu akan mudah untuk dijalankan. Namun, hal tersebut menjadi sulit setelah Jaya (Tyo Pakusadewo), seorang pria tua yang menjadi tujuan pengiriman kotak beserta sepucuk surat tersebut, menolak mentah-mentah barang peninggalan Sulastri. Jaya kemudian mengusir Larasati untuk segera pergi dari rumahnya. Larasati mengatakan kepada Jaya bahwa ia akan tetap datang ke rumah Jaya sampai ia mampu menerima barang peninggalan Sulastri dan menandatangani tanda terima.

Ditengah perjalanan Larasati menuju penginapannya, Larasati dirampok oleh seorang supir taksi sehingga Larasati kehilangan segala barang-barangnya. Dengan hanya bermodalkan barang peninggalan Sulastri, Larasati terpaksa meminta menginap di rumah Jaya sebagai orang yang dikenalnya di Praha.

Walaupun Jaya menerima Larasati untuk menginap di rumahnya, Jaya masih enggan untuk menerima barang-barang peninggalan Sulastri. Jaya pun enggan untuk memberitahukan apa hubungan sebenarnya antara Jaya dengan Sulastri. Karena itu akhirnya, Larasati membuka kotak yang akan diberikan kepada Jaya tersebut.

Dalam kotak tersebut ternyata Larasati menemukan banyak sekali surat Jaya kepada Sulastri yang dikirimkan dari tahun 1985. Surat-surat tersebut menggambarkan hubungan Jaya dan Sulastri selama ini yang ternyata adalah seorang kekasih sejak lama. Larasati yang sejak kecilnya merasa bingung mengapa ia tidak memiliki kasih dari seorang ibu sejak lahir dan mengapa ayahnya terlihat begitu menderita sampai kematiannya, sontak langsung meledak amarahnya begitu saja.

Lalu tergambarlah siapa sebenarnya Jaya ini. Jaya adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa Indonesia yang dikirim oleh pemerintah Sukarno atau Orde Lama untuk belajar di Praha, Ceko. Pada saat setelah peristiwa G30SPKI tahun 1965 terjadi, pemerintah Orde Baru kemudian menggelorakan semangat dan propaganda kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadi anti-Sukarno dan anti-komunisme. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri pada saat itu kemudian diminta untuk menandatangani surat pernyataan bahwa mereka mendukung pemerintahan Suharto dan mereka mengutuk pemerintahan Sukarno yang pro-komunis. Itu semua dilakukan karena rezim Orde Baru saat itu sangat takut dengan intelektual-intelektual yang sangat loyal terhadap Sukarno, apalagi mereka yang berhaluan kiri.

Jaya mengatakan dengan lantang bahwa ia adalah seorang nasionalis dan bukan seorang komunis. Maka dari itu, walaupun Jaya menolak komunisme, Jaya tidak bisa menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa Jaya mengutuk pemerintahan Sukarno. Karena Jaya menyadari bahwa dengan rezim Sukarno lah ia bisa mengenyam ilmu di Ceko.

Hal itu ternyata berakibat fatal untuk Jaya. Pemerintah Orde Baru langsung mengeluarkan surat pembatalan kewarganegaraan bagi mereka yang tidak mau mengutuk Sukarno. Terlebih lagi, Jaya dan mahasiswa lainnya yang tidak mau menandatangani surat tersebut langsung dicap sebagai komunis di Indonesia. Mereka semua akhirnya menjadi stateless (tidak memiliki kewarganegaraan) dan hidupnya luntang-lantung di negeri orang. Jaya pun sudah tidak bisa lagi pulang ke Indonesia dan mendengar kabar keluarga serta Sulastri di Indonesia.

Sebelum berangkat ke Ceko, Jaya ternyata sudah berjanji kepada Sulastri dua hal. Pertama, Jaya akan segera kembali dari Ceko dan menikahi Sulastri. Janji yang kedua adalah: Jaya akan mencintai Sulastri selama-lamanya. Namun, pada akhirnya nasib membawa Jaya hanya bisa menepati janjinya yang kedua.

20 tahun setelah Jaya dihapuskan kewarganegaraan Indonesianya (tahun 1985), Jaya mulai menulis surat kepada Sulastri. Jaya mulai menulis dan mengirim surat setelah 20 tahun lamanya karena Jaya takut suratnya kepada Sulastri pada masa tahun 1965-1970 itu akan membuat Sulastri dipenjara. Sulastri akan dianggap sebagai tahanan politik kelas C karena memiliki hubungan dengan seorang yang dianggap komunis di luar negeri.

