Membangun Budaya Organisasi

Budaya organisasi yang dominan dan sejalan dengan visi, misi dan dimensi organisasi serta selaras dengan tuntuan lingkungan akan mengarahkan individu di organisasi tersebut memberi kinerja yang terbaik untuk organisasi mereka.


Tulisan ini saya sampaikan di grup Whatsapp ODOJ MITI MJR SJS 7 dalam kuliah Whatsapp harian pada tanggal 9 Januari 2017.

Lewat kulsap pagi ini, saya ingin berbagi tentang sebuah konsep strategi manajemen sumber daya manusia yang saya pelajari selama saya mengerjakan kuliah tugas akhir di S1 Teknik Industri, Universitas Telkom.

Konsep yang saya bagi pagi hari ini adalah tentang “membangun budaya organisasi”. Tema ini menarik bagi saya, karena pada setiap organisasi yang selalu saya ikuti pasti selalu ada permasalahan atau intrik dalam membangun individu agar sesuai dengan budaya organisasi yang ia anut. Budaya organisasi ini juga merupakan sebuah tema yang sering dibahas pada kuliah-kuliah di Psikologi Industri dan juga pada kuliah di magister manajemen.

Mengapa kita harus membangun budaya organisasi yang baik di organisasi kita? Karena fungsi budaya sendiri itu adalah mengarahkan. Budaya organisasi yang dominan dan sejalan dengan visi, misi dan dimensi organisasi serta selaras dengan tuntuan lingkungan akan mengarahkan individu di organisasi tersebut memberi kinerja yang terbaik untuk organisasi mereka.

Jadi bisa diibaratkan, budaya organisasi ini adalah penekan bagi setiap individu agar mampu berfungsi sebagaimana yang diinginkan organisasi untuk meraih tujuan mereka.

Bagaimana budaya organisasi ini bekerja? Untuk menjelaskan ini, saya mencuplik sebuah teori dari Hofstede yang mengatakan bahwa budaya itu adalah sebuah mental programming (pemrograman mental).

Kata mbah Hofstede, otak manusia itu seperti komputer. Mengalami proses pemrograman baik disadari atau tidak disadari. Akan tetapi berbeda dengan komputer, manusia dapat menolak suatu pemrograman. Karena manusia memiliki akal dan juga nilai dasar yang diyakini masing-masing.

Sebagai contohnya, karyawan sebuah perusahaan yang memiliki nilai dominan pada nilai “relationship” (hubungan antar manusia) saat bekerja. Dia terkadang akan sulit menerima nilai “task oriented” (orientasi tugas) yang dibudayakan pada perusahaan lain yang mengadopsi nilai tersebut. Karena itu penting bagi organisasi untuk menerima seseorang yang dapat dibentuk sesuai tujuan organisasi tersebut agar bisa memajukan organisasi tersebut sesuai value yang dianutnya.

Tak usah jauh-jauh menengok perusahaan atau organisasi lain untuk menengok adanya perbedaan nilai dasar pada setiap manusia. Kita tengok organisasi yang kita ikuti saja.

Seperti contoh saya berikan kasus di organisasi lembaga dakwah kampus yang saya ikuti, yaitu Al Fath Universitas Telkom. Tanpa disadari atau tidak dalam agenda PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru), biasanya kita menyasar para adik-adik mahasiswa untuk diajak masuk dalam organisasi kita. Atau kita ajak orang-orang yang setidaknya sudah mempunyai value yang sama-sama kita anut untuk masuk ke dalam organisasi kita (contoh : anak-anak Rohis SMA).

Mengapa kita menyasar orang-orang seperti itu? Karena adik-adik mahasiswa tersebut  itu genuine, maka mereka bisa mudah dibentuk nilai-nilainya lewat pemrograman mental yang kita bentuk. Karena anak-anak Rohis SMA tersebut mereka sudah terbentuk sesuai dengan value kita, maka akan lebih mudah kita arahkan sesuai budaya organisasi kita. Ini juga sama halnya seperti sebuah perusahaan lebih suka menerima lulusan yang fresh graduated, karena mereka bisa dibentuk.

Nah, sekarang bagaimana kita membangun budaya organisasi di tempat kita? Sebelumnya saya ingin menjelaskan bagaimana kita membangun budaya organisasi, saya ingin terlebih dahulu menjelaskan elemen-elemen dari budaya organisasi agar kita semua tahu apa yang kita bangun.

Edgar Schein, seorang maestro dari konsep budaya organisasi ini pernah bersabda bahwa ada tiga elemen budaya organisasi.

