Pertanyaan untuk yang Membuka Pintu

door

(Ada kau) Disebuah senja temaram itu tiba-tiba pintuku terbuka

Ya ada kau

Mengapa pikiranku tiba-tiba kau renggut?

Mengapa nurani terdalamku tiba-tiba kau ketuk?

Mengapa hati ini tiba-tiba bisa kau isi?

Termenungku disini dalam khayalku. Menatapmu.

Apa lagi arti misteri yang terkandung dalam dua bola matamu itu?

Apa lagi arti senyumanmu itu?

Apa lagi misteri hatimu yang akan kau ulur dengan wajahmu itu?

Berdirimu. Perlahan. Datang. Untukku.

Jadi boleh hanya diriku yang mengisi kekosongan sanubari hatimu?

“Ayo”, katamu. “Temani aku pulang”.

“Ya”. Dalam khayalku. Untuk semua jawabmu atas semua angan pertanyaanku saat mengantarmu pulang.

Kau dan aku kemudian sudah gila

dengan ajakanmu, dengan mengantarmu.

==========================================================

Bandung. Oktober 2014

instagramdimas1

“Jangan pernah bilang kepada seorang perempuan, bahwa dia itu ‘tidak cantik’, atau ‘tidak menarik’ atau ‘gendut’ atau kombinasi dari tiga istilah itu.”, pesan seorang ibu kepada seorang anak laki-lakinya pada suatu hari.

Tiba-tiba teringatlah sang anak lelaki akan sebuah materi yang didapatkannya dari seorang trainer dari sebuah kampus besar di Bandung.

“… Karena perempuan itu mudah lekang oleh waktu. Mendapatkan lelaki yang baik dan mampu menjaganya selamanya, ialah cara agar waktu tidak mengambilnya…”

 “Bagaimana kalau memang aku harus menyebutkan ‘tiga istilah’ itu bu?”, sergah anak lelaki yang khawatir akan ke-randoman dan ke-erroran pasangannya nanti yang bisa jadi bukan berdistribusi normal.

“Disaat itulah kau tahu, bahwa diam itu emas”, tiba-tiba ayah sang anak lelaki tersebut menyanggah.

#StoryofTheDay #OverheardInJakarta #JanganSalahkanWanita #WanitaTakPernahSalah

Mencari-Nya (Antara Logos dan Mythos)

338840

Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk yang lemah. Kelemahan ini dirasakan karena begitu luasnya alam yang ditempuh, begitu besarnya bagian dunia yang ia lihat, dan begitu kerasnya alam semesta dalam memperlakukan manusia. Karena itu sejak dahulu, manusia selalu mencari tentang adanya kekuatan yang mengatur segala sesuatu yang ia lihat dan yang ia rasakan. Ini adalah sebuah konsekuensi dari manusia yang berpikir menggunakan akalnya secara benar dan secara logis. Dengan akalnya tersebut, manusia merasakan bahwa ia adalah sebuah makhluk yang tidak berkuasa di dunia ini. Kecilnya ia terlihat saat ia tak mampu untuk menguasai alam dengan kekuatan yang dia punya. Ada kekuatan yang lebih besar yang ia rasakan yang menyelimuti seluruh alam, yang dia tidak dapat lihat, tapi dapat ia rasakan. Kemampuan mata manusia yang tidak bisa melihat secara fisik ini yang mendorong manusia terus mencari dan mencari dimana kekuatan besar tersebut.

Karen Armstrong menjelaskan bahwa manusia memiliki dua cara berpikir, yang pertama adalah logos dan yang kedua adalah mythos. Ketidaksesuaian (gap) antara apa yang dia manusia lihat dan apa yang manusia rasakan membuat manusia mencarinya dengan logos. Pengertian logos tersendiri dijelaskan Karen Armstrong :

“Logos (nalar) adalah cara berpikir pragmatis yang memungkinkan orang yntuk berfungsi secara efektif di dunia. Ia, karenanya, harus bersesuaian secara akurat dengan kenyataan eksternal. Manusia membutuhkan logos untuk membuat senjata yang efisien, mengatur masyarakat, atau merencanakan sebuah ekspedisi. Logos berpandangan ke depan, terus-menerus mencari cara-cara baru untuk mengendalikan lingkungan, meningkatkan wawasan lama, atau mencipta sesuatu yang baru. Logos penting dalam kehidupan spesies kita…”[1]

Prof. Dr. Hamka pada bukunya Pendidikan Agama Islam mencatat sebagian sejarah pergolakan manusia ini dalam mencari Tuhan ini di bab awal bukunya :

“Semasa kehidupan gua, disembahlah keseraman rimba, kayu-kayuan dan batu. Kemudian itu disembah gunung. Dan setelah hidup berpindah dari gua baru ke tepi sungai disembahlah air yang mengalir, dipuja pasang naik dan pasang turun. Dan kadang-kadang disembah juga ikan. Dan di zaman perburuan dipujalah binatang-binatang yang dirasa ada hubungannya dengan suku.”[2]

Catatan Prof. Dr. Hamka ini pula yang disetujui oleh Karen Armstrong. Armstong juga mencatat bahwa manusia sejak zaman dahulu sudah mencari adanya kekuatan yang bekerja di alam semesta ini. Pencarian tersebut ada yang digambarkan dalam lukisan dinding yang menceritakan ritual-ritual yang terjadi dimasa lampau, dimana penyembahan yang dilakukan terhadap arwah-arwah dan makhluk-makhluk gaib lainnya[3]. Penyembahan ini dilakukan disaat manusia pada zaman itu melakukan aktivitas bertahan hidup, seperti berburu, mencari makan dan lain sebagainya. Ini dilakukan karena manusia masih belum mengetahui tentang arti dibalik pekerjaan dan kepercayaan yang dia lakukan.