Namun, Jaya tidak tahu bahwa Sulastri sudah menikah selama 11 tahun dan sudah memiliki Larasati yang berumur 2 tahun pada saat ia menulis surat tersebut di tahun 1985. Surat pertama dari Jaya inilah yang membuat Sulastri berubah sikap dengan suaminya dan juga dengan Larasati. Kenang Larasati di masa kecilnya, ibunya lebih banyak mengurung diri di kamar dan juga tidak begitu semangat membangun keluarganya. Satu yang membuat Larasati teringat adalah betapa gembiranya ibunya saat tukang pos datang memberikan surat ke rumah yang ternyata melebihi kesenangan pada saat hari pertama Larasati masuk sekolah. Suami Sulastri yang mengetahui bahwa cinta Sulastri ternyata bukan untuknya kemudian meninggal lebih cepat daripada Sulastri.

Menerima surat dari Jaya ternyata tidak membuat Sulastri membalas langsung surat dari Jaya. Pikir Sulastri saat itu ialah, jika Sulastri mengirimkan satu saja surat balasan kepada Jaya dengan isi misalnya: bahwa Sulastri sudah menikah dan memiliki satu anak, maka bisa dipastikan Jaya tidak akan lagi mengirimkan surat kepada Sulastri selama-lamanya. Hal ini yang membuat Jaya terus mengirimkan surat kepada Sulastri tanpa tahu surat tersebut diterima atau tidak. Setelah 136 surat sudah dikirimkan Jaya kepada Sulastri, Jaya akhirnya menyerah dan menganggap Sulastri memang tidak menerima surat-suratnya itu.

###
Film ini memberikan kita sebuah realita yang jarang masyarakat Indonesia bahas mengenai kehidupan setelah peristiwa G30SPKI usai. Film ini yang memberikan kita kenyataan tentang kondisi eksil (orang-orang yang tidak bisa kembali ke negaranya karena sebuah alasan) seperti misalkan, tidak semua eksil itu komunis, dan betapa berat kehidupan para eksil setelah dibuang dari tanah airnya sendiri. Menggali beberapa hal sejarah dari negara ini perlu kita lakukan bersama sebagai generasi muda agar pengalaman pahit seperti ini di Indonesia tak terulang kembali. Angga D. Sasongko sang sutradara film ini, seperti yang dikutip Artharini (2016) menyebutkan bahwa walaupun kisah cinta dalam cerita ini merupakan sebuah cerita rekaan yang dibuat berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan, fakta sejarah serta konsekuensi yang mengikuti bangsa Indonesia yang menjadi dasar dari film ini perlu diketahui serta didalami oleh para generasi muda. Malah kedepannya sineas Indonesia ditantang oleh Angga untuk membuat film yang lebih substanstif dari tema ini dan langsung masuk ke akar cerita.

Wargadiredja (2017) menyebutkan bahwa dengan adanya kejadian G30SPKI ini membuat Indonesia kehilangan satu generasi intelektual Indonesia. Dahulu, Presiden Sukarno telah bercita-cita untuk membangun bangsa Indonesia yang mandiri dengan menyiapkan pemuda-pemuda pilihan untuk belajar di beberapa negara blok Timur. Mereka diberikan beasiswa untuk belajar beberapa hal seperti ilmu teknik, ekonomi, sinematografi, sastra, musik dan lain-lain. Jaya yang ada dalam film ini pun diberikan beasiswa untuk belajar teknik nuklir di Ceko. Namun, karena ketakutan rezim Orde Baru terhadap intelektual-intelektual yang loyal terhadap Sukarno membuat Indonesia gagal untuk memulangkan salah satu generasi intelektualnya untuk membangun negeri. Kata mereka yang Orde Baru, para intelektual muda inilah yang akan membangun serta menjalankan kembali sistem pemerintahan ala bung Karno jika kembali ke Indonesia.

Bagaimana kemudian kabar para eksil pada zaman ini? Kabar yang ditulis Tirto.id (Dhani, 2016) menyebutkan ada yang sudah meninggal dunia dengan tanpa kewarganegaraan, ada yang masih berjuang di negaranya dengan penghidupannya masing-masing dan ada yang masih berjuang untuk diterima kembali menjadi warga negara Indonesia.

