Menjawab Kritisnya Para “Manusia yang Cerdas dan Bandel secara Intelektual”

Selama saya berkuliah kurang lebih sekitar 4,5 tahun di kampus, saya sering sekali ditugaskan untuk melaksanakan bantuan asistensi kepada adik-adik tingkat saya di beberapa matakuliah jurusan di kampus. Seperti biasa, asistensi ini bertujuan untuk menyiapkan peserta agar mereka mampu mengerti alur berpikir dan alur pemecahan masalah dari satu matakuliah yang mereka ambil selama satu semester sehingga para peserta mampu melaksanakan soal UTS atau UAS yang diberikan dosen dengan baik. Biasanya asistensi ini saya lakukan bersama teman-teman asisten dari lab.

Ada cerita menarik yang saya alami di pertengahan tahun 2014 (April) pada saat saya ditugaskan untuk mengampu sebuah asistensi matakuliah untuk adik-adik tingkat saya. Dalam asistensi ini, saya diminta untuk mengajar kurang lebih 40-50 mahasiswa yang berada dalam satu matakuliah yang sama. Untuk memudahkan, saya dan teman-teman asisten membagi diri dengan beberapa masalah untuk didiskusikan dan juga dibahas.

Pada saat saya memaparkan dan membahas beberapa soal, ada seorang adik tingkat saya yang betul-betul sangat kritis sekali dalam mempertanyakan segala metode dan alat kerja yang saya gunakan untuk menyelesaikan soal tersebut. Saking kritisnya, waktu yang diberikan untuk saya yang seharusnya digunakan untuk menjelaskan kepada mahasiswa yang lain ternyata habis untuk menjelaskan satu soal tersebut kepada anak ini.

Mengapa menurut saya hal ini menjadi menarik? Karena sepanjang saya memberikan asistensi di kampus saya, jarang sekali ada mahasiswa atau adik tingkat saya yang benar-benar menaruh perhatian penuh terhadap beberapa persoalan yang kami didiskusikan. Kebanyakan dari mereka mungkin hanya angguk-angguk saja saat ada tentor atau dosennya menjelaskan, tapi jarang sekali ada orang yang betul-betul mengkritisi dari beberapa hal yang disampaikan. Suasana pembelajaran yang awalnya redup dengan bentuk satu arah penyampaian, kini menjadi terbuka dua arah karena adanya tanggapan dari peserta. Saya sebagai pengajar merasakan lebih hidup dan lebih banyak menyampaikan materi, sementara adik tingkat saya ini juga merasa lebih banyak yang dia bisa pahami. Baru saat itulah, saya merasakan “kebebasan budaya ilmu di kampus” yang digembor-gemborkan di kampus itu ada.

Setahun berselang setelah asistensi tersebut, si adik tingkat saya yang kritis ini alhamdulillah masuk menggantikan posisi saya sebagai asisten lab.


Sensei Edi Sukur dalam Rapat Kerja Nasional MITI KM di tahun 2016 pernah menyampaikan terkait hukum 80:20 atau hukum Pareto. Seperti yang dikatakan seorang ekonom asal Italia yang bernama Wilfred Pareto, hukum Pareto menggambarkan sebuah fenomena alam bahwa: “yang sedikit itulah yang memiliki banyak” atau “yang sedikit kuantitasnya itulah yang memiliki kualitas lebih“. Bisa kita ambil contohnya hukum Pareto ini seperti dalam beberapa hal di kehidupan kita.

Dalam bidang makroekonomi, 20% rakyat di sebuah negara ternyata merupakan pemilik 80% kekayaan di negara tersebut. Dalam bidang sales di sebuah perusahaan, ternyata 20% dari pelanggannya yang bertanggungjawab menghasilkan 80% keuntungan di perusahaan tersebut. Dalam analisa perencanaan persediaan (logistic management), kita mengenal bahwa adanya produk-produk tertentu (dari sekian banyak produk kita) yang jika dijual akan memiliki nilai keuntungan yang paling besar jika misalkan kita jual produk tersebut dalam jumlah sedikit saja. Dalam melihat sebuah organisasi bisa kita perhatikan saat ini, ternyata hanya 20% pengurus dari sebuah organisasi yang memberikan impak 80% di hasil organisasinya tersebut.

Dan juga dalam melihat bakat dan keahlian manusia, bisa kita lihat ternyata sedikit memang orang-orang yang memiliki sesuatu bakat atau kemampuan yang lebih dibandingkan manusia-manusia lainnya.

Adik tingkat saya ini yang saya ceritakan di awal cerita ini menurut saya adalah salah satu orang yang masuk dalam 20% tadi. Kelebihannya dalam mengkritisi persoalan dan kemampuannya dalam beretorika menurut saya merupakan bukti bahwa ia adalah “seseorang yang cerdas dan sekaligus bandel dalam intelektual” (meminjam istilah pak Andika Saputra, seorang dosen Arsitektur UMS)

Seseorang seperti ia ini menurut saya, akan menjadi sebuah orang yang spesial jika dapat kita arahkan dalam hal yang benar. Saya jujur bisa melihat kemampuannya ini jika diasah dapat membantu jalannya prestasi penelitian atau bahkan dakwah di masyarakatnya. Dalam perspektif saya, orang-orang yang cerdas sekaligus bandel secara intelektual ini hanya dapat diarahkan jika kita memahami alur pikirannya, menyamakan perspektif dia dengan kita, sekaligus mengarahkannya dengan hal-hal yang benar perlahan-lahan berdasarkan pemahamannya. Artinya kita memahaminya lewat argumentasi-argumentasi yang tersusun dalam diskusi. Tidak bisa kita serta merta langsung tabrak dengan logika kita. Karena pada nyatanya saat kita tabrak langsung seseorang langsung terhadap kepercayaannya, ia akan merasakan kekhawatiran, ancaman, ketakutan dan bahkan penolakan dengan hadirnya kita. Kita akan langsung memaksakan ancaman padanya.