Kemudian dengan semakin meningkatnya kemampuan manusia dalam mendapatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki, maka manusia pula semakin berkembang pola pikirnya terkait Tuhan. Pencarian tentang arti Tuhan masih belum terselesaikan saat manusia masih dalam pola pikir untuk memuja alat kelamin[4], memuja kepada keturunan hewan (totemisme)[5], memuja kepada tuah padi[6], dan lain-lain sebagai penguasa hidup manusia. Terlepas dari segala objek atau subjek yang disembah, akan tetapi dapat disimpulkan jika kepercayaan terhadap Yang Maha Kuasa dan Gaib sudah menjadi naluri manusia sejak dahulu kala.

Prof. Dr. Hamka sendiri menjelaskan bahwa memang kepercayaan terhadap Yang Maha Kuasa dan Gaib sendiri merupakan perasaan yang paling murni dalam jiwa manusia. Setiap manusia hakikatnya sudah mempunyai dan memiliki naluri tersebut. Hanya saja, banyak manusia itu sendiri membantah akan eksistensi Yang Maha Kuasa karena keraguan-keraguan yang diperoleh dari cara berpikir manusia tersebut. Pembantahan itu sebenarnya bukan dari hatinya yang paling terdalam, karena bukan begitu seharusnya jiwa terdalam seorang manusia[7]. Sejauh-jauh perjalanan akal manusia akan berhenti dan kemudian insyaf akan kelemahan diri, berhadapan dengan Yang Maha Kuasa.

Pemikiran mencari Tuhan tersebut akhirnya berada dalam batas yang tidak bisa diseberangi lagi oleh pemikiran manusia. Batas yang tidak diseberangi itu bisa saja diseberangi, akan tetapi bukan dengan pendekatan logos, tapi dengan mythos (mitos). Karen Armstrong melanjutkan lagi kemudian definisi logos:

“…Tetapi, ia memiliki keterbatasan : ia tidak dapat melipur kesedihan manusia atau menemukan makna tertinggi dari perjuangan hidup. Untuk yang itu, manusia beralih kepada mythos atau mitos..”[8]

Agama, walaupun keberadaannya lebih dari sekedar mitos, mengatur tentang definisi Tuhan tersebut. Definisi Tuhan itu kemudian ditambahkan dengan berbagai macam disiplin, ritual, ibadah dan lain sebagainya sehingga terwujudlah di manusia itu perasaan ekstasis. Perasaan ‘merasa enak’, dan melangkah keluar dari yang biasa[9].  Perasaan ini yang timbul akibat manusia sudah mengenal yang namanya Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pencipta dan Yang Maha Satu. Lalu menjadi sebuah guyon bagi kita akan apa yang kemudian dirasakan oleh penganut atheisme? Ekstasis seperti apakah yang mereka rasakan karena tidak merasa memiliki Tuhan?

Kembali lagi ke konsep Tuhan, bahwa berbagai agama mengatur definisinya masing-masing terkait Tuhan. Di Kristen dikatakan adanya Yesus, di Buddha dikatakan adanya Buddha, dan di Hindu dikatakan adanya dewa-dewi, dan sebagainya. Lalu bagaimana konsep Tuhan yang benar?

Islam menyediakan solusi agar manusia bertafakur dan melihat alam sekeliling. Selain itu, Islam menyatakan bahwa silahkan manusia pergunakan akal (logos) yang diberikan agar mampu melihat kebenaran dan kenyataan yang ada. Arahan, perintah sekaligus ancaman Allah swt sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Araf ayat 179 :

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah), Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai

Konsep Tuhan untuk manusia sebenarnya sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Sebagai penyampainya adalah nabi dan rasul yang diutus oleh Allah swt untuk menyebarkan bagaimana konsep Tuhan tersebut dan bagaimana mendekatkan padanya. Berbagai macam bantahan akan konsep Tuhan di agama lain seperti Kristen, Hindu dan Buddha sudah termaktub dalam Al-Qur’an. Tuhan itu ialah satu, dan tidak diperanakan ataupun tidak mempunyai anak. Tuhan itu bukanlah seorang manusia. Tuhan itu bukanlah terdiri dari banyak Tuhan yang mengatur setiap-setiap urusan.

Tuhan itu ialah satu, dan satu itu yang mengatur banyak urusan. Manusia secara hakikatnya sudah pasti meyakini dan mengakuinya serta mendekatkan diri pada-Nya.