  1. Artefak (Artifacts) merupakan bagian dari budaya perusahaan yang paling luar dan tampak. Ia dapat diamati baik oleh para karyawan dan juga oleh pihak luar. Tidak jarang artefak dipilih dipilih dan dimunculkan agar pihak internal organisasi atau pihak eksternal organisasi mempersepsikannya sebagai nilai yang ingin ditanam.

Berbagai contoh artefak adalah lambang-lambang dan berbagai benda yang dalam organisasi, seperti : logo, slogan, warna, dan bahasa.

Sebagai contoh artefak dari ODOJ MITI MJR SJS adalah slogannya : “Malam jadi Rahib, Siang jadi Singa”. Logonya pun menyerupai slogannya dengan munculnya lambang singa.

  1. Values berarti nilai-nilai yang kasat mata. Artinya nilai-nilai ini terletak pada ranah “bawah sadar manusia” yang secara tidak langsung mempengaruhi perilaku seseorang. Nilai-nilai ini biasanya terbentuk dari kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus.

Values sendiri dalam penerapan di budaya organisasi terbagi dua : Espoused values (nilai yang diharapkan), dan enacted values (nilai yang sudah ada)

Jika kita ingin mengubah budaya suatu organisasi, hal pertama yang kita perlu analisis adalah enacted values. Jadi, apa saja nilai-nilai yang sudah ada dalam diri anggota organisasi kita? Bagaimana mereka menerapkannya? Analisis ini bisa melalui kuisoner atau wawancara mendalam dengan anggota organisasi kita.

Setelah kita analisis enacted values, berikutnya yang harus kita analisis adalah espoused values. Espoused values ini perlu kita definisikan lebih lanjut secara operasional dengan dikaitkan dengan perilaku-perilaku organisasi yang ingin kita bentuk lewat mental programming yang kita jalankan. Biasanya kemudian nilai-nilai ini kita definisikan dalam the do’s dan juga the don’t. The do’s artinya hal-hal yang harus atau wajib anggota organisasi itu lakukan, dan the don’t artinya hal-hal yang tidak boleh anggota organisasi tersebut itu lakukan. Biasanya do dan don’t ini terdapat dalam aturan dan standar operasional organisasi.

Saya berikan contoh dalam organisasi lembaga dakwah kampus, terdapat sebuah nilai yang ingin kita budayakan yaitu “Lebih Dekat dan Lebih Bersahabat”. Nilai tersebut kemudian didefinisikan dalam  the do’s menjadi sebuah prinsip 6S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun, Semangat) yang wajib dipatuhi oleh setiap anggotanya. The don’t nya ya kemudian berarti perilaku-perilaku yang berkebalikan dengan hal-hal tersebut.

Selain mendefinisikan perilaku-perilaku yang ingin kita bentuk, tugas kita sebagai leader atau manajemen sebuah organisasi adalah mengupayakan nilai-nilai ini masuk dalam tingkatan operatif. Artinya nilai-nilai ini tanpa harus diingatkan oleh kita sudah bisa dijalankan oleh anggota organisasi kita.

  1. Asumsi dasar (basic assumptions) adalah filosofi yang dianut seseorang atau sekelompok orang yang mempengaruhi pola piker, perasaan, emosi, mental-set mereka. Karena ia filosofi, maka letaknya jauh berada di dalam “kognitif” manusia yang dibentuk dalam waktu yang relatif panjang.

Jika sekelompok karyawan memiliki asumsi dasar bahwa kerja keras dan kejujuran adalah kunci keberhasilan maka nilai-nilai yang mereka anut adalah kerja keras dan kejujuran. Namun, dapat dibayangkan jika asumsi dasar para karyawan adalah bekerja didasari oleh pilihan yaitu memanipulasi atau dimanipulasi, maka nilai yang mereka anut adalah unfair competition.

Jadi, membangun budaya organisasi pada hakikatnya adalah membangun elemen-elemen budaya organisasi ini agar sesuai dengan visi, misi dan tujuan organisasi.

Setelah kita mengetahui adanya elemen-elemen budaya organisasi ini, kita juga harus mengetahui fungsi pemimpin dalam membangun budaya organisasi.

Fungsi pemimpin atau khalifah ini sangat penting karena ialah yang menggerakkan anggota organisasinya mencapai visi, misi yang diharapkan organisasi. Pemimpin juga setidaknya harus mampu menjalankan atau mencontohkan elemen-elemen budaya organisasi yang sudah ia bentuk kepada anggota organisasinya agar anggotanya bisa dan merasa harus untuk mengikuti. Disinilah ada sebuah keharusan bagi seorang pemimpin untuk bisa memberikan keteladanan bagi para anggotanya.