Saat ini saya miris melihat kasus seorang remaja SMA bernama Afi Nihaya Faradisa yang Facebooknya sempat tidak bisa dibuka akibat menyebarkan beberapa “pesan-pesan inspiratif” yang mungkin bertabrakan dengan beberapa pendapat yang umum di kelompok masyarakat. Pada saat membaca tulisannya tentang keberagaman, saya memang merasa tak setuju dengan tulisannya. Namun, pada saat itu saya bersyukur karena di negeri ini sudah muncul satu orang lagi yang cerdas sekaligus bandel dalam intelektualnya. Banned akun media sosial bukan menjadi solusi bagi saya untuk membimbing orang seperti dik Afi ini. Saya lebih mengharapkan adik kita Afi ini dapat dibimbing oleh dengan baik oleh orang yang memahami ghazwul fikri yang benar lewat jalur diskusi atau berargumentasi.

Atau tidak, saran saya adalah iqro! Cobalah membaca Al Qur’an yang menjelaskan kisah nabi yang mencari Tuhan-Nya seperti di kisah Ibrahim dan Musa!

Sebagai alternatif juga, coba cari tulisan atau buku Buya Hamka yang bercerita tentang proses manusia mencari Tuhannya. Seingat saya, dalam buku Pendidikan Agama Islam dan Pandangan Hidup Muslim, Hamka bercerita pula tentang besarnya nikmat manusia serta besarnya alam semesta ini sebagai anugerah yang luar biasa untuk manusia.

Karena itu sejatinya iman bukan warisan. Karena manusia paham betapa besarnya nikmat yang Allah swt berikan padanya (dan ia juga tak mungkin membalasnya satu-satu persatu kecuali dengan menggunakan nikmat Tuhannya), maka ia secara sepenuh hati menyerahkan dirinya (aslama) menjadi seorang Muslim. Inilah pokok diin yang sesungguhnya. Menjadi seorang Islam.

Saya juga sebagai alumni Universitas Telkom (Tel-U) yang juga berkecimpung di dakwah kampus, saat ini miris dan sekaligus khawatir tentang perkembangan komunisme di kampus tercinta. Menurut berita yang saya kutip dari BBC Indonesia [1], Tel-U baru saja menskorsing mahasiswanya akibat mempropagandakan komunisme lewat buku-buku. Saya sepakat bahwa penyebaran paham komunisme itu dilarang di dalam kampus (dan memang seharusnya dicegah), tapi dimanakah peran aktivis dakwah kampus Tel-U dalam menyikapi hal ini? Bagaimana peran peer-to-peer antara mahasiswa kampus yang berfungsi untuk mencegah teman mahasiswanya berperilaku salah? Apa memang saat ini aktivis dakwah kampus memang masih terkotak-kotakkan dalam sebuah eksklusivitas yang tak mungkin bisa dijangkau oleh mahasiswa lain?

Saya sebetulnya ingin menyindir diri saya pribadi dan juga aktivis dakwah kampus di kampus saya tercinta dengan status Facebook dari pak Andika Saputra ini:

#
Lah yo kalau sekarang pegiat dakwah kampus justru mabuk dengan segala hal berbau pernikahan; yang dibaca buku soal pernikahan, yang diobrolkan soal pasangan hidup dan yang diadakan seputar kajian pranikah, apa iya mereka mampu mendakwahi kalangan mahasiswa-kritis yang kesehariannya lekat dengan Karl Marx, F. Nietzsche, M. Foucault hingga R. Dawkins?

Di sinilah terjadi keterpisahan antara pegiat dakwah kampus yang saya maksud dalam tulisan ini dengan kalangan mahasiswa-kritis yang dikenal cerdas sekaligus bandel dalam intelektual. Yang berdakwah tidak (mau) mengenali dan tidak berkenan meleburkan diri dalam komunitas yang dianggapnya salah jalan dan tersesat. Di sisi lain, mahasiswa-kritis tersebut pun tidak berkenan mendekatkan diri dengan komunitas dakwah kampus karena dipandang sekedar komunitas ‘menye-menye’ yang tidak mampu berdialektika pemikiran dengan mereka.
Kalau pegiat dakwah kampus tidak menyasar kalangan mahasiswa-kritis, lalu siapa yang merangkul mereka dan mengakrabkan mereka dengan Islam?
#

Betul-betul saya harus istigfar, karena diri ini masih belum mampu menarik gerbong-gerbong kemaslahatan yang lebih luas di kampus.

Karena itu bagi pegiat dakwah Ilmiy di kampus. Mari kita berbenah dan juga melihat sekeliling.

Apakah kita sudah menerapkan saran gurunda kita pak H.O.S Cokroaminoto dalam berjuang? [2]

#
Setinggi-tinggi ilmu, hingga rakyat saat itu membuka mata bahwa kolonialisme dan feodalisme bukan kondisi final yang ideal. Keluar dari rasa nyaman yang terlanjur tertanam di benak priyayi-priyayi Jawa yang dibuai politik etis Belanda, dan petani yang tenang-tenang saja.

Semurni-murni tauhid, sehingga pelaku dan penerus kebangkitan selalu takut akan azab Allah jika khianat dalam amanahnya menjalankan negeri ini. Seperti Umar bin Khattab ra. yang ditanya “Kenapa engkau tidak menghias Ka’bah dengan sutera?” dan menjawab “Perut orang mukmin lebih utama.”

Sepintar-pintar siasat, sehingga cita-citanya itu beliau wujudkan dalam wadah organisasi strategis, yang beliau setia kepadanya hingga akhir hayatnya, tak lupa mewarisi cita-citanya kepada generasi penerusnya.
#


seorang mantan mahasiswa yang pernah nyambi nyari duit di 2 laboratorium keilmuan di kampus, sambil sedikit nge-hangout 3 tahun lamanya dengan bro-bro di lembaga dakwah kampus

Dimas Prabu Tejonugroho

Sumber :
[1] BBC Indonesia. Mahasiswa dihukum karena buku kiri: ‘Paranoid akibat ketidaktahuan’. Diakses 1 Juni 2017

[2] https://astrinuristyami.wordpress.com/2013/08/19/setinggi-tinggi-ilmu-semurni-murni-tauhid-sepintar-pintar-siasat-h-o-s-tjokroaminoto/

Advertisements

cropped-dsc1048.jpg

Hidup ialah untuk menunaikan kewajiban. Hidup ialah untuk menunaikan kewajiban.