[1] Karen Armstrong, Masa Depan Tuhan, hal. 12

[2] Prof. Dr. Hamka. Pendidikan Agama Islam. Hal.2

[3] Karen Armstrong, Masa Depan Tuhan, bagian Homo Religiosus

[4] Prof. Dr. Hamka. Pendidikan Agama Islam, hal.3

[5] Ibid, hal 4 dan 5

[6] Ibid, hal 5

[7] Prof. Dr. Hamka, Pendidikan Agama Islam, hal 7

[8] Karen Armstong, Masa Depan Tuhan , hal 12

[9] Ibid, hal 15

Human : The Perfect Creation

best_form_circ_small

Manusia merupakan sebuah ciptaan Allah swt yang paling sempurna. Kesempurnaan ini disebtkan dalam  Q.S Surat Al-Isra ayat 70. Dalam ayat tersebut, Allah swt berfirman :

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”

Akan tetapi, kesempurnaan ini juga sempat menjadi pertentangan antara makhluk-makhluk lain dengan Allah swt karena sifat manusia yang secara natural akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah. Terjadi pertentangan atau penolakan antara malaikat dan Allah swt yang dirangkum dalam potongan surah Al-Baqarah ayat 30 berikut :

“…Mereka berkata : Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman : “Sesunnguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Allah swt sendiri sudah menyatakan bahwa tujuan manusia ialah menyembah Allah dan menjadi seorang khalifah di muka bumi[1]. Arti istilah ‘khalifah’ berarti pemimpin di muka bumi. Manusia sebagai khalifah bertugas untuk memberdayakan bumi dengan segala isinya. Perlu diketahui, tugas menjadi khalifah ini merupakan tugas yang sangat berat. Gunung, langit dan bumi sempat ditawarkan untuk menjadi khalifah di muka bumi, akan tetapi mereka menolaknya karena amanah itu sangat berat dan mereka khawatir pula tidak bisa melaksanakannya[2]. Manusialah yang akhirnya dijadikan khalifah di muka bumi ini.

Walaupun fungsi penciptaan manusia ini sangatlah sulit dan berat, akan tetapi bagi manusia yang bisa melaksanakan tujuannya tersebut, maka Allah akan memberikan hadiah terbesar yaitu akhirat. Surga dengan segala isinya telah dipersiapkan untuk menyambut pejuang-pejuang cerdas yang menyambut mati dan akhiratnya.

Tentu saja, karena begitu beratnya tanggungjawab ini, Allah memberikan modal awal untuk manusia agar bisa menjalankan fungsi penciptaan ini. Modal ini yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain, dan juga mattepat untuk menjalankan  amanah sebagai khalifah di bumi. Modal tersebut disebut sebagai 7 Pilar Kehidupan Manusia. Tugas manusia jugalah untuk memanfaatkan 7 pilar kehidupan manusia ini sehingga bisa terlaksana dengan baik sesuai dengan tujuan penciptaan manusia.

Pilar kehidupan manusia pertama adalah, alam semesta. Alam semesta inilah yang menjadi modal awal manusia dalam menjadi khalifah di muka bumi. Fungsi alam semesta terdiri dari dua fungsi, yaitu : pengenalan dan pemanfaatan. Fungsi pengenalan berarti alam semesta berfungsi untuk mengenalkan kekuasaan Allah swt agar manusia mengimani adanya Allah swt sebagai zat yang Maha Kuasa dan Maha Satu. Fungsi yang kedua adalah pemanfaatan, berarti manusia dapat memanfaatkan alam semesta ini sebagai nikmat Allah yang akan diubah menjadi hal lain.

Sayangnya, umat manusia hari ini terlena dengan alam semesta ini. Alam semesta tidak dijadikan sebagai alat untuk mengenal Tuhan. Alam semesta hanya dijadikan sebagai objek benda yang digunakan sebagai pelengkap rutinitas manusia, tanpa ada pengenalan siapa yang menciptakan alam semesta itu. Bahkan yang ditekankan adalah bagaimana manusia mampu menggunakan benda sebagai representasi dari alam semesta tersebut dan memanfaatkannya, walau akhirnya tidak menjadi penambah keimanan. Iman tidak dijadikan sebagai patokan utama dalam beraktivitas.

Prof. Dr. Hamka sempat menuliskan pendapatnya mengenai hal ini, tentang berbagai macam manusia yang hidup dengan kekosongan, tanpa mengerti artinya walaupun sudah berusaha dengan keras[3]. Pemahaman ini yang ada dalam pemikiran ilmuwan Barat sekarang yang hanya melakukan fungsi pemanfaatan tanpa adanya fungsi pengenalan.

Umat Islam sendiri celakanya tidak melakukan fungsi pengenalan dan pemanfaatan ini. Disfungsinya umat Islam dalam beberapa fungsi ini terlihat karena mundurnya umat Islam dalam hal teknologi. Padahal seharusnya umat Islam yang lebih berhak dalam menikmati alam semesta ini, karena patokannya berdasarkan Allah swt.