Berbagai ahli di bidang psikologi industry menyebutkan satu tipe leadership yang seharusnya menjadi focus kita bersama. Tipe leadership itu ialah tipe “transformational leadership”.

Transformational leadership adalah leader yang memiliki visi jauh kedepan, mengkomunikasikannya, dan memberi contoh untuk mentransformasi anggotanya.

Maka, dalam hal ini saya juga menasehati diri saya sendiri, bahwa menjadi pemimpin seharusnya menjadi teladan bagi yang lain. Karena itu, sangat penting bagi pemimpin untuk menjaga sikap dan kata-katanya. Sebagaimana quote yang saya dengar dari seorang jenderal di Indonesia-> “Perkataan seorang pemimpin itu ialah setengah dari kebijakannya”. Itulah yang harus kita cermati dan sadari saat menjadi pemimpin untuk menjaga kata-kata kita.

 

Advertisements

Menengok Dongeng Leicester City, Juara Baru Liga Inggris 2015/2016

gettyimages-529569650

Secara heroik, Hazard merayakan golnya seakan timnya yang memenangkan Liga Inggris. Namun, bukan timnya lah yang merayakan juara, akan tetapi tim liliput kecil, Leicester City yang meraihnya.

Continue reading “Menengok Dongeng Leicester City, Juara Baru Liga Inggris 2015/2016”

Lean Concept

 photo310494546472577027
“Kalau sistem integral saja bisa aku improve sedemikian rupa, bagaimana nanti aku bisa meng-improve dirimu yang sudah terintegralisasi dalam diriku? #skip Salah satu cara agar kita bisa meng-improve sistem adalah menggunakan konsep lean. ”

Post Industry

Post-industry merupakan sebuah istilah yang diciptakan oleh Daniel Bell, seorang sosiolog asal Amerika, yang menjelaskan akan tiba sebuah masa dalam ekonomi, saat sektor jasa yang akan menghasilkan jumlah kekayaan yang lebih besar dan yang lebih mumpuni dibandingkan sektor-sektor lain seperti sektor industri dan sektor pertanian.

Continue reading “Post Industry”

Sibuklah Hidup atau Sibuklah Mati?

Sebuah tulisan bedah film boxoffice (The Shawshank Redemption) yang tuntas diselesaikan dan dipresentasikan pada awal November 2015 di sebuah grup Whatsapp. Film yang dibedah merupakan salah satu film terbaik sepanjang masa dengan rating imdb 9,3 dari 10. Bedah film disini bertujuan untuk memperkaya kualitas diri dan orang lain dengan mengambil beberapa poin atau hikmah untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Continue reading “Sibuklah Hidup atau Sibuklah Mati?”

Hikmah Memendekkan Angan-Angan

Al-Hasan berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apakah setiap diantara kalian ingin masuk surga?” Mereka menjawab, “Ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Pendekkan angan-anganmu, anggaplah kematian ada di depan matamu dan malulah kepada Allah dengan malu yang sebesar-besarnya”.

