instagramdimas1

“Jangan pernah bilang kepada seorang perempuan, bahwa dia itu ‘tidak cantik’, atau ‘tidak menarik’ atau ‘gendut’ atau kombinasi dari tiga istilah itu.”, pesan seorang ibu kepada seorang anak laki-lakinya pada suatu hari.

Tiba-tiba teringatlah sang anak lelaki akan sebuah materi yang didapatkannya dari seorang trainer dari sebuah kampus besar di Bandung.

“… Karena perempuan itu mudah lekang oleh waktu. Mendapatkan lelaki yang baik dan mampu menjaganya selamanya, ialah cara agar waktu tidak mengambilnya…”

 “Bagaimana kalau memang aku harus menyebutkan ‘tiga istilah’ itu bu?”, sergah anak lelaki yang khawatir akan ke-randoman dan ke-erroran pasangannya nanti yang bisa jadi bukan berdistribusi normal.

“Disaat itulah kau tahu, bahwa diam itu emas”, tiba-tiba ayah sang anak lelaki tersebut menyanggah.

#StoryofTheDay #OverheardInJakarta #JanganSalahkanWanita #WanitaTakPernahSalah

#ReasonToBelieve

Dasar terpercaya untuk mempercayai orang adalah, bukan dengan hasutan atau manipulasi, dan juga bukan dengan kontrol. Bukan dengan cuci otak, bukan dengan keyakinan, bukan dengan kebenaran, bukan dengan hipnotis, bukan dengan uang, bukan dengan tipu daya, bukan dengan teror, bukan dengan sumpah, bukan dengan kepatuhan, atau bukan dengan kedamaian.

Dasar terpercaya untuk mempercayai orang adalah persamaan. Persamaan akan prinsip.

Oki Yaba – Alice in Borderland

Sibuklah Hidup atau Sibuklah Mati?

Sebuah tulisan bedah film boxoffice (The Shawshank Redemption) yang tuntas diselesaikan dan dipresentasikan pada awal November 2015 di sebuah grup Whatsapp. Film yang dibedah merupakan salah satu film terbaik sepanjang masa dengan rating imdb 9,3 dari 10. Bedah film disini bertujuan untuk memperkaya kualitas diri dan orang lain dengan mengambil beberapa poin atau hikmah untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Continue reading “Sibuklah Hidup atau Sibuklah Mati?”

#SetengahMenujuDua

Ada satu quote yang saya ingat dari seorang dosen saya yang saya ingat terus sebagai motivasi. Tak perlu disebutkan namanya dosennya, cukup saya sebutkan jabatannya sebagai Kaprodi. Quote beliau saya beri title disini sebagai #SetengahMenujuDua.

Diberikan 4 tahun yang lalu, saat kami masih dalam fase botak dan lugunya memasuki masa kuliah diantara para senior kami yang ikut mengawasi diluar pintu kelas perkuliahan.

Satu ditambah satu, sama dengan dua.

Setengah ditambah setengah, sama dengan nol.

Satu pekerjaan yang sudah kita selesaikan ditambah satu pekerjaan yang juga sudah selesai kita kerjakan lagi akan bernilai DUA pekerjaan yang selesai.

Akan tetapi, pekerjaan yang kita selesaikan setengah-setengah, ditambah pekerjaan yang lain yang juga kita kerjakan setengah-setengah, akan menghasilkan nilai nol.

Karena kita tidak mendapatkan value added apa-apa dari 2 pekerjaan itu. 

N.B :

Pesan saya untuk para laki-laki yang belum mampu, cukupkanlah dengan #SetengahMenujuDua, jangan ditambah lagi dengan angka yang lain. Penambahan angka lebih dari dua hanya menyebabkan anda dianggap bervisi tinggi untuk berpoligami lebih dari dua.