Maka dari itu sebagai modal utama dalam melaksanakan fungsi penciptaan, manusia khususnya umat Islam harus mencari ilmu dan menjalankan pembelajarannya agar bisa menjadi penguasa alam semesta.

Pilar kedua, adalah akal. Akal digunakan untuk berpikir tentang alam semesta ini. Akal berfungsi untuk mendeteksi kebenaran. Secara prinsip, untuk mendeteksi kebenaran, maka akal bisa dibagi menjadi dua. Prinsip tersebut adalah kausalitas dan juga antikontradiksi. Kausalitas berarti akal dalam kinerjanya mendukung sebab-akibat, dan antikontradikasi berarti akal menolak sesuatu yang tidak pas atau tidak benar.

Hasilnya, akal dapat mendeteksi kebenaran. Kebenaran ini sendiri terdiri dari 3 kebenaran. Kebenaran tersebut ada kebenaran secara indera, kebenaran secara akal, dan juga kebenaran secara informasi. Masing-masing kebenaran tersebut memiliki indikatornya masing-masing.

Kebenaran indera merupakan kebenaran yang dirasakan oleh indera-indera manusia, seperti penglihatan, pendengaran dan yang lainnya. Kebenaran indera ini merupakan kebenaran yang paling tersurat, bahkan hewan pula bisa membedakannya. Berbeda dengan dengan kebenaran akal dan informasi yang harus dicari secara tersirat.

Akal ini menjadi keunggulan utama manusia dalam melaksanakan fungsi penciptaannya dikarenakan makhluk-makhluk lain tidak ada yang mempunyai akal ini dalam diri mereka.

Pilar ketiga, adalah fitrah. Fitrah menjadi tolor ukur jiwa dalam mengenal benar dan salah. Fitrah sudah ada dalam diri manusia, dan setiap manusia memilikinya. Seperti contohnya dalam hal senyum, secara fitrahnya manusia memahami bahwa senyum itu indah. Maka dari itu, manusia akan meraasa bahagia jika tersenyum dan melihat manusia lain tersenyum.

Pilar keempat, ialah syahwat. Syahwat berfungsi sebagai mesin pendorong manusia untuk melakukan perubahan. Syahwat bisa dilihat contohnya sebagai keinginan manusia dalam melakukan sesuatu. Contoh spesifiknya adalah saat manusia berusaha untuk meraih kepemimpinan dan meraih posisi, itu ditentukan karena adanya syahwat didalamnya. Syahwat ini bisa jadi benar dan bisa jadi salah, tergantung bagaimana syahwat ini bisa dikendalikan oleh manusia.

Pilar yang kelima adalah syariah. Syariah yang berarti hukum, adalah sebuah indikator dari sebuah perbuatan baik dan buruk yang dilihat dari akal dan jiwa. Kadangkala akal dan jiwa manusia bisa rusak atau kacau diakibatkan pengaruh ilmu, pemikiran, dan perilaku yang merusak manusia. Syariah berfungsi untuk memastikan manusia ada pada tempatnya atau on the track.

Pilar yang keenam adalah kebebasan memilih. Manusia memiliki kebebasan dalam hal memilih apapun yang dijalani dan apapun yang diyakini. Akan tetapi, posisi manusia di akhirat tersebut akan ditentukan berdasarkan pemilihan manusia dalam berbagai keputusan di dunia. Sehingga kebebasan memilih ini dapat menjadi bumerang saat manusia sudah kacau dalam dasar dirinya.

Pilar ketujuh adalah waktu. Seperti yang disebutkan dalam Q.S Al Ashr, seluruh manusia itu merugi kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Waktu adalah aset paling berharga dan mahal yang dimiliki manusia, karena waktu yang hilang tidak bisa dikembalikan lagi. Hingga akhirnya manusia mencari kehidupan di dunia, akan tetapi manusia juga dibatasi oleh waktu akan hadirnya di dunia. Ini yang menjadi pertanda agar manusia selalu menggunakan potensi dan kekuatan dirinya untuk menjalankan dua fungsi penciptaan yang ditetapkan Allah.

[1] Q.S Surat Al Baqarah ayat 30 dan QS Adz Dzariyat ayat 56

[2] Q.S Surat Al-Ahzab ayat 72

[3] Prof. Dr. Hamka. Pandangan Hidup Muslim.

*Tulisan ini adalah penugasan yang diberikan oleh Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Indonesia Tanpa JIL Maret -Juli 2015

Islam : Ad-Diin Satu-Satunya di Dunia

Pencarian manusia akan Tuhan bersamaan dengan pencarian manusia terhadap agama. Agama dan Tuhan tidak bisa terpisah karena secara tidak langsung agama menyediakan jalan untuk manusia agar mampu mengenal Tuhannya.

Pokok utama dari agama adalah menyediakan sebuah jalan pengenalan untuk manusia berupa jalan hidup, tuntunan perilaku dan juga cara pandang manusia mengenai alam semesta. Oleh karena itu, indikator pertama dan paling utama dalam beragama yang utuh dan lengkap adalah mengakui adanya Tuhan dan aturan dan juga jalan yang ditetapkan Tuhan.