Sebuah hal menarik yang saya temui dari film ini ialah idealisme kuat para tokoh eksil yang digambarkan mengenggam penuh apa yang dibelanya tanpa adanya sebuah penyesalan. Apalagi dengan kondisi mereka sebagai oposisi di zaman itu, mengenggam keyakinan yang bertentangan dengan pihak penguasa akan menyebabkan mereka kehilangan segalanya yang mereka punya termasuk nyawa mereka. Tapi kebanyakan mereka, seperti kata Jaya dalam film ini, “Tidak ada penyesalan untuk menolak Orde Baru. Itu dilakukan dengan sadar.”

Barangkali jika ada yang perlu disesali para eksil ialah adalah mereka tidak bisa mengabdikan ilmunya untuk Indonesia, tempat orang-orang yang mereka cintai. Khususnya untuk Jaya yang sangat menyesal dan sangat takut jika ia mengecewakan Sulastri, seorang gadis yang sangat ia cintai sejak dulu sebelum kepergiannya ke Praha

###

 

 

….

….
Kadang hidup memang lebih sering berisi apa yang tidak kita inginkan, dan kita seakan-akan dipaksa masuk ke dalamnya, merasa tak punya pilihan. Hingga satu-satunya pilihan ialah kita sendiri.
….
….
Aku hanya berharap waktu dan perjalanan dapat menyembuhkan luka,
dan memadamkan segala kemarahan.

Kutipan balasan surat Sulastri dalam surat terakhir untuk Jaya

 

 

Depok, 11 Februari 2018
Dimas Prabu Tejonugroho

Referensi:

Artharini, I. (2016, February). Komunis atau bukan: Indonesia kecil dalam kisah para eksil. Retrieved from Elshinta.com: http://elshinta.com/news/45940/2016/02/02/komunis-atau-bukan-indonesia-kecil-dalam-kisah-para-eksil

Dhani, A. (2016, March). Yang Terasing dan Dipinggirkan, Kisah Pilu Eksil di Pengasing. Retrieved from Tirto.id: https://tirto.id/yang-terasing-dan-dipinggirkan-kisah-pilu-eksil-di-pengasing-tZH

Wargadiredja, A. T. (2017, September). Gestapu Menghapus Satu Generasi Intelektual Indonesia. Retrieved from Vice.com: https://www.vice.com/id_id/article/pakmpn/gestapu-menghapus-satu-generasi-intelektual-indonesia

 

Advertisements

Menjawab Kritisnya Para “Manusia yang Cerdas dan Bandel secara Intelektual”

Selama saya berkuliah kurang lebih sekitar 4,5 tahun di kampus, saya sering sekali ditugaskan untuk melaksanakan bantuan asistensi kepada adik-adik tingkat saya di beberapa matakuliah jurusan di kampus. Seperti biasa, asistensi ini bertujuan untuk menyiapkan peserta agar mereka mampu mengerti alur berpikir dan alur pemecahan masalah dari satu matakuliah yang mereka ambil selama satu semester sehingga para peserta mampu melaksanakan soal UTS atau UAS yang diberikan dosen dengan baik. Biasanya asistensi ini saya lakukan bersama teman-teman asisten dari lab.

Ada cerita menarik yang saya alami di pertengahan tahun 2014 (April) pada saat saya ditugaskan untuk mengampu sebuah asistensi matakuliah untuk adik-adik tingkat saya. Dalam asistensi ini, saya diminta untuk mengajar kurang lebih 40-50 mahasiswa yang berada dalam satu matakuliah yang sama. Untuk memudahkan, saya dan teman-teman asisten membagi diri dengan beberapa masalah untuk didiskusikan dan juga dibahas.

Pada saat saya memaparkan dan membahas beberapa soal, ada seorang adik tingkat saya yang betul-betul sangat kritis sekali dalam mempertanyakan segala metode dan alat kerja yang saya gunakan untuk menyelesaikan soal tersebut. Saking kritisnya, waktu yang diberikan untuk saya yang seharusnya digunakan untuk menjelaskan kepada mahasiswa yang lain ternyata habis untuk menjelaskan satu soal tersebut kepada anak ini.