Jadi, bunuh diri ialah sebuah dosa yang besar dan maksiat yang paling hebat. Bunuh diri adalah bukti dari kita memungkiri hidup dan memungkiri kewajiban yang kita pikul sebagai seorang manusia. Bunuh diri adalah tindakan pengecut yang tak bertanggungjawab. Nyawa yang dibinasakan bukan hanya nyawa sendiri, akan tetapi nyawa masyarakat. Hilanglah sebuah kelengkapan masyarakat dari hilangnya satu nyawa..

Bolehkah orang bunuh diri karena pikirannya berkerut karena banyak masalah yang tidak dapat diselesaikannya? Tidak! Karena hidup ini bukan untuk bersenang-senang. Jangan sampai kita takut memakan yang pahit, karena cuma tahu manisnya. Kalau tidak manis, janganlah kemudian mengeluh, merajuk hingga menghilangkan nyawa.

Bolehkah seorang mahasiswa bunuh diri karena dia tidak lulus dalam ujian? Tidak! Karena tidak lulus dalam ujian ialah ujian juga. Mengapa kita putus asa dalam lantaran kita tidak berdiploma atau bersarjana, padahal bukan itu tempat bergantung di kemudian hari? Ribuan dan bahkan berjuta orang memperoleh diploma atau sarjana, namun tak lulus ujiannya dalam masyarakat.

Menambah ilmu penting, tetapi yang lebih penting menuntun kekuatan pikiran itu menurut jalan yang betul. Karena bukanlah dengan semata-mata banyak ilmu saja manusia berharga. Yang lebih penting adalah hasil kekuatan pikiran yang telah berilmu itu. Coba perhatikan bagaimana pentingnya penemuan tentang mesin listrik, radio, televisi dan lain-lain; bukanlah itu hasil kepandaian menggunakan ilmu, pandai menimbang dan kuat pula pikiran?

Bila orang bodoh ialah orang yang kurang akal, bila orang kejam adalah orang yang tidak punya rasa kasihan, maka orang yang tidak punya kemauan adalah orang yang tidak patut diberi nama manusia lagi.

Mengapa orang yang tidak punya kemauan tidak patut dianggap manusia lagi? Karena ia tidak tahu bagaimana cara hendak berdiri dalam perjuangan hidup. Padahal ia memiliki pertolongan cukup, kekuatan cukup, dan lapangan kerja luas. Namun, ia tidak mau menempuhnya seraya menggali lubang menuju akhir hidupnya sendiri.

Descartes berkata, “Tidak ada suatu keadaan yang lebih lekat kepada diri manusia melebihi kemauannya”. Ditambahkan lagi oleh Schopenhauer, bahwa hakikatnya seluruh hidup itu adalah kemauan.

Bagaimana kita mencapai kemauan itu? Setengahnya ada pada keberanian. Berani menjaga kehormatan diri. Berani untuk menjauhi dari keinginannya menghadapi perkara yang merendahkannya. Tidak mau perilakunya menjadi rendah karena itulah yang menghilangkan kemauannya.

Setengah dari kemauan itu juga kekuatan dan percaya diri. Ingat bahwa kepercayaan akan membawa kemenangan. Betapapun besarnya rintangan, akan mampu dihadapi kalau yang menempuhnya itu mempunyai hati yang tenang dan sabar.

Bagaimana kita menjalankan kemauan itu? Singkatnya untuk menjalankan kemauan itu, tiap orang harus merdeka. Merdeka yang dimaksudkan itu ialah:

Tidak merampas atau menyinggung kemerdekaan orang lain. Karena tiap-tiap manusia terkekang oleh undang-undang dan hukum pergaulan hidup.

  • Tidak putus asa nya ia karena keras hati menuju cita-cita yang besar. Tidak tergeserpun karena satu halangan, baik karena rintangan musuh atau rintangan ketakutan. Dikerjakan suatu kewajiban yang dirasakan hatinya, bukan karena upah, tapi karena itu yang diperintahkan hatinya.
  • Tiada takut menderita karena melaksanakan kewajiban. Tidak takut menyembunyikan kebenaran, walaupun banyak orang yang akan benci.
  • Tidak ditipu oleh kemasyuran dan pujian. Tidak membebek dan mengangguk menurut kata orang lain. Ia berkata karena hatinya yang berkata dan diam karena hatinya berkata diam.
  • Hormat pada dirinya dan sanggup memikul risiko dan bertanggungjawab. Dirinya tegak sendiri dan berdiri sendiri, bukan dibawah pengaruh orang lain. Kuat akan tetapi tidak sombong. Kemauannya kuat karena kuat keyakinannya.

Lalu bagaimanakah saat kita mengalami sebuah keraguan di dalam hati saat melakukan pekerjaan? Lekas kerjakan sesuatu yang dikehendaki dan sanggup dilakukan! Berhasilnya orang dalam pekerjaan itu karena dikerjakan sambil ditimbang, bukan ditimbang tapi tidak kerja!

Disarikan dari kalimat-kalimat dalam buku Lembaga Hidup, karya Prof. Dr. Hamka. Dibagikan dalam sebuah grup WA di bulan Juni 2016

Mencari-Nya (Antara Logos dan Mythos)

338840

Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk yang lemah. Kelemahan ini dirasakan karena begitu luasnya alam yang ditempuh, begitu besarnya bagian dunia yang ia lihat, dan begitu kerasnya alam semesta dalam memperlakukan manusia. Karena itu sejak dahulu, manusia selalu mencari tentang adanya kekuatan yang mengatur segala sesuatu yang ia lihat dan yang ia rasakan. Ini adalah sebuah konsekuensi dari manusia yang berpikir menggunakan akalnya secara benar dan secara logis. Dengan akalnya tersebut, manusia merasakan bahwa ia adalah sebuah makhluk yang tidak berkuasa di dunia ini. Kecilnya ia terlihat saat ia tak mampu untuk menguasai alam dengan kekuatan yang dia punya. Ada kekuatan yang lebih besar yang ia rasakan yang menyelimuti seluruh alam, yang dia tidak dapat lihat, tapi dapat ia rasakan. Kemampuan mata manusia yang tidak bisa melihat secara fisik ini yang mendorong manusia terus mencari dan mencari dimana kekuatan besar tersebut.

