Sebuah Cerita Kehidupan

Suara kereta rel listrik yang kutumpangi dan gelapnya malam menemaniku sampai ke stasiun tujuan. Aku terduduk diam di kursiku. Sendirian di gerbong. Kupandangi pemandangan gerbong lain yang masih aktif di kehidupan malam ini. Masih banyak segerombolan pemuda yang mengamen, pedagang-pedagang asongan yang masih menawarkan dagangannya yang tersisa, pengemis-pengemis yang meminta harapan dari sepinya penumpang di gerbong itu, dan juga pelajar-pelajar sekolah yang melepas penat setelah belajar di sekolah.

Orangtuaku tidak habis pikir mengapa aku mau menghabiskan waktu di sekolah yang jauh dari rumah. Jaraknya yang berpuluh-puluh kilo dari rumah itu membuat aku selalu menghabiskan waktu di jalan, tepatnya di kereta ini. Menengok kehidupan di gerbong ini, memahami dan bertemu orang-orang yang seperjalanan merupakan sarapan dan makan malam bagiku setiap hari. Makan siangnya pun dihabiskan dengan obrolan dengan sahabat-sahabat terbaikku di sekolah. Sampai sore tiba, kami menyusun sebuah kisah klasik yang akan kami bicarakan jika kami bertemu di zamannya kami tua nanti. Ah, indahnya kehidupan seorang muda.

Hingga akhirnya aku sampai di stasiun tujuan. Sepinya gerbong kereta yang kutumpangi tadi hampir sama dengan suasana di stasiun ini. Mungkin karena hari sudah menunjukkan jam 10 malam, orang-orang sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Aku pun berjalan menuju pintu keluar dari stasiun ini. Mencari angkutan umum yang mengantarkan aku pulang ke rumah.

Selagi aku menunggu angkutan umum yang membawa aku pulang, aku melihat sosok seorang laki-laki yang tampaknya juga menunggu angkutan umum sepertiku. Guratan wajahnya ceria, tatapannya fokus kedepan dan terlihat pembawaannya yang tangguh. Sambil memegang sebuah map, beliau masih bisa tersenyum di gelapnya malam ini. Aku heran kenapa dirinya terlihat sangat senang.

Sampai kemudian datanglah sebuah mobil angkutan umum yang membawa aku dan laki-laki ini pergi ke tujuan kami masing-masing. Karena sepinya malam, hanya aku dan beliau yang menaiki mobil ini. Pembawaannya masih belum berubah.

“ Dik, baru pulang sekolah?”, sapa laki-laki itu.

Keherananku bertambah. “Iya pak, saya baru pulang dari sekolah”, jawabku.

“Sekolahnya dimana dik?”

“Di SMA X pak yang ada di kota Y”.

“Wah sekolahnya di SMA X? Satu alumnus dong dengan adik saya. Kalau saya dulu di SMA Z sekolahnya.” , wajahnya semakin ceria saat menyebutkan almamaternya yang merupakan salah satu sekolah favorit di kota tempat aku bersekolah.

Dimulai dari almamater yang sama daerahnya, topik obrolan diantara kami pun mulai berlanjut. Dari asal kami darimana, kondisi keluarga, masalah-masalah yang ada di daerah kami sampai topik-topik yang lain. Kesimpulan awal dari obrolanku ini hmmm, sebut saja bapak ini bernama Budi. Beliau terlihat sebagai seseorang yang supel. Sudah memiliki keluarga, dan wah, ternyata beliau juga lulusan Ekonomi Manajemen dari sebuah universitas terkemuka di negeri ini.

“Ngomong –ngomong, bapak mau kemana malam-malam begini? Tidak ingat keluarga di rumah?”, tanyaku.

“Kamu juga. Malam-malam begini, masih saja berkeliaran di luar rumah (kami berdua tertawa). Saya malam ini mau mengambil mobil saya di pool taksi A”, sambil menyebutkan sebuah merek taksi terkemuka di kota ini.

“Wah, bapak bekerja sebagai manajemen di perusahaan taksi A itu?”

“Bukan dek, saya bekerja sebagai sopir taksi.

