Dua Kelinci dan Serigala

Tersebutlah di kulsap ini ada dua kelinci yang selalu dekat sekali setiap hari.

Dimanapun mereka berada di setiap waktu dan kondisi, makhluk-makhluk lain selalu melihat mereka bersama.

Bagaikan orang muda dengan orang yang tua, mereka selalu menghormati antar satu dengan yang lainnya.

Dan bagaikan orang tua dengan orang yang lebih muda, mereka selalu menyayangi antar satu dengan yang lainnya.

Mereka seperti sepatu, kalau katanya Tulus. Berpasangan dan aneh kalau terpisahkan.

Demi menjaga kerahasiaan identitas kedua kelinci sampai kulsap ini selesai, mari bersama-sama kita sebut dua kelinci ini dengan Mawar dan Bunga.

Mohon maaf juga bagi pendengar atau pembaca yang bernama sama.

Suatu ketika di pagi yang sunyi ini, dimana saya sendiri sedang skripsi yang menemani,

Mawar dan Bunga bertemu dengan sebuah roti yang terlihat sangat lezat sekali.

Roti ini walaupun yang membuat bukan chef Juna, ataupun chef Master yang lain, tapi roti ini terlihat enak sekali. Mungkin yang buat Sari Roti #eh

Awalnya Bunga dan Mawar ingin membagi roti ini dengan satu dengan yang lainnya…

Akan tetapi kelezatan roti yang ditaburi kenikmatan coklat Swiss, taburan kacang mede dan gratis ini mengalihkan dunia mereka…

Hingga akhirnya Bunga dan Mawar saling berebut roti yang lezat itu.

100 meter kurang sitik dari tempat Bunga dan Mawar berantem, ada seorang serigala yang lagi menjadi serigala.

Walaupun serigala ini tidak menjadi tokoh utama dalam Ganteng-Ganteng Serigala, ternyata yah…sifat serigalanya masih natural adanya.

Serigala yang jadi mupeng (muka pengen) juga dengan roti yang lezat itu, tertawa haha hihi melihat kedua kelinci itu.

Lalu sang serigala bergegas datang bertemu dengan dua kelinci tersebut.

Tatkala Bunga dan Mawar lagi jabak-jabakan kuping, dengan liciknya, sang serigala menawarkan diri untuk membagi roti tersebut untuk kedua kelinci dengan adil.

“Hai Bunga Mawar (panggilan untuk dua kelinci itu), mengapa kalian saling berebut barang duniawi?”, sang serigala menengahi seraya berfilsafat.

“Daripada kalian ribut-ribut sendiri, mendingan berikan saja roti itu padaku. Biar aku bagi secara adil untuk kalian berdua”, tambah sang serigala.

“Mantap gan”, kedua kelinci yang ternyata Kaskuser itu setuju.

Lalu, serigala itu membagi roti ke Bunga (&) Mawar.

Pembagian ini dilakukan bukan secara adil, tapi seorang yang lain mendapat potongan lebih besar, dan seorang yang lain mendapat potongan lebih kecil. Dasar serigala berakal bulus tapi berhati rakus

Tentu saja, sebagai kelinci yang mendapatkan potongan yang kecil, Bunga protes karena dia mendapatkan bagian yang lebih sedikit dari Mawar.

“Lho, kok Mawar dapat roti yang lebih banyak dari Bunga?”, protes Bunga.

Mawar sambil melet-melet berkata “Rasain cuma dapat segitu”

Lalu, serigala berkata dengan sok bijaknya, “Yo wes ya le, ini tak bagi lagi.”

Serigala kemudian mengambil sedikit dari bagian roti dari Mawar. Dan dimakan dengan lahap oleh serigala.

Kini bagian roti Mawar lebih sedikit dari roti Bunga.

“Nih gan. Ente udah puas belum?”, kata serigala.

“Lho kok jadi roti Mawar yang lebih kecil?”, kata Mawar protes.

Lalu serigala mengambil sedikit bagian roti dari Bunga, dan memakannya lagi.

“Hei serigala, bagian dia lebih banyak dari punyaku. Aku tidak mau bagian dia lebih banyak dari punyaku!” kata Bunga protes lagi.

Kemudian serigala kembali mengambil sedikit bagian roti dari Mawar dan memakannya.

Bunga dan Mawar terus tidak puas dengan pembagian roti tersebut dan serigala dengan senang hati memakan roti mereka sedikit demi sedikit.

Sampai akhirnya, roti itu habis dimakan serigala.

“Yah, kok rotinya sudah tidak ada lagi?”, protes Bunga dan Mawar bersama-sama.

“Lho, kan sudah ada disini…”, kata serigala sambil mengelus perut.

Kedua kelinci itu akhirnya sadar dan menangis bersama-sama.

Terkadang kita sama seperti kedua kelinci ini. Karena sifat ingin menang dan kerakusan kita, selalu ingin menang dan dominan tanpa melihat saudara kita yang lain. Serigala yang awalnya tidak mendapatkan apa-apa, akhirnya menjadi orang yang pertama kali memakan roti tersebut hingga habis. Lalu apa yang dilakukan oleh kedua kelinci? Menyesal karena tidak bisa berbagi.

Sekarang kita bayangkan negara kita hari ini, bukankah sudah banyak pihak-pihak yang tampaknya sedang menjadi kelinci? Tanpa kita sadari sudah banyak segerombolan serigala yang siap menerkam kelinci-kelinci ini. Objeknya bukan roti, tapi sudah menjadi sumber daya, teknologi, kekuasaan, dan lain-lain.

Semoga pada akhirnya kita tidak hanya bisa menangis.

Bandung, 12 Maret 2015.

*Kutipan cerita lengkap ini disampaikan dalam sebuah kuliah whatsapp di grup ODOJ MITI. Pernah diceritakan penulis dalam blognya yang lain.

Advertisements