Karen Armstrong menjelaskan bahwa manusia memiliki dua cara berpikir, yang pertama adalah logos dan yang kedua adalah mythos. Ketidaksesuaian (gap) antara apa yang dia manusia lihat dan apa yang manusia rasakan membuat manusia mencarinya dengan logos. Pengertian logos tersendiri dijelaskan Karen Armstrong :

“Logos (nalar) adalah cara berpikir pragmatis yang memungkinkan orang yntuk berfungsi secara efektif di dunia. Ia, karenanya, harus bersesuaian secara akurat dengan kenyataan eksternal. Manusia membutuhkan logos untuk membuat senjata yang efisien, mengatur masyarakat, atau merencanakan sebuah ekspedisi. Logos berpandangan ke depan, terus-menerus mencari cara-cara baru untuk mengendalikan lingkungan, meningkatkan wawasan lama, atau mencipta sesuatu yang baru. Logos penting dalam kehidupan spesies kita…”[1]

Prof. Dr. Hamka pada bukunya Pendidikan Agama Islam mencatat sebagian sejarah pergolakan manusia ini dalam mencari Tuhan ini di bab awal bukunya :

“Semasa kehidupan gua, disembahlah keseraman rimba, kayu-kayuan dan batu. Kemudian itu disembah gunung. Dan setelah hidup berpindah dari gua baru ke tepi sungai disembahlah air yang mengalir, dipuja pasang naik dan pasang turun. Dan kadang-kadang disembah juga ikan. Dan di zaman perburuan dipujalah binatang-binatang yang dirasa ada hubungannya dengan suku.”[2]

Catatan Prof. Dr. Hamka ini pula yang disetujui oleh Karen Armstrong. Armstong juga mencatat bahwa manusia sejak zaman dahulu sudah mencari adanya kekuatan yang bekerja di alam semesta ini. Pencarian tersebut ada yang digambarkan dalam lukisan dinding yang menceritakan ritual-ritual yang terjadi dimasa lampau, dimana penyembahan yang dilakukan terhadap arwah-arwah dan makhluk-makhluk gaib lainnya[3]. Penyembahan ini dilakukan disaat manusia pada zaman itu melakukan aktivitas bertahan hidup, seperti berburu, mencari makan dan lain sebagainya. Ini dilakukan karena manusia masih belum mengetahui tentang arti dibalik pekerjaan dan kepercayaan yang dia lakukan.

Kemudian dengan semakin meningkatnya kemampuan manusia dalam mendapatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki, maka manusia pula semakin berkembang pola pikirnya terkait Tuhan. Pencarian tentang arti Tuhan masih belum terselesaikan saat manusia masih dalam pola pikir untuk memuja alat kelamin[4], memuja kepada keturunan hewan (totemisme)[5], memuja kepada tuah padi[6], dan lain-lain sebagai penguasa hidup manusia. Terlepas dari segala objek atau subjek yang disembah, akan tetapi dapat disimpulkan jika kepercayaan terhadap Yang Maha Kuasa dan Gaib sudah menjadi naluri manusia sejak dahulu kala.

Prof. Dr. Hamka sendiri menjelaskan bahwa memang kepercayaan terhadap Yang Maha Kuasa dan Gaib sendiri merupakan perasaan yang paling murni dalam jiwa manusia. Setiap manusia hakikatnya sudah mempunyai dan memiliki naluri tersebut. Hanya saja, banyak manusia itu sendiri membantah akan eksistensi Yang Maha Kuasa karena keraguan-keraguan yang diperoleh dari cara berpikir manusia tersebut. Pembantahan itu sebenarnya bukan dari hatinya yang paling terdalam, karena bukan begitu seharusnya jiwa terdalam seorang manusia[7]. Sejauh-jauh perjalanan akal manusia akan berhenti dan kemudian insyaf akan kelemahan diri, berhadapan dengan Yang Maha Kuasa.

Pemikiran mencari Tuhan tersebut akhirnya berada dalam batas yang tidak bisa diseberangi lagi oleh pemikiran manusia. Batas yang tidak diseberangi itu bisa saja diseberangi, akan tetapi bukan dengan pendekatan logos, tapi dengan mythos (mitos). Karen Armstrong melanjutkan lagi kemudian definisi logos:

“…Tetapi, ia memiliki keterbatasan : ia tidak dapat melipur kesedihan manusia atau menemukan makna tertinggi dari perjuangan hidup. Untuk yang itu, manusia beralih kepada mythos atau mitos..”[8]

Agama, walaupun keberadaannya lebih dari sekedar mitos, mengatur tentang definisi Tuhan tersebut. Definisi Tuhan itu kemudian ditambahkan dengan berbagai macam disiplin, ritual, ibadah dan lain sebagainya sehingga terwujudlah di manusia itu perasaan ekstasis. Perasaan ‘merasa enak’, dan melangkah keluar dari yang biasa[9].  Perasaan ini yang timbul akibat manusia sudah mengenal yang namanya Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pencipta dan Yang Maha Satu. Lalu menjadi sebuah guyon bagi kita akan apa yang kemudian dirasakan oleh penganut atheisme? Ekstasis seperti apakah yang mereka rasakan karena tidak merasa memiliki Tuhan?

Kembali lagi ke konsep Tuhan, bahwa berbagai agama mengatur definisinya masing-masing terkait Tuhan. Di Kristen dikatakan adanya Yesus, di Buddha dikatakan adanya Buddha, dan di Hindu dikatakan adanya dewa-dewi, dan sebagainya. Lalu bagaimana konsep Tuhan yang benar?

Islam menyediakan solusi agar manusia bertafakur dan melihat alam sekeliling. Selain itu, Islam menyatakan bahwa silahkan manusia pergunakan akal (logos) yang diberikan agar mampu melihat kebenaran dan kenyataan yang ada. Arahan, perintah sekaligus ancaman Allah swt sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Araf ayat 179 :

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah), Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai

Konsep Tuhan untuk manusia sebenarnya sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Sebagai penyampainya adalah nabi dan rasul yang diutus oleh Allah swt untuk menyebarkan bagaimana konsep Tuhan tersebut dan bagaimana mendekatkan padanya. Berbagai macam bantahan akan konsep Tuhan di agama lain seperti Kristen, Hindu dan Buddha sudah termaktub dalam Al-Qur’an. Tuhan itu ialah satu, dan tidak diperanakan ataupun tidak mempunyai anak. Tuhan itu bukanlah seorang manusia. Tuhan itu bukanlah terdiri dari banyak Tuhan yang mengatur setiap-setiap urusan.