Istilah agama sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu, a-gama. Istilah pertama a-gama ini berarti ‘tidak’ (a) dan ‘kacau’ (gama).  Dalam arti bahasa Sansekerta ini,  bisa dikatakan agama adalah pencegah dari kacau dalam diri manusia. Manusia yang seringkali lepas dari fitrahnya sendiri dalam pengertian ini, dikendalikan oleh agama. Agama berfungsi sebagai peraturan dan juga pencegah dari kacaunya tindakan dan perilaku manusia dalam bertindak dan berusaha. Oleh karena itu, agama menjadi patokan dalam kehidupan manusia.

Dalam beberapa definisi lain menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama adalah ‘sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya’. Sedangkan agama dalam istilah bahasa Inggris adalah ‘religion’, atau berasal dari kata dasar dalam bahasa Latin ‘religio’ yang berarti mengikat. Arti menurut istilah religion ini adalah bahwa agama adalah pengikat bagi diri manusia.

Dalam definisi yang ditetapkan Islam, agama dinyatakan dengan istilah ad-din. Din sendiri berarti ‘hutang’ dalam bahasa Indonesia[1]. Dikatakan sebagai hutang adalah karena manusia akan selalu berhutang kepada Tuhannya.

Manusia selalu berhutang karena Tuhannya lah yang menjadikan dirinya ada dari tiada, menciptakan dirinya dengan sebaik-baiknya tanpa diri manusia itu sendiri yang memerintahkan segala isi dalam diri manusia itu untuk bekerja dengan baik dan benar, dan menciptakan berbagai kenikmatan lain yang manusia sendiri tidak bisa menghitungnya satu persatu. Karena manusia itu ada, maka rasa syukur dan berterimakasih dari manusia itu yang membuat manusia harus mengenal dan menyembah Tuhan.

Konsep ad-din menyatakan juga walaupun manusia selalu berusaha untuk membayar hutang tersebut, Allah akan selalu membalasnya lagi dengan nikmat yang jauh lebih besar dan jauh lebih baik daripada sebelumnya. Inilah yang menyebabkan hutang manusia menjadi tidak bisa terbayar oleh dirinya sendiri. Bahkan semua jalan dan cara untuk membayar hutang yang dimiliki oleh manusia itu juga merupakan kepunyaan dari Allah swt.

Inilah yang membuat manusia harus menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Allah swt untuk membayarnya. Penyerahan manusia secara total ini yang menjadi tujuan utama dari ad-din. Totalitas penyerahan diri manusia ini yang dengan senang hati dan rela ini merupakan dasar untuk percaya atau menjadi dasar untuk beriman. Kepercayaan tersebut tentu diraih dari perjalanan akal manusia yang sudah mencari dengan pemikiran dan pengetahuannya sehingga akal manusia tersebut tahu mengapa dia harus percaya. Tingkatan perjalanan akal dan pengetahuan yang dipakai ini yang pada akhirnya membuat tinggi martabat Iman (percaya) dan Islam (penyerahan) pada diri seseorang.

Ad din sendiri tidak bermakna hanya untuk Islam saja sebenarnya. Akan tetapi, Islam adalah ad din yang sebenarnya karena ditujukan kepada hambanya yang mampu untuk menggunakan fungsi akalnya dalam mengenal Allah swt. Akal ini yang menjadi pembeda dari pemahaman orang-orang yang sudah merasa menyerahkan diri sepenuhnya dengan Allah swt, akan tetapi tidak menyerahkan dirinya sepenuhnya dengan aturan dan juga tuntutan yang digariskan oleh Allah swt.

Islam berarti ketundukan, penyerahan dan mengikuti hanya kepada Allah swt. Ketundukan dengan penyerahan diri sepenuh hati tersebut membuat tiada yang lain selain Allah swt. Inilah yang tidak dipahami oleh orang-orang yang tidak menggunakan akal dan pemikirannya untuk memikirkan apa yang dibalik dari setiap nikmat dan juga keindahan yang dia miliki dan lihat di bumi ini.

Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan ini diakibatkan konsep Islam yang hanya bersandar kepada sumber-sumber yang utama yaitu Al-Qur’an dan hadits. Kesempurnaan ini yang tidak dimiliki oleh agama dan kepercayaan yang lain yang sumbernya selalu berubah-ubah tergantung alam dan perkembangan pemikiran manusia. Patokan dalam kesempurnaan ini yang menjadikan untuk menjadi sempurna dan baik dalam Islam, maka kembalilah ke asal pemikiran atau asas yang dahulu ditetapkan. Bukan mengubahnya sesuai akal dan perkembangan pemikiran manusia. Karena akal dan pemikiran manusia memiliki kelemahan yaitu tidak bisa menjangkau hal-hal yang metafisika serta kadang dapat bisa rusak diakibatkan rusaknya perilaku dan penurutan diri akal terhadap hawa nafsu. Oleh karena itu, pengembalian manusia kepada Islam, menjadi hal yang mutlak untuk mencapai kesempurnaan diri yang digariskan dalam ad din.

[1] Prof. Naqib Al Attas. Islam dan Sekularisme.