Mengapa menurut saya hal ini menjadi menarik? Karena sepanjang saya memberikan asistensi di kampus saya, jarang sekali ada mahasiswa atau adik tingkat saya yang benar-benar menaruh perhatian penuh terhadap beberapa persoalan yang kami didiskusikan. Kebanyakan dari mereka mungkin hanya angguk-angguk saja saat ada tentor atau dosennya menjelaskan, tapi jarang sekali ada orang yang betul-betul mengkritisi dari beberapa hal yang disampaikan. Suasana pembelajaran yang awalnya redup dengan bentuk satu arah penyampaian, kini menjadi terbuka dua arah karena adanya tanggapan dari peserta. Saya sebagai pengajar merasakan lebih hidup dan lebih banyak menyampaikan materi, sementara adik tingkat saya ini juga merasa lebih banyak yang dia bisa pahami. Baru saat itulah, saya merasakan “kebebasan budaya ilmu di kampus” yang digembor-gemborkan di kampus itu ada.

Setahun berselang setelah asistensi tersebut, si adik tingkat saya yang kritis ini alhamdulillah masuk menggantikan posisi saya sebagai asisten lab.


Sensei Edi Sukur dalam Rapat Kerja Nasional MITI KM di tahun 2016 pernah menyampaikan terkait hukum 80:20 atau hukum Pareto. Seperti yang dikatakan seorang ekonom asal Italia yang bernama Wilfred Pareto, hukum Pareto menggambarkan sebuah fenomena alam bahwa: “yang sedikit itulah yang memiliki banyak” atau “yang sedikit kuantitasnya itulah yang memiliki kualitas lebih“. Bisa kita ambil contohnya hukum Pareto ini seperti dalam beberapa hal di kehidupan kita.

Dalam bidang makroekonomi, 20% rakyat di sebuah negara ternyata merupakan pemilik 80% kekayaan di negara tersebut. Dalam bidang sales di sebuah perusahaan, ternyata 20% dari pelanggannya yang bertanggungjawab menghasilkan 80% keuntungan di perusahaan tersebut. Dalam analisa perencanaan persediaan (logistic management), kita mengenal bahwa adanya produk-produk tertentu (dari sekian banyak produk kita) yang jika dijual akan memiliki nilai keuntungan yang paling besar jika misalkan kita jual produk tersebut dalam jumlah sedikit saja. Dalam melihat sebuah organisasi bisa kita perhatikan saat ini, ternyata hanya 20% pengurus dari sebuah organisasi yang memberikan impak 80% di hasil organisasinya tersebut.

Dan juga dalam melihat bakat dan keahlian manusia, bisa kita lihat ternyata sedikit memang orang-orang yang memiliki sesuatu bakat atau kemampuan yang lebih dibandingkan manusia-manusia lainnya.

Adik tingkat saya ini yang saya ceritakan di awal cerita ini menurut saya adalah salah satu orang yang masuk dalam 20% tadi. Kelebihannya dalam mengkritisi persoalan dan kemampuannya dalam beretorika menurut saya merupakan bukti bahwa ia adalah “seseorang yang cerdas dan sekaligus bandel dalam intelektual” (meminjam istilah pak Andika Saputra, seorang dosen Arsitektur UMS)

Seseorang seperti ia ini menurut saya, akan menjadi sebuah orang yang spesial jika dapat kita arahkan dalam hal yang benar. Saya jujur bisa melihat kemampuannya ini jika diasah dapat membantu jalannya prestasi penelitian atau bahkan dakwah di masyarakatnya. Dalam perspektif saya, orang-orang yang cerdas sekaligus bandel secara intelektual ini hanya dapat diarahkan jika kita memahami alur pikirannya, menyamakan perspektif dia dengan kita, sekaligus mengarahkannya dengan hal-hal yang benar perlahan-lahan berdasarkan pemahamannya. Artinya kita memahaminya lewat argumentasi-argumentasi yang tersusun dalam diskusi. Tidak bisa kita serta merta langsung tabrak dengan logika kita. Karena pada nyatanya saat kita tabrak langsung seseorang langsung terhadap kepercayaannya, ia akan merasakan kekhawatiran, ancaman, ketakutan dan bahkan penolakan dengan hadirnya kita. Kita akan langsung memaksakan ancaman padanya.