Tuhan itu ialah satu, dan satu itu yang mengatur banyak urusan. Manusia secara hakikatnya sudah pasti meyakini dan mengakuinya serta mendekatkan diri pada-Nya.

[1] Karen Armstrong, Masa Depan Tuhan, hal. 12

[2] Prof. Dr. Hamka. Pendidikan Agama Islam. Hal.2

[3] Karen Armstrong, Masa Depan Tuhan, bagian Homo Religiosus

[4] Prof. Dr. Hamka. Pendidikan Agama Islam, hal.3

[5] Ibid, hal 4 dan 5

[6] Ibid, hal 5

[7] Prof. Dr. Hamka, Pendidikan Agama Islam, hal 7

[8] Karen Armstong, Masa Depan Tuhan , hal 12

[9] Ibid, hal 15

Human : The Perfect Creation

best_form_circ_small

Manusia merupakan sebuah ciptaan Allah swt yang paling sempurna. Kesempurnaan ini disebtkan dalam  Q.S Surat Al-Isra ayat 70. Dalam ayat tersebut, Allah swt berfirman :

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”

Akan tetapi, kesempurnaan ini juga sempat menjadi pertentangan antara makhluk-makhluk lain dengan Allah swt karena sifat manusia yang secara natural akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah. Terjadi pertentangan atau penolakan antara malaikat dan Allah swt yang dirangkum dalam potongan surah Al-Baqarah ayat 30 berikut :

“…Mereka berkata : Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman : “Sesunnguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Allah swt sendiri sudah menyatakan bahwa tujuan manusia ialah menyembah Allah dan menjadi seorang khalifah di muka bumi[1]. Arti istilah ‘khalifah’ berarti pemimpin di muka bumi. Manusia sebagai khalifah bertugas untuk memberdayakan bumi dengan segala isinya. Perlu diketahui, tugas menjadi khalifah ini merupakan tugas yang sangat berat. Gunung, langit dan bumi sempat ditawarkan untuk menjadi khalifah di muka bumi, akan tetapi mereka menolaknya karena amanah itu sangat berat dan mereka khawatir pula tidak bisa melaksanakannya[2]. Manusialah yang akhirnya dijadikan khalifah di muka bumi ini.

Walaupun fungsi penciptaan manusia ini sangatlah sulit dan berat, akan tetapi bagi manusia yang bisa melaksanakan tujuannya tersebut, maka Allah akan memberikan hadiah terbesar yaitu akhirat. Surga dengan segala isinya telah dipersiapkan untuk menyambut pejuang-pejuang cerdas yang menyambut mati dan akhiratnya.

Tentu saja, karena begitu beratnya tanggungjawab ini, Allah memberikan modal awal untuk manusia agar bisa menjalankan fungsi penciptaan ini. Modal ini yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain, dan juga mattepat untuk menjalankan  amanah sebagai khalifah di bumi. Modal tersebut disebut sebagai 7 Pilar Kehidupan Manusia. Tugas manusia jugalah untuk memanfaatkan 7 pilar kehidupan manusia ini sehingga bisa terlaksana dengan baik sesuai dengan tujuan penciptaan manusia.

Pilar kehidupan manusia pertama adalah, alam semesta. Alam semesta inilah yang menjadi modal awal manusia dalam menjadi khalifah di muka bumi. Fungsi alam semesta terdiri dari dua fungsi, yaitu : pengenalan dan pemanfaatan. Fungsi pengenalan berarti alam semesta berfungsi untuk mengenalkan kekuasaan Allah swt agar manusia mengimani adanya Allah swt sebagai zat yang Maha Kuasa dan Maha Satu. Fungsi yang kedua adalah pemanfaatan, berarti manusia dapat memanfaatkan alam semesta ini sebagai nikmat Allah yang akan diubah menjadi hal lain.

Sayangnya, umat manusia hari ini terlena dengan alam semesta ini. Alam semesta tidak dijadikan sebagai alat untuk mengenal Tuhan. Alam semesta hanya dijadikan sebagai objek benda yang digunakan sebagai pelengkap rutinitas manusia, tanpa ada pengenalan siapa yang menciptakan alam semesta itu. Bahkan yang ditekankan adalah bagaimana manusia mampu menggunakan benda sebagai representasi dari alam semesta tersebut dan memanfaatkannya, walau akhirnya tidak menjadi penambah keimanan. Iman tidak dijadikan sebagai patokan utama dalam beraktivitas.

Prof. Dr. Hamka sempat menuliskan pendapatnya mengenai hal ini, tentang berbagai macam manusia yang hidup dengan kekosongan, tanpa mengerti artinya walaupun sudah berusaha dengan keras[3]. Pemahaman ini yang ada dalam pemikiran ilmuwan Barat sekarang yang hanya melakukan fungsi pemanfaatan tanpa adanya fungsi pengenalan.

Umat Islam sendiri celakanya tidak melakukan fungsi pengenalan dan pemanfaatan ini. Disfungsinya umat Islam dalam beberapa fungsi ini terlihat karena mundurnya umat Islam dalam hal teknologi. Padahal seharusnya umat Islam yang lebih berhak dalam menikmati alam semesta ini, karena patokannya berdasarkan Allah swt.

Maka dari itu sebagai modal utama dalam melaksanakan fungsi penciptaan, manusia khususnya umat Islam harus mencari ilmu dan menjalankan pembelajarannya agar bisa menjadi penguasa alam semesta.

Pilar kedua, adalah akal. Akal digunakan untuk berpikir tentang alam semesta ini. Akal berfungsi untuk mendeteksi kebenaran. Secara prinsip, untuk mendeteksi kebenaran, maka akal bisa dibagi menjadi dua. Prinsip tersebut adalah kausalitas dan juga antikontradiksi. Kausalitas berarti akal dalam kinerjanya mendukung sebab-akibat, dan antikontradikasi berarti akal menolak sesuatu yang tidak pas atau tidak benar.

Hasilnya, akal dapat mendeteksi kebenaran. Kebenaran ini sendiri terdiri dari 3 kebenaran. Kebenaran tersebut ada kebenaran secara indera, kebenaran secara akal, dan juga kebenaran secara informasi. Masing-masing kebenaran tersebut memiliki indikatornya masing-masing.