*Tulisan ini ditulis untuk penugasan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Indonesia Tanpa JIL Chapter Bandung Angkatan Pertama yang dilaksanakan bulan Maret – Juli 2015

Sekularisme

secularism

Menurut Syed Muhammad Naquib Al Attas, dalam bukunya Islam and Secularism, Sekular berasal dari bahasa Latin, yaitu saeculum. Saeculum dalam bahasa Latin berarti umur (age), generasi (generation) dan waktu hidup (lifetime)[1]. Istilah saeculum sendiri menggambarkan tentang konotasi antara istilah lokasi dan waktu;  dimana waktu menandakan istilah “masa hari ini” atau “sekarang” dan lokasi menandakan istilah “dunia” atau persepsi “dunia terhadap sesuatu”. Saeculum juga banyak diartikan sebagai century[2]. Ini menandakan bahwa sekular menyatakan pemahaman tentang contemporary events atau kejadian kontemporer (masa saat ini)[3]. Saeculum juga banyak dikonotasikan dengan kata lain, yaitu sementara (temporal). Istilah “sementara” menyatakan bahwa ada keterbalikan dari kata abadi (eternal). Keterbalikan dari kata abadi ini menunjukkan bahwa dalam sekuler dipahamkan bahwa pengambilan nilai-nilai yang diambil bersifat sementara atau yang berasal langsung dari dunia ini, bukan dari nilai-nilai Tuhan atau dari yang abadi. Kemudian jika ditilik lebih jauh dari arti bahasa dari segi makna contemporary events, sekular berarti sebuah pemahaman yang melihat kejadian-kejadian di dunia ini dari aspek historisnya. Konsep sekular ini juga berarti mengacu pada kondisi dunia pada sebuah waktu tertentu.

Istilah sekuler diperkenalkan pertama kali oleh seseorang yang berkebangsaan Inggris yang bernama George Jacob Holyokae pada tahun 1951 dalam bukunya “The Origin and Nature of Secularism”. Holyokae sebagai seorang yang agnostik mengatakan dalam bukunya English Secularism halaman 17 mengatakan sekuler sendiri adalah,”

“a form of opinion which concerns itself only with questions, the issues of which can be tested by the experience of this life”

Lebih eksplisitnya lagi Holyokae mengatakan dalam bukunya Principle of Secularism (p.35),

“Secularism is that which seeks the development of the physical, moral, and intellectual nature of man to the highest possible point, as the immediate duty of life — which inculcates the practical sufficiency of natural morality apart from Atheism, Theism or the Bible — which selects as its methods of procedure the promotion of human improvement by material means, and proposes these positive agreements as the common bond of union, to all who would regulate life by reason and ennoble it by service”

Dalam pendapatnya yang lain di bukunya English Secularism halaman 35 mengatakan kembali,

“Secularism is a code of duty pertaining to this life founded on considerations purely human, and intended mainly for those who find theology indefinite or inadequate, unreliable or unbelievable. Its essential principle are three :

  1. The improvement of this life by material means.
  2. That science is the available Providence of man.
  3. That it is good to do good. “Whether there be other good or not, the good of the present life is good, and it is good to seek that good”[4]

Dapat disimpulkan dengan sekuler,  Holyokae sendiri berpendapat bahwa kemajuan manusia bisa diraih dengan melupakan teologi. Teologi tersebut dianggap sebagai tidak reliabel dan tidak dapat dipercaya dalam memajukan manusia dalam kehidupan. Kemajuan tersebut kemudian dapat dicapai lewat aspek benda (material) dalam segala proses hidup, serta kemajuan tersebut didapatkan lewat proses perubahan yang terus terjadi dalam masyarakat.

Tabiat sekularisme seperti yang dipaparkan Harvey Cox (seperti yang dikutip Syed Muhammad Naquib Al Attas, dalam bukunya Islam and Secularism), terdiri dari tiga. Pertama adalah, disenchantment of nature, yaitu penghilangan pesona alam atau pesona Illahi dalam melihat alam.

Seperti yang Holyokae katakan terkait benda, bagi orang sekuler semua diukur dengan adanya benda (kebenaran indera). Sehingga orang sekuler sendiri tidak merasakan adanya keindahan atau arti dari ciptaan Tuhan.

Kedua adalah desacralization of politics. Istilah ini berarti seluruh hajat hidup orang banyak yang tidak boleh disangkutpautkan dengan agama. Pemisahan ini menjadi penting karena teologi atau agama dianggap sebagai benda yang harus ditempatkan dalam rumah ibadah atau saat ibadah saja.

Ketiga adalah deconsecration of values, yang menyatakan bahwa nilai (value) dan norma (norms) akan selalu berubah terus menerus. Ketidakabadian nilai yang dianut ini menyebabkan orang sekuler terlihat plin-plan dan tidak pasti dengan apa yang dia anut. Agama menawarkan kepastian, akan tetapi dalam pandangan terkait nilai ini, sekularismen menawarkan ketidakpastian dan keambiguan.