Angan-angan tidak bisa lepas dari kehidupan seorang manusia. Angan-angan menggambarkan akan adanya pengharapan dan adanya keinginan dalam diri seorang manusia untuk melakukan sesuatu. Sebuah definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan angan-angan sebagai gambaran dalam ingatan; harapan sendiri dalam ingatan; dan khayal:.
Fungsi angan-angan pada manusia ini diceritakan dalam sebuah kisah Nabi Isa a.s yang sedang duduk dan kemudian melihat seorang kakek sedang membajak tanah. Dalam duduknya Nabi Isa a.s berdoa, “Ya Allah, cabutlah angan-angan kakek itu.” Kemudian kakek tersebut tiba-tiba meletakkan cangkulnya dan setelah itu terdiam dan berbaring sesaat. Nabi Isa a.s kemudian berdoa kembali kepada Allah swt agar angan-angan kakek tersebut dikembalikan. Kemudian kakek tersebut kembali bekerja. Nabi Isa a.s yang melihat hal tersebut langsung bertanya keadaan kakek tersebut. Kakek tersebut menjawab, “Ketika saya bekerja, tiba-tiba diriku berkata kepadaku sendiri, sampai kapan kamu bekerja, sedang kamu itu orang yang lanjut usia? Maka dari itu saya lempar cangkul itu dan saya berbaring. Kemudian diriku berkata kembali kepada diriku, Kamu wajib mencari penghidupan selama kamu masih hidup. Kemudian saya berdiri dan bekerja lagi.”
Dapat kita simpulkan bahwa dari cerita tersebut, manusia memang selalu hidup dengan berangan-angan. Akan tetapi yang menjadi berbahaya adalah angan-angan yang terlalu berlebihan atau panjang angan-angan. Angan-angan yang panjang dan berlebihan ini akan menghapus keinginan atau azzam kita untuk berubah dan meningkatkan diri menjadi lebih baik.
Seringkali kita sebagai manusia berharap angan-angan yang dicita-citakan dan diharapkan menjadi kenyataan pada suatu hari nanti. Ya, semakin banyak mimpi, maka akan semakin banyak harapan yang akan dan ingin diraih. Akan tetapi angan-angan berbeda dengan sebuah kenyataan. Angan-angan jika tidak diusahakan akan tetap menjadi mimpi, dan hanya orang-orang yang tidak berusaha yang akan tetap meneruskan mimpinya.
Angan-angan yang panjang akan menyebabkan sifat untuk menunda. Sifat untuk menunda ini membuat kita hanya membuat janji untuk diri kita agar melakukan sebuah kebaikan, akan tetapi kemudian kita tunda karena masih merasa ada hari esok. Dosa kita lakukan segera karena hawa nafsu kita hari ini, sedangkan kita berangan-angan untuk bisa bertaubat di esok hari.
Seorang yang bijak pernah berkata, sesungguhnya kehidupan dunia adalah sebuah mimpi, dan kehidupan akhirat adalah bangun dari mimpi itu, dan diantara keduanya adalah kematian, dan kita berada dalam impian yang kacau.
Di fase dunia ini kita temukan masih banyak orang, termasuk kita sendiri, yang masih bermimpi kacau tentang merasakan lezatnya nikmat dunia. Angan-angan kita yang seringkali panjang abadi membuat kita menggilai dan menikmati dunia, serasa kita abadi di dunia ini. Serasa kita akan pasti menggengam esok hari padahal belum tentu satu menit kedepan kita akan masih bisa hidup di dunia ini.

Mari kita lihat jumlah orang muda yang mati terlebih dahulu daripada jumlah orang yang tua yang mati belakangan. Bukankah jumlah orang muda yang mati jauh lebih banyak dibandingkan jumlah orang tua? Umur seseorang dengan seseorang yang lain bisa jadi lebih panjang dibandingkan seseorang yang lain, akan tetapi takdir akan adanya kematian pada setiap orang tidak akan bisa menipu dan tertipu. Jika sudah ditakdirkan datangnya malaikat Izrail bertemu dengan kita, kita harus siap, baik dalam posisi siap atau tidak siap, untuk bertemu dengan pencipta kita.

Lalu setelah kita berpindah negeri untuk menemui dua malaikat yang siap bertanya kepada kita? Apakah kita sudah sanggup untuk menjawabnya? Apakah setelah sangkakala ditiup dan kita dibangkitkan menuju negeri akhirat, apakah kita siap melihat setiap amal kita, kepunyaan kita, dan dosa kita untuk dipertanggungjawabkan dan dihitung? Sungguh beruntungnya orang-orang yang menyiapkan diri, dan sungguh merugi orang yang tidak menyiapkan diri.
Mari kita menyiapkan diri untuk kehidupan kita di akhirat nanti dengan bersungguh-sungguh. Mari kita siapkan sholat-sholat kita seperti sholat yang kita lakukan ini adalah sholat kita yang terakhir dan mari kita siapkan amalan-amalan kita hari ini seperti esok hari kita tidak bisa melakukan amalan-amalan yang kita lakukan sekarang ini.

Bandung, 8 Januari 2015

Dimas Prabu Tejonugroho

Dua Kelinci dan Serigala

Tersebutlah di kulsap ini ada dua kelinci yang selalu dekat sekali setiap hari.

Dimanapun mereka berada di setiap waktu dan kondisi, makhluk-makhluk lain selalu melihat mereka bersama.

Bagaikan orang muda dengan orang yang tua, mereka selalu menghormati antar satu dengan yang lainnya.

Dan bagaikan orang tua dengan orang yang lebih muda, mereka selalu menyayangi antar satu dengan yang lainnya.

Mereka seperti sepatu, kalau katanya Tulus. Berpasangan dan aneh kalau terpisahkan.

Demi menjaga kerahasiaan identitas kedua kelinci sampai kulsap ini selesai, mari bersama-sama kita sebut dua kelinci ini dengan Mawar dan Bunga.

Mohon maaf juga bagi pendengar atau pembaca yang bernama sama.

Suatu ketika di pagi yang sunyi ini, dimana saya sendiri sedang skripsi yang menemani,

Mawar dan Bunga bertemu dengan sebuah roti yang terlihat sangat lezat sekali.

Roti ini walaupun yang membuat bukan chef Juna, ataupun chef Master yang lain, tapi roti ini terlihat enak sekali. Mungkin yang buat Sari Roti #eh

Awalnya Bunga dan Mawar ingin membagi roti ini dengan satu dengan yang lainnya…

Akan tetapi kelezatan roti yang ditaburi kenikmatan coklat Swiss, taburan kacang mede dan gratis ini mengalihkan dunia mereka…

Hingga akhirnya Bunga dan Mawar saling berebut roti yang lezat itu.

100 meter kurang sitik dari tempat Bunga dan Mawar berantem, ada seorang serigala yang lagi menjadi serigala.

Walaupun serigala ini tidak menjadi tokoh utama dalam Ganteng-Ganteng Serigala, ternyata yah…sifat serigalanya masih natural adanya.

Serigala yang jadi mupeng (muka pengen) juga dengan roti yang lezat itu, tertawa haha hihi melihat kedua kelinci itu.

Lalu sang serigala bergegas datang bertemu dengan dua kelinci tersebut.

Tatkala Bunga dan Mawar lagi jabak-jabakan kuping, dengan liciknya, sang serigala menawarkan diri untuk membagi roti tersebut untuk kedua kelinci dengan adil.

“Hai Bunga Mawar (panggilan untuk dua kelinci itu), mengapa kalian saling berebut barang duniawi?”, sang serigala menengahi seraya berfilsafat.

“Daripada kalian ribut-ribut sendiri, mendingan berikan saja roti itu padaku. Biar aku bagi secara adil untuk kalian berdua”, tambah sang serigala.

“Mantap gan”, kedua kelinci yang ternyata Kaskuser itu setuju.

Lalu, serigala itu membagi roti ke Bunga (&) Mawar.

Pembagian ini dilakukan bukan secara adil, tapi seorang yang lain mendapat potongan lebih besar, dan seorang yang lain mendapat potongan lebih kecil. Dasar serigala berakal bulus tapi berhati rakus

Tentu saja, sebagai kelinci yang mendapatkan potongan yang kecil, Bunga protes karena dia mendapatkan bagian yang lebih sedikit dari Mawar.

“Lho, kok Mawar dapat roti yang lebih banyak dari Bunga?”, protes Bunga.

Mawar sambil melet-melet berkata “Rasain cuma dapat segitu”

Lalu, serigala berkata dengan sok bijaknya, “Yo wes ya le, ini tak bagi lagi.”

Serigala kemudian mengambil sedikit dari bagian roti dari Mawar. Dan dimakan dengan lahap oleh serigala.

Kini bagian roti Mawar lebih sedikit dari roti Bunga.

“Nih gan. Ente udah puas belum?”, kata serigala.

“Lho kok jadi roti Mawar yang lebih kecil?”, kata Mawar protes.

Lalu serigala mengambil sedikit bagian roti dari Bunga, dan memakannya lagi.

“Hei serigala, bagian dia lebih banyak dari punyaku. Aku tidak mau bagian dia lebih banyak dari punyaku!” kata Bunga protes lagi.

Kemudian serigala kembali mengambil sedikit bagian roti dari Mawar dan memakannya.

Bunga dan Mawar terus tidak puas dengan pembagian roti tersebut dan serigala dengan senang hati memakan roti mereka sedikit demi sedikit.

Sampai akhirnya, roti itu habis dimakan serigala.

“Yah, kok rotinya sudah tidak ada lagi?”, protes Bunga dan Mawar bersama-sama.

“Lho, kan sudah ada disini…”, kata serigala sambil mengelus perut.

Kedua kelinci itu akhirnya sadar dan menangis bersama-sama.

Terkadang kita sama seperti kedua kelinci ini. Karena sifat ingin menang dan kerakusan kita, selalu ingin menang dan dominan tanpa melihat saudara kita yang lain. Serigala yang awalnya tidak mendapatkan apa-apa, akhirnya menjadi orang yang pertama kali memakan roti tersebut hingga habis. Lalu apa yang dilakukan oleh kedua kelinci? Menyesal karena tidak bisa berbagi.

Sekarang kita bayangkan negara kita hari ini, bukankah sudah banyak pihak-pihak yang tampaknya sedang menjadi kelinci? Tanpa kita sadari sudah banyak segerombolan serigala yang siap menerkam kelinci-kelinci ini. Objeknya bukan roti, tapi sudah menjadi sumber daya, teknologi, kekuasaan, dan lain-lain.

Semoga pada akhirnya kita tidak hanya bisa menangis.

Bandung, 12 Maret 2015.

*Kutipan cerita lengkap ini disampaikan dalam sebuah kuliah whatsapp di