Kebenaran indera merupakan kebenaran yang dirasakan oleh indera-indera manusia, seperti penglihatan, pendengaran dan yang lainnya. Kebenaran indera ini merupakan kebenaran yang paling tersurat, bahkan hewan pula bisa membedakannya. Berbeda dengan dengan kebenaran akal dan informasi yang harus dicari secara tersirat.

Akal ini menjadi keunggulan utama manusia dalam melaksanakan fungsi penciptaannya dikarenakan makhluk-makhluk lain tidak ada yang mempunyai akal ini dalam diri mereka.

Pilar ketiga, adalah fitrah. Fitrah menjadi tolor ukur jiwa dalam mengenal benar dan salah. Fitrah sudah ada dalam diri manusia, dan setiap manusia memilikinya. Seperti contohnya dalam hal senyum, secara fitrahnya manusia memahami bahwa senyum itu indah. Maka dari itu, manusia akan meraasa bahagia jika tersenyum dan melihat manusia lain tersenyum.

Pilar keempat, ialah syahwat. Syahwat berfungsi sebagai mesin pendorong manusia untuk melakukan perubahan. Syahwat bisa dilihat contohnya sebagai keinginan manusia dalam melakukan sesuatu. Contoh spesifiknya adalah saat manusia berusaha untuk meraih kepemimpinan dan meraih posisi, itu ditentukan karena adanya syahwat didalamnya. Syahwat ini bisa jadi benar dan bisa jadi salah, tergantung bagaimana syahwat ini bisa dikendalikan oleh manusia.

Pilar yang kelima adalah syariah. Syariah yang berarti hukum, adalah sebuah indikator dari sebuah perbuatan baik dan buruk yang dilihat dari akal dan jiwa. Kadangkala akal dan jiwa manusia bisa rusak atau kacau diakibatkan pengaruh ilmu, pemikiran, dan perilaku yang merusak manusia. Syariah berfungsi untuk memastikan manusia ada pada tempatnya atau on the track.

Pilar yang keenam adalah kebebasan memilih. Manusia memiliki kebebasan dalam hal memilih apapun yang dijalani dan apapun yang diyakini. Akan tetapi, posisi manusia di akhirat tersebut akan ditentukan berdasarkan pemilihan manusia dalam berbagai keputusan di dunia. Sehingga kebebasan memilih ini dapat menjadi bumerang saat manusia sudah kacau dalam dasar dirinya.

Pilar ketujuh adalah waktu. Seperti yang disebutkan dalam Q.S Al Ashr, seluruh manusia itu merugi kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Waktu adalah aset paling berharga dan mahal yang dimiliki manusia, karena waktu yang hilang tidak bisa dikembalikan lagi. Hingga akhirnya manusia mencari kehidupan di dunia, akan tetapi manusia juga dibatasi oleh waktu akan hadirnya di dunia. Ini yang menjadi pertanda agar manusia selalu menggunakan potensi dan kekuatan dirinya untuk menjalankan dua fungsi penciptaan yang ditetapkan Allah.

[1] Q.S Surat Al Baqarah ayat 30 dan QS Adz Dzariyat ayat 56

[2] Q.S Surat Al-Ahzab ayat 72

[3] Prof. Dr. Hamka. Pandangan Hidup Muslim.

*Tulisan ini adalah penugasan yang diberikan oleh Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Indonesia Tanpa JIL Maret -Juli 2015

Islam : Ad-Diin Satu-Satunya di Dunia

Pencarian manusia akan Tuhan bersamaan dengan pencarian manusia terhadap agama. Agama dan Tuhan tidak bisa terpisah karena secara tidak langsung agama menyediakan jalan untuk manusia agar mampu mengenal Tuhannya.

Pokok utama dari agama adalah menyediakan sebuah jalan pengenalan untuk manusia berupa jalan hidup, tuntunan perilaku dan juga cara pandang manusia mengenai alam semesta. Oleh karena itu, indikator pertama dan paling utama dalam beragama yang utuh dan lengkap adalah mengakui adanya Tuhan dan aturan dan juga jalan yang ditetapkan Tuhan.

Istilah agama sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu, a-gama. Istilah pertama a-gama ini berarti ‘tidak’ (a) dan ‘kacau’ (gama).  Dalam arti bahasa Sansekerta ini,  bisa dikatakan agama adalah pencegah dari kacau dalam diri manusia. Manusia yang seringkali lepas dari fitrahnya sendiri dalam pengertian ini, dikendalikan oleh agama. Agama berfungsi sebagai peraturan dan juga pencegah dari kacaunya tindakan dan perilaku manusia dalam bertindak dan berusaha. Oleh karena itu, agama menjadi patokan dalam kehidupan manusia.

Dalam beberapa definisi lain menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama adalah ‘sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya’. Sedangkan agama dalam istilah bahasa Inggris adalah ‘religion’, atau berasal dari kata dasar dalam bahasa Latin ‘religio’ yang berarti mengikat. Arti menurut istilah religion ini adalah bahwa agama adalah pengikat bagi diri manusia.

Dalam definisi yang ditetapkan Islam, agama dinyatakan dengan istilah ad-din. Din sendiri berarti ‘hutang’ dalam bahasa Indonesia[1]. Dikatakan sebagai hutang adalah karena manusia akan selalu berhutang kepada Tuhannya.

Manusia selalu berhutang karena Tuhannya lah yang menjadikan dirinya ada dari tiada, menciptakan dirinya dengan sebaik-baiknya tanpa diri manusia itu sendiri yang memerintahkan segala isi dalam diri manusia itu untuk bekerja dengan baik dan benar, dan menciptakan berbagai kenikmatan lain yang manusia sendiri tidak bisa menghitungnya satu persatu. Karena manusia itu ada, maka rasa syukur dan berterimakasih dari manusia itu yang membuat manusia harus mengenal dan menyembah Tuhan.

Konsep ad-din menyatakan juga walaupun manusia selalu berusaha untuk membayar hutang tersebut, Allah akan selalu membalasnya lagi dengan nikmat yang jauh lebih besar dan jauh lebih baik daripada sebelumnya. Inilah yang menyebabkan hutang manusia menjadi tidak bisa terbayar oleh dirinya sendiri. Bahkan semua jalan dan cara untuk membayar hutang yang dimiliki oleh manusia itu juga merupakan kepunyaan dari Allah swt.