Bukti yang sering dipaparkan penganut sekularisme dalam melupakan teologi dalam kehidupan adalah ketidakcocokan teologi untuk diterapkan di semua lini kehidupan. Ketidakcocokan tersebut didasarkan pada pengalaman kelam bangsa Eropa terdahulu pada abad 5-15 M yang mengalami abad Kegelapan (Dark Ages).

Dark ages sendiri dimulai saat Kerajaan Romawi Barat (Western Roman Empire) mengalami kejatuhan dan perpecahan sehingga bangsa Eropa menjadi terbelah dan terus-terus berebut kekuasaan. Di saat perebutan kekuasaan itulah, kesadaran akan beragama sedang berada di puncak-puncaknya, sehingga Gereja Roma lah yang memegang kekuasaan tertinggi di Eropa pada saat itu. Pada masa dahulu sebelum dark ages, memang bangsa Eropa masih menyembah dan memuja sihir dan alam kepercayaan lain sebagai dasar mereka.  Akan tetapi, Gereja Roma menyalahgunakan kekuasaan tersebut dengan pemaksaaan dan pembunuhan nalar. Gereja Roma dan seluruh sistem didalamnya dianggap sebagai representasi Tuhan, dan manusia harus mengikuti mereka. Ini berbeda dengan konsep Islam yang membedakan manusia berdasarkan amal perbuatannya. Jika perbuatannya sudah rusak maka tidak perlu diikuti manusia tersebut sebagai teladan.

Akibat hegemoni kekuasaan Gereja Roma yang mematikan nalar dan akal tersebut,  bangsa Eropa mengalami penurunan kualitas hidup. Sehingga menjauh dari agama menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki kualitas hidup di Eropa. Hingga akhirnya terjadi rennaisnce, yang menjadi kebangkitan bangsa Eropa karena menjauhi Kristen.

Padahal, Islam tidak mengalami problematika seperti Kristen. Dengan menganut Islam dengan sebenar-benarnya, maka manusia akan meraih kemenangannya. Ini dibuktikan dengan salah satu hadits Nabi yang menceritakan bahwa penakluk Konstantinopel adalah yang sebaik-baiknya pemimpin dan juga pasukan dalam Islam. Ramalan tersebut terbukti dalam penaklukan Konstatinopel yang ditaklukkan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih dengan pasukannya yang terbukti kualitasnya dalam beribadah.

Perubahan Barat menjadi sekuler ini menurut Dr. Adian Husaini, terdiri dari beberapa faktor. Diantaranya problem sejarah Kristen di Eropa yang sarat dengan kekerasan, problem teks Bibel yang saling bertentangan di dalamnya dan juga dengan sains, dan terakhir permasalahan teologis Kristen yang tidak bisa dipahami dengan akal sehat. Agama telah digantikan hal-hal lain seperti football dan lain-lain.

Karena itu, sebenarnya sekular sendiri sebenarnya merupakan definisi yang diturunkan dari kesadaran dan pengalaman kaum Eropa yang diakibatkan dari permasalahan yang terjadi dalam hidup beragama di Eropa. Pemuka agama Kristen di Eropa tidak bisa memberikan solusi pemecahan dari buruknya kualitas masyarakat Eropa dengan pencerahan agama. Pencerahan tersebut digantikan dengan paham pelepasan agama dari urusan publik.

Eropa saat ini berubah menjadi Barat (Western). Barat kini sudah menjadi sebuah ideologi dan kepercayaan sendiri yang berjalan sendiri. Barat kemudian dibawa oleh keturunan-keturunan Eropa ke seluruh negeri hingga menjadi lifestyle. Kristen sudah terbaratkan. Sementara dasar-dasar Kristen sendiri sudah hilang ditelan sekularisme.

[1] http://latindictionary.wikidot.com/noun:saeculum

[2] https://eighthdayinstitute.wordpress.com/tag/saeculum/

[3] Islam and Secularism, Syed Muhammad Naqib Al Attas, 1931

[4] Pendapat-pendapat Holyokae ini bisa ditemukan di http://www.newadvent.org/cathen/13676a.htm

*Tulisan ini ditulis untuk memenuhi tugas Sekolah Pemikiran Islam Indonesia Tanpa JIL Chapter Bandung Angkatan Pertama yang dilaksanakan pada bulan Maret-Juli 2015

 