Saat ini saya miris melihat kasus seorang remaja SMA bernama Afi Nihaya Faradisa yang Facebooknya sempat tidak bisa dibuka akibat menyebarkan beberapa “pesan-pesan inspiratif” yang mungkin bertabrakan dengan beberapa pendapat yang umum di kelompok masyarakat. Pada saat membaca tulisannya tentang keberagaman, saya memang merasa tak setuju dengan tulisannya. Namun, pada saat itu saya bersyukur karena di negeri ini sudah muncul satu orang lagi yang cerdas sekaligus bandel dalam intelektualnya. Banned akun media sosial bukan menjadi solusi bagi saya untuk membimbing orang seperti dik Afi ini. Saya lebih mengharapkan adik kita Afi ini dapat dibimbing oleh dengan baik oleh orang yang memahami ghazwul fikri yang benar lewat jalur diskusi atau berargumentasi.

Atau tidak, saran saya adalah iqro! Cobalah membaca Al Qur’an yang menjelaskan kisah nabi yang mencari Tuhan-Nya seperti di kisah Ibrahim dan Musa!

Sebagai alternatif juga, coba cari tulisan atau buku Buya Hamka yang bercerita tentang proses manusia mencari Tuhannya. Seingat saya, dalam buku Pendidikan Agama Islam dan Pandangan Hidup Muslim, Hamka bercerita pula tentang besarnya nikmat manusia serta besarnya alam semesta ini sebagai anugerah yang luar biasa untuk manusia.

Karena itu sejatinya iman bukan warisan. Karena manusia paham betapa besarnya nikmat yang Allah swt berikan padanya (dan ia juga tak mungkin membalasnya satu-satu persatu kecuali dengan menggunakan nikmat Tuhannya), maka ia secara sepenuh hati menyerahkan dirinya (aslama) menjadi seorang Muslim. Inilah pokok diin yang sesungguhnya. Menjadi seorang Islam.

Saya juga sebagai alumni Universitas Telkom (Tel-U) yang juga berkecimpung di dakwah kampus, saat ini miris dan sekaligus khawatir tentang perkembangan komunisme di kampus tercinta. Menurut berita yang saya kutip dari BBC Indonesia [1], Tel-U baru saja menskorsing mahasiswanya akibat mempropagandakan komunisme lewat buku-buku. Saya sepakat bahwa penyebaran paham komunisme itu dilarang di dalam kampus (dan memang seharusnya dicegah), tapi dimanakah peran aktivis dakwah kampus Tel-U dalam menyikapi hal ini? Bagaimana peran peer-to-peer antara mahasiswa kampus yang berfungsi untuk mencegah teman mahasiswanya berperilaku salah? Apa memang saat ini aktivis dakwah kampus memang masih terkotak-kotakkan dalam sebuah eksklusivitas yang tak mungkin bisa dijangkau oleh mahasiswa lain?

Saya sebetulnya ingin menyindir diri saya pribadi dan juga aktivis dakwah kampus di kampus saya tercinta dengan status Facebook dari pak Andika Saputra ini:

#
Lah yo kalau sekarang pegiat dakwah kampus justru mabuk dengan segala hal berbau pernikahan; yang dibaca buku soal pernikahan, yang diobrolkan soal pasangan hidup dan yang diadakan seputar kajian pranikah, apa iya mereka mampu mendakwahi kalangan mahasiswa-kritis yang kesehariannya lekat dengan Karl Marx, F. Nietzsche, M. Foucault hingga R. Dawkins?

Di sinilah terjadi keterpisahan antara pegiat dakwah kampus yang saya maksud dalam tulisan ini dengan kalangan mahasiswa-kritis yang dikenal cerdas sekaligus bandel dalam intelektual. Yang berdakwah tidak (mau) mengenali dan tidak berkenan meleburkan diri dalam komunitas yang dianggapnya salah jalan dan tersesat. Di sisi lain, mahasiswa-kritis tersebut pun tidak berkenan mendekatkan diri dengan komunitas dakwah kampus karena dipandang sekedar komunitas ‘menye-menye’ yang tidak mampu berdialektika pemikiran dengan mereka.
Kalau pegiat dakwah kampus tidak menyasar kalangan mahasiswa-kritis, lalu siapa yang merangkul mereka dan mengakrabkan mereka dengan Islam?
#

Betul-betul saya harus istigfar, karena diri ini masih belum mampu menarik gerbong-gerbong kemaslahatan yang lebih luas di kampus.