Inilah yang membuat manusia harus menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Allah swt untuk membayarnya. Penyerahan manusia secara total ini yang menjadi tujuan utama dari ad-din. Totalitas penyerahan diri manusia ini yang dengan senang hati dan rela ini merupakan dasar untuk percaya atau menjadi dasar untuk beriman. Kepercayaan tersebut tentu diraih dari perjalanan akal manusia yang sudah mencari dengan pemikiran dan pengetahuannya sehingga akal manusia tersebut tahu mengapa dia harus percaya. Tingkatan perjalanan akal dan pengetahuan yang dipakai ini yang pada akhirnya membuat tinggi martabat Iman (percaya) dan Islam (penyerahan) pada diri seseorang.

Ad din sendiri tidak bermakna hanya untuk Islam saja sebenarnya. Akan tetapi, Islam adalah ad din yang sebenarnya karena ditujukan kepada hambanya yang mampu untuk menggunakan fungsi akalnya dalam mengenal Allah swt. Akal ini yang menjadi pembeda dari pemahaman orang-orang yang sudah merasa menyerahkan diri sepenuhnya dengan Allah swt, akan tetapi tidak menyerahkan dirinya sepenuhnya dengan aturan dan juga tuntutan yang digariskan oleh Allah swt.

Islam berarti ketundukan, penyerahan dan mengikuti hanya kepada Allah swt. Ketundukan dengan penyerahan diri sepenuh hati tersebut membuat tiada yang lain selain Allah swt. Inilah yang tidak dipahami oleh orang-orang yang tidak menggunakan akal dan pemikirannya untuk memikirkan apa yang dibalik dari setiap nikmat dan juga keindahan yang dia miliki dan lihat di bumi ini.

Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan ini diakibatkan konsep Islam yang hanya bersandar kepada sumber-sumber yang utama yaitu Al-Qur’an dan hadits. Kesempurnaan ini yang tidak dimiliki oleh agama dan kepercayaan yang lain yang sumbernya selalu berubah-ubah tergantung alam dan perkembangan pemikiran manusia. Patokan dalam kesempurnaan ini yang menjadikan untuk menjadi sempurna dan baik dalam Islam, maka kembalilah ke asal pemikiran atau asas yang dahulu ditetapkan. Bukan mengubahnya sesuai akal dan perkembangan pemikiran manusia. Karena akal dan pemikiran manusia memiliki kelemahan yaitu tidak bisa menjangkau hal-hal yang metafisika serta kadang dapat bisa rusak diakibatkan rusaknya perilaku dan penurutan diri akal terhadap hawa nafsu. Oleh karena itu, pengembalian manusia kepada Islam, menjadi hal yang mutlak untuk mencapai kesempurnaan diri yang digariskan dalam ad din.

[1] Prof. Naqib Al Attas. Islam dan Sekularisme.

*Tulisan ini ditulis untuk penugasan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Indonesia Tanpa JIL Chapter Bandung Angkatan Pertama yang dilaksanakan bulan Maret – Juli 2015

Sekularisme

secularism

Menurut Syed Muhammad Naquib Al Attas, dalam bukunya Islam and Secularism, Sekular berasal dari bahasa Latin, yaitu saeculum. Saeculum dalam bahasa Latin berarti umur (age), generasi (generation) dan waktu hidup (lifetime)[1]. Istilah saeculum sendiri menggambarkan tentang konotasi antara istilah lokasi dan waktu;  dimana waktu menandakan istilah “masa hari ini” atau “sekarang” dan lokasi menandakan istilah “dunia” atau persepsi “dunia terhadap sesuatu”. Saeculum juga banyak diartikan sebagai century[2]. Ini menandakan bahwa sekular menyatakan pemahaman tentang contemporary events atau kejadian kontemporer (masa saat ini)[3]. Saeculum juga banyak dikonotasikan dengan kata lain, yaitu sementara (temporal). Istilah “sementara” menyatakan bahwa ada keterbalikan dari kata abadi (eternal). Keterbalikan dari kata abadi ini menunjukkan bahwa dalam sekuler dipahamkan bahwa pengambilan nilai-nilai yang diambil bersifat sementara atau yang berasal langsung dari dunia ini, bukan dari nilai-nilai Tuhan atau dari yang abadi. Kemudian jika ditilik lebih jauh dari arti bahasa dari segi makna contemporary events, sekular berarti sebuah pemahaman yang melihat kejadian-kejadian di dunia ini dari aspek historisnya. Konsep sekular ini juga berarti mengacu pada kondisi dunia pada sebuah waktu tertentu.

Istilah sekuler diperkenalkan pertama kali oleh seseorang yang berkebangsaan Inggris yang bernama George Jacob Holyokae pada tahun 1951 dalam bukunya “The Origin and Nature of Secularism”. Holyokae sebagai seorang yang agnostik mengatakan dalam bukunya English Secularism halaman 17 mengatakan sekuler sendiri adalah,”

“a form of opinion which concerns itself only with questions, the issues of which can be tested by the experience of this life”

Lebih eksplisitnya lagi Holyokae mengatakan dalam bukunya Principle of Secularism (p.35),

“Secularism is that which seeks the development of the physical, moral, and intellectual nature of man to the highest possible point, as the immediate duty of life — which inculcates the practical sufficiency of natural morality apart from Atheism, Theism or the Bible — which selects as its methods of procedure the promotion of human improvement by material means, and proposes these positive agreements as the common bond of union, to all who would regulate life by reason and ennoble it by service”

Dalam pendapatnya yang lain di bukunya English Secularism halaman 35 mengatakan kembali,

“Secularism is a code of duty pertaining to this life founded on considerations purely human, and intended mainly for those who find theology indefinite or inadequate, unreliable or unbelievable. Its essential principle are three :

  1. The improvement of this life by material means.
  2. That science is the available Providence of man.
  3. That it is good to do good. “Whether there be other good or not, the good of the present life is good, and it is good to seek that good”[4]

Dapat disimpulkan dengan sekuler,  Holyokae sendiri berpendapat bahwa kemajuan manusia bisa diraih dengan melupakan teologi. Teologi tersebut dianggap sebagai tidak reliabel dan tidak dapat dipercaya dalam memajukan manusia dalam kehidupan. Kemajuan tersebut kemudian dapat dicapai lewat aspek benda (material) dalam segala proses hidup, serta kemajuan tersebut didapatkan lewat proses perubahan yang terus terjadi dalam masyarakat.

