Post Industry

Post-industry merupakan sebuah istilah yang diciptakan oleh Daniel Bell, seorang sosiolog asal Amerika, yang menjelaskan akan tiba sebuah masa dalam ekonomi, saat sektor jasa yang akan menghasilkan jumlah kekayaan yang lebih besar dan yang lebih mumpuni dibandingkan sektor-sektor lain seperti sektor industri dan sektor pertanian.

Continue reading “Post Industry”

Advertisements

Hikmah Memendekkan Angan-Angan

Al-Hasan berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apakah setiap diantara kalian ingin masuk surga?” Mereka menjawab, “Ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Pendekkan angan-anganmu, anggaplah kematian ada di depan matamu dan malulah kepada Allah dengan malu yang sebesar-besarnya”.

Angan-angan tidak bisa lepas dari kehidupan seorang manusia. Angan-angan menggambarkan akan adanya pengharapan dan adanya keinginan dalam diri seorang manusia untuk melakukan sesuatu. Sebuah definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan angan-angan sebagai gambaran dalam ingatan; harapan sendiri dalam ingatan; dan khayal:.
Fungsi angan-angan pada manusia ini diceritakan dalam sebuah kisah Nabi Isa a.s yang sedang duduk dan kemudian melihat seorang kakek sedang membajak tanah. Dalam duduknya Nabi Isa a.s berdoa, “Ya Allah, cabutlah angan-angan kakek itu.” Kemudian kakek tersebut tiba-tiba meletakkan cangkulnya dan setelah itu terdiam dan berbaring sesaat. Nabi Isa a.s kemudian berdoa kembali kepada Allah swt agar angan-angan kakek tersebut dikembalikan. Kemudian kakek tersebut kembali bekerja. Nabi Isa a.s yang melihat hal tersebut langsung bertanya keadaan kakek tersebut. Kakek tersebut menjawab, “Ketika saya bekerja, tiba-tiba diriku berkata kepadaku sendiri, sampai kapan kamu bekerja, sedang kamu itu orang yang lanjut usia? Maka dari itu saya lempar cangkul itu dan saya berbaring. Kemudian diriku berkata kembali kepada diriku, Kamu wajib mencari penghidupan selama kamu masih hidup. Kemudian saya berdiri dan bekerja lagi.”
Dapat kita simpulkan bahwa dari cerita tersebut, manusia memang selalu hidup dengan berangan-angan. Akan tetapi yang menjadi berbahaya adalah angan-angan yang terlalu berlebihan atau panjang angan-angan. Angan-angan yang panjang dan berlebihan ini akan menghapus keinginan atau azzam kita untuk berubah dan meningkatkan diri menjadi lebih baik.
Seringkali kita sebagai manusia berharap angan-angan yang dicita-citakan dan diharapkan menjadi kenyataan pada suatu hari nanti. Ya, semakin banyak mimpi, maka akan semakin banyak harapan yang akan dan ingin diraih. Akan tetapi angan-angan berbeda dengan sebuah kenyataan. Angan-angan jika tidak diusahakan akan tetap menjadi mimpi, dan hanya orang-orang yang tidak berusaha yang akan tetap meneruskan mimpinya.
Angan-angan yang panjang akan menyebabkan sifat untuk menunda. Sifat untuk menunda ini membuat kita hanya membuat janji untuk diri kita agar melakukan sebuah kebaikan, akan tetapi kemudian kita tunda karena masih merasa ada hari esok. Dosa kita lakukan segera karena hawa nafsu kita hari ini, sedangkan kita berangan-angan untuk bisa bertaubat di esok hari.
Seorang yang bijak pernah berkata, sesungguhnya kehidupan dunia adalah sebuah mimpi, dan kehidupan akhirat adalah bangun dari mimpi itu, dan diantara keduanya adalah kematian, dan kita berada dalam impian yang kacau.
Di fase dunia ini kita temukan masih banyak orang, termasuk kita sendiri, yang masih bermimpi kacau tentang merasakan lezatnya nikmat dunia. Angan-angan kita yang seringkali panjang abadi membuat kita menggilai dan menikmati dunia, serasa kita abadi di dunia ini. Serasa kita akan pasti menggengam esok hari padahal belum tentu satu menit kedepan kita akan masih bisa hidup di dunia ini.

Mari kita lihat jumlah orang muda yang mati terlebih dahulu daripada jumlah orang yang tua yang mati belakangan. Bukankah jumlah orang muda yang mati jauh lebih banyak dibandingkan jumlah orang tua? Umur seseorang dengan seseorang yang lain bisa jadi lebih panjang dibandingkan seseorang yang lain, akan tetapi takdir akan adanya kematian pada setiap orang tidak akan bisa menipu dan tertipu. Jika sudah ditakdirkan datangnya malaikat Izrail bertemu dengan kita, kita harus siap, baik dalam posisi siap atau tidak siap, untuk bertemu dengan pencipta kita.

Lalu setelah kita berpindah negeri untuk menemui dua malaikat yang siap bertanya kepada kita? Apakah kita sudah sanggup untuk menjawabnya? Apakah setelah sangkakala ditiup dan kita dibangkitkan menuju negeri akhirat, apakah kita siap melihat setiap amal kita, kepunyaan kita, dan dosa kita untuk dipertanggungjawabkan dan dihitung? Sungguh beruntungnya orang-orang yang menyiapkan diri, dan sungguh merugi orang yang tidak menyiapkan diri.
Mari kita menyiapkan diri untuk kehidupan kita di akhirat nanti dengan bersungguh-sungguh. Mari kita siapkan sholat-sholat kita seperti sholat yang kita lakukan ini adalah sholat kita yang terakhir dan mari kita siapkan amalan-amalan kita hari ini seperti esok hari kita tidak bisa melakukan amalan-amalan yang kita lakukan sekarang ini.

Bandung, 8 Januari 2015

Dimas Prabu Tejonugroho