Karena itu bagi pegiat dakwah Ilmiy di kampus. Mari kita berbenah dan juga melihat sekeliling.

Apakah kita sudah menerapkan saran gurunda kita pak H.O.S Cokroaminoto dalam berjuang? [2]

#
Setinggi-tinggi ilmu, hingga rakyat saat itu membuka mata bahwa kolonialisme dan feodalisme bukan kondisi final yang ideal. Keluar dari rasa nyaman yang terlanjur tertanam di benak priyayi-priyayi Jawa yang dibuai politik etis Belanda, dan petani yang tenang-tenang saja.

Semurni-murni tauhid, sehingga pelaku dan penerus kebangkitan selalu takut akan azab Allah jika khianat dalam amanahnya menjalankan negeri ini. Seperti Umar bin Khattab ra. yang ditanya “Kenapa engkau tidak menghias Ka’bah dengan sutera?” dan menjawab “Perut orang mukmin lebih utama.”

Sepintar-pintar siasat, sehingga cita-citanya itu beliau wujudkan dalam wadah organisasi strategis, yang beliau setia kepadanya hingga akhir hayatnya, tak lupa mewarisi cita-citanya kepada generasi penerusnya.
#


seorang mantan mahasiswa yang pernah nyambi nyari duit di 2 laboratorium keilmuan di kampus, sambil sedikit nge-hangout 3 tahun lamanya dengan bro-bro di lembaga dakwah kampus

Dimas Prabu Tejonugroho

Sumber :
[1] BBC Indonesia. Mahasiswa dihukum karena buku kiri: ‘Paranoid akibat ketidaktahuan’. Diakses 1 Juni 2017

[2] https://astrinuristyami.wordpress.com/2013/08/19/setinggi-tinggi-ilmu-semurni-murni-tauhid-sepintar-pintar-siasat-h-o-s-tjokroaminoto/

Tanda Tanya

Sebuah (tanda tanya) penting untuk motivasi diri. Orang sukses terdefinisi sebagai orang yang membuat (tanda tanya) lebih baik sehingga mereka juga memperoleh jawaban yang lebih baik yang memberi kekuatan agar mereka mengetahui, apa yang harus mereka lakukan pada satu kondisi, dan dimana mereka dapat mencapai keberhasilan yang mereka inginkan.

Continue reading “Tanda Tanya”

Sibuklah Hidup atau Sibuklah Mati?

Sebuah tulisan bedah film boxoffice (The Shawshank Redemption) yang tuntas diselesaikan dan dipresentasikan pada awal November 2015 di sebuah grup Whatsapp. Film yang dibedah merupakan salah satu film terbaik sepanjang masa dengan rating imdb 9,3 dari 10. Bedah film disini bertujuan untuk memperkaya kualitas diri dan orang lain dengan mengambil beberapa poin atau hikmah untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Continue reading “Sibuklah Hidup atau Sibuklah Mati?”

#SetengahMenujuDua

Ada satu quote yang saya ingat dari seorang dosen saya yang saya ingat terus sebagai motivasi. Tak perlu disebutkan namanya dosennya, cukup saya sebutkan jabatannya sebagai Kaprodi. Quote beliau saya beri title disini sebagai #SetengahMenujuDua.

Diberikan 4 tahun yang lalu, saat kami masih dalam fase botak dan lugunya memasuki masa kuliah diantara para senior kami yang ikut mengawasi diluar pintu kelas perkuliahan.

Satu ditambah satu, sama dengan dua.

Setengah ditambah setengah, sama dengan nol.

Satu pekerjaan yang sudah kita selesaikan ditambah satu pekerjaan yang juga sudah selesai kita kerjakan lagi akan bernilai DUA pekerjaan yang selesai.

Akan tetapi, pekerjaan yang kita selesaikan setengah-setengah, ditambah pekerjaan yang lain yang juga kita kerjakan setengah-setengah, akan menghasilkan nilai nol.

Karena kita tidak mendapatkan value added apa-apa dari 2 pekerjaan itu. 

N.B :

Pesan saya untuk para laki-laki yang belum mampu, cukupkanlah dengan #SetengahMenujuDua, jangan ditambah lagi dengan angka yang lain. Penambahan angka lebih dari dua hanya menyebabkan anda dianggap bervisi tinggi untuk berpoligami lebih dari dua.