Antara Kesan Luar Penerbit dan Buku yang Diterbitkan

Beberapa hari yang lalu, saya mampir ke sebuah toko buku Islam didekat sebuah masjid kampus ternama di kota Depok. Mengapa saya mampir kesana? Pertama, karena sebulan sekali saya selalu menyempatkan hadir untuk nengok dan beli buku-buku kece yang ada disana. Kedua secara kebetulan, saya cukup dekat dengan penjaga tokonya karena yang bersangkutan orang Sunda. Well, 11 tahun saya sekolah di tanah Sunda setidaknya membuat saya ngerti bagaimana berbaur secara fasih dengan orang Sunda cas cis cus. Coba kalau yang jaga orang Minang, pasti saya udah bilang “tambah ciek”, setiap kali beli buku.
Saat saling curhat panjang lebar satu sama lain terkait keluarga dan kerjaan (termasuk mendesak saya agar segera punya istri, karena dia aja yang tahun lahirnya angkatan 2012 udah punya anak satu), si akang curhat panjang lebar tentang seorang bapak yang tetiba marah-marah di toko bukunya di sebuah hari Jumat.
Konon suatu ketika di hari Jumat yang cerah, si bapak bertanya tentang mengapa buku-buku dari penerbit tertentu yang disinyalir dekat dengan sebuah kepercayaan sesat mengatasnamakan Islam (sebut saja S**ah) dijual di toko bukunya si akang. Sementara buku-buku dengan penerbit tertentu yang dianggapnya bersih dari kepercayaan tersebut tidak dijual disana.
“Mustinya yang kamu jual itu buku-buku *piiip* yang dari penerbit X, Y, dan Z dong. Mereka kan tidak terkait dengan kepercayaan itu”.
Si akang yang tentunya gak hapal serta tahu konten isi semua bukunya akhirnya sabar seraya mengalah ngomong sama si bapak.
“Maaf pak, jika memang dalam buku-buku ini ada kesalahan konten, insya Allah akan kami retur (kembalikan) lagi ke penerbitnya”.
Si bapak yang masih tidak terima kemudian menghasut para pembeli buku yang masuk di toko buku itu untuk tidak membeli buku di tempat tersebut serta melaporkan ke pengurus masjid. Alhasil, keuntungan si akang anjlok 50% untuk hari itu.
Beberapa hari kemudian, salah satu pengurus masjid yang termasuk dosen Agama Islam di kampus tersebut datang ke toko buku si akang. Dengan niat tabayyun, pak dosen kemudian mengecek beberapa buku yang dianggap ‘sesat’ tersebut.
Setelah dicek, buku-buku yang dijual oleh si akang alhamdulillah dari segi konten ataupun isi betul sesuai pemahaman Islam yang benar. Diantaranya yang merupakan hasil karya beberapa ulama serta ahli seperti Ibnu Ghazali, Abah Ihsan Baihaqi, Yusuf Qardhawi malah dianjurkan untuk dibaca oleh single kek saya ini. Sayang, walau status saya sebagai single ini terbukti adanya, namun dompet saya belum mampu secara fisabilillah membeli buku-buku tersebut.
“Yah, mungkin kamu korban marketing si bapak itu kali. Mungkin sajakan bapak itu orang penerbit sana, kita kan gak pernah tahu”, kata bapak dosen seraya menutup audit internalnya, walau auditnya ndak pake manual ISO 9001:2015.

****

Dear guys,
Membaca buku itu seperti dua mata koin yang berlawanan menurut saya. Ada buku-buku yang tidak baik untuk dibaca dari segi ideologi atau pemikiran, ada juga buku-buku yang dari tingkatan isinya belum mampu untuk kita baca, serta ada juga buku yang bisa memperbaiki pemahaman kita jika ditekuni. Tidak ada salahnya kita membaca buku yang tidak baik itu, namun yang paling penting ialah kita punya dasar yang kuat sebelum kita membaca buku tersebut dan juga kita memiliki kemerdekaan pikiran dimana kita bisa mengungkapkan pendapat kita sendiri dari hasil membaca buku-buku itu.
Kata Buya Hamka dalam salah satu bukunya: jangan kita terjebak menjadi ‘budak buku’, dimana kita mengumpulkan, mengutip dan mengekor kepada tulisan-tulisan yang ditulis oleh profesor anu, sarjana anu atau ahli anu.
Bung Karno menambahkan lagi kemudian: “Seorang sarjana belum dikatakan sarjana jika masih berkata ‘menurut profesor itu dalam bukunya itu” atau “menurut ahli itu dalam bukunya ini”. Nah, seorang sarjana itu dikatakan sarjana adalah jika ia mengatakan “pendapatku seperti ini”. Dengan itulah sarjana tersebut mempelopori kebebasan serta kemerdekaan bangsanya dari hasil pembelajarannya tersebut.
Ini yang sekarang menjadi latar belakang saya dalam memahami kelakuan para senior wa seniorita asisten lab saya terdahulu yang melarang menyebutkan nama dosen atau asisten lab saat presentasi Final Report. Walau mungkin alasan negative thinking yang terpikir oleh saya adalah supaya praktikannya tidak latah untuk nyebut merajuk cinta serta nilai pada mereka (“Mbok ya tabel MRP produkmu yang bejibun itu dirampungke sek, sebelum ngucapin tresno karo aku!“), tapi ini adalah sebuah usaha agar para calon sarjana ini kemudian mengerti dengan ilmu dan dasar ilmu mereka.
Ini juga yang mungkin menjadi landasan beberapa cendekiawan Muslim dulu pada saat menasehati anak didik atau sahabatnya yang pergi ke dunia Barat untuk belajar ilmu. Nasehatnya, “Itu ngaji Al-Qur’an dan Haditsmu itu mbok ya dibetulkan dulu. Tilawah ya bukan cuma moco, tapi juga dipahami dan ditekuni sedalam-dalamnya sampai jiwamu kui jiwa Al-Qur’an karo hadits”.
So, choose your own book to read on!