Tabiat sekularisme seperti yang dipaparkan Harvey Cox (seperti yang dikutip Syed Muhammad Naquib Al Attas, dalam bukunya Islam and Secularism), terdiri dari tiga. Pertama adalah, disenchantment of nature, yaitu penghilangan pesona alam atau pesona Illahi dalam melihat alam.

Seperti yang Holyokae katakan terkait benda, bagi orang sekuler semua diukur dengan adanya benda (kebenaran indera). Sehingga orang sekuler sendiri tidak merasakan adanya keindahan atau arti dari ciptaan Tuhan.

Kedua adalah desacralization of politics. Istilah ini berarti seluruh hajat hidup orang banyak yang tidak boleh disangkutpautkan dengan agama. Pemisahan ini menjadi penting karena teologi atau agama dianggap sebagai benda yang harus ditempatkan dalam rumah ibadah atau saat ibadah saja.

Ketiga adalah deconsecration of values, yang menyatakan bahwa nilai (value) dan norma (norms) akan selalu berubah terus menerus. Ketidakabadian nilai yang dianut ini menyebabkan orang sekuler terlihat plin-plan dan tidak pasti dengan apa yang dia anut. Agama menawarkan kepastian, akan tetapi dalam pandangan terkait nilai ini, sekularismen menawarkan ketidakpastian dan keambiguan.

Bukti yang sering dipaparkan penganut sekularisme dalam melupakan teologi dalam kehidupan adalah ketidakcocokan teologi untuk diterapkan di semua lini kehidupan. Ketidakcocokan tersebut didasarkan pada pengalaman kelam bangsa Eropa terdahulu pada abad 5-15 M yang mengalami abad Kegelapan (Dark Ages).

Dark ages sendiri dimulai saat Kerajaan Romawi Barat (Western Roman Empire) mengalami kejatuhan dan perpecahan sehingga bangsa Eropa menjadi terbelah dan terus-terus berebut kekuasaan. Di saat perebutan kekuasaan itulah, kesadaran akan beragama sedang berada di puncak-puncaknya, sehingga Gereja Roma lah yang memegang kekuasaan tertinggi di Eropa pada saat itu. Pada masa dahulu sebelum dark ages, memang bangsa Eropa masih menyembah dan memuja sihir dan alam kepercayaan lain sebagai dasar mereka.  Akan tetapi, Gereja Roma menyalahgunakan kekuasaan tersebut dengan pemaksaaan dan pembunuhan nalar. Gereja Roma dan seluruh sistem didalamnya dianggap sebagai representasi Tuhan, dan manusia harus mengikuti mereka. Ini berbeda dengan konsep Islam yang membedakan manusia berdasarkan amal perbuatannya. Jika perbuatannya sudah rusak maka tidak perlu diikuti manusia tersebut sebagai teladan.

Akibat hegemoni kekuasaan Gereja Roma yang mematikan nalar dan akal tersebut,  bangsa Eropa mengalami penurunan kualitas hidup. Sehingga menjauh dari agama menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki kualitas hidup di Eropa. Hingga akhirnya terjadi rennaisnce, yang menjadi kebangkitan bangsa Eropa karena menjauhi Kristen.

Padahal, Islam tidak mengalami problematika seperti Kristen. Dengan menganut Islam dengan sebenar-benarnya, maka manusia akan meraih kemenangannya. Ini dibuktikan dengan salah satu hadits Nabi yang menceritakan bahwa penakluk Konstantinopel adalah yang sebaik-baiknya pemimpin dan juga pasukan dalam Islam. Ramalan tersebut terbukti dalam penaklukan Konstatinopel yang ditaklukkan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih dengan pasukannya yang terbukti kualitasnya dalam beribadah.

Perubahan Barat menjadi sekuler ini menurut Dr. Adian Husaini, terdiri dari beberapa faktor. Diantaranya problem sejarah Kristen di Eropa yang sarat dengan kekerasan, problem teks Bibel yang saling bertentangan di dalamnya dan juga dengan sains, dan terakhir permasalahan teologis Kristen yang tidak bisa dipahami dengan akal sehat. Agama telah digantikan hal-hal lain seperti football dan lain-lain.

Karena itu, sebenarnya sekular sendiri sebenarnya merupakan definisi yang diturunkan dari kesadaran dan pengalaman kaum Eropa yang diakibatkan dari permasalahan yang terjadi dalam hidup beragama di Eropa. Pemuka agama Kristen di Eropa tidak bisa memberikan solusi pemecahan dari buruknya kualitas masyarakat Eropa dengan pencerahan agama. Pencerahan tersebut digantikan dengan paham pelepasan agama dari urusan publik.

Eropa saat ini berubah menjadi Barat (Western). Barat kini sudah menjadi sebuah ideologi dan kepercayaan sendiri yang berjalan sendiri. Barat kemudian dibawa oleh keturunan-keturunan Eropa ke seluruh negeri hingga menjadi lifestyle. Kristen sudah terbaratkan. Sementara dasar-dasar Kristen sendiri sudah hilang ditelan sekularisme.

[1] http://latindictionary.wikidot.com/noun:saeculum

[2] https://eighthdayinstitute.wordpress.com/tag/saeculum/

[3] Islam and Secularism, Syed Muhammad Naqib Al Attas, 1931

[4] Pendapat-pendapat Holyokae ini bisa ditemukan di http://www.newadvent.org/cathen/13676a.htm

*Tulisan ini ditulis untuk memenuhi tugas Sekolah Pemikiran Islam Indonesia Tanpa JIL Chapter Bandung Angkatan Pertama yang dilaksanakan pada bulan Maret-Juli 2015

 

Atheis – 1949 (Book Review)

Atheis

Atheis merupakan sebuah novel karangan Achdiat Karta Mihardja yang diterbitkan tahun 1949. Berkisah tentang pergolakan pemikiran seorang Muslim bernama Hasan yang meragukan keimanannya sendiri setelah bertemu temannya yang berbeda pandangan dan pemahaman. Berbagai penghargaan pemerintah dan dari UNESCO pada era 70-an mengikrarkan Atheis sebagai salah satu novel terbaik yang dimiliki Indonesia.

Continue reading “Atheis – 1949 (Book Review)”