Aku kemudian terkaget. Tertegun. Banyak berita yang aku baca di koran tentang banyaknya sarjana yang sulit mencari kerja untuk dirinya sendiri, sampai akhirnya menjadi seorang sopir taksi. Tidak menyangka aku menemukan salah satu orangnya. Dari sekian banyak orang yang aku temui dalam perjalananku, tampaknya aku kembali menemukan bagaimana kerasnya realita kehidupan di dunia ini. Kadang lurus, dan kadang berliku.

****

“Lho, bapak bukannya bisa mencari kerja yang lebih baik selain sopir taksi?”, tanyaku.

“Sebenarnya sekitar 6 bulan yang lalu, saya dulu kerja memanage pembangunan tower di perusahaan I (menyebut sebuah perusahaan telekomunikasi). Semenjak pemerintah mengeluarkan larangan untuk membangun tower, jadi terpaksa saya berhenti dulu. Ya, jadi beginilah dik saya sekarang. Sudah 1 bulan ini saya jadi sopir taksi”

“Bapak memangnya tidak bisa mengusahakan sesuatu? Misalnya membuat lapangan kerja baru atau mungkin Bapak bisa melamar kerja lagi? ” tanyaku kritis.

“ Saya dulu pernah membuat kerajinan. Tapi setelah desain kerajinan saya ditiru oleh orang banyak, akhirnya saya memutuskan berhenti. Dulu juga saya pernah berusaha melamar kerja di beberapa perusahaan. Tapi kebanyakan dari perusahaan itu mencari lulusan-lulusan yang fresh graduate. Orang-orang seperti saya yang sudah berpengalaman ini ditinggalkan karena dianggap sudah kehilangan ide, motivasi dan kreativitas. Padahal, menurut saya sebuah perusahaan juga butuh orang-orang yang berpengalaman di sebuah bidang. Makanya adik ini beruntunglah karena masih muda, dan dianggap masih punya ide dan kreativitas tinggi”.

Aku kembali terdiam. Beliau kemudian tersenyum .

“Ini mungkin jalan hidup yang Allah berikan untuk saya. Saya hanya bisa sabar, berikhtiar, dan berusaha sebaik-baiknya. Barangkali memang Allah sedang menguji saya…”

Beliau kembali tersenyum. Aku sadar orang di dekatku ini bukan orang yang sembarangan.

“Lalu? Bagaimana tanggapan orang-orang di sekeliling Bapak saat bekerja sebagai sopir taksi?”

“Hmmm…sekitar 3 hari yang lalu, penumpang taksi saya adalah dosen saya sendiri. Setelah beliau sadar, mengenali saya sebagai mahasiswanya yang dulu dan mendengar cerita saya… beliau kemudian menangis.”

Selalu ada sebuah kekecewaan besar bagi setiap orang yang berekspektasi besar tapi tidak pernah terwujud. Mungkin itu yang bisa aku gambarkan dari kekecewaan dosen bapak ini.

****

Cerita kami berlanjut ke kehidupan di dalam kampus. Banyak dari mahasiswa yang merasa aman karena perguruan tinggi yang dimasukinya itu berkualitas. Akan tetapi, nama besar sebuah universitas tidak akan membantu seorang mahasiswa untuk meraih kesuksesan dalam hidupnya, mahasiswa itulah yang seharusnya mengangkat nama universitasnya sehingga lebih besar lagi di masyarakat kita dan juga mengangkat nama mahasiswa itu sendiri. Sehingga, banyak mahasiswa yang drop out, IPK nya jatuh sampai gagal dalam pekerjaan karena persepsinya itu.

Hmmm…setelah berbicara banyak dengan Bapak itu, tidak terasa rumahku terlewati beberapa ratus meter. Aku segera menyuruh sopir angkutan umum yang kunaiki itu berhenti dan berpamitan kepada bapak itu.

“Terima kasih banyak ya dek. Ayo kita sama-sama berjuang dan tetap semangat”, ucap bapak itu setelah aku menjabat tangannya.

Hingga terakhir aku turun dan menatap pergi angkutan umum yang aku naiki tadi, aku merasa ada sesuatu yang bisa aku dapatkan dalam perjalananku malam ini. Masih banyak orang-orang yang berjuang di luar sana demi kehidupannya yang lebih baik. Maka aku pun harus berusaha juga agar tidak kalah dengan mereka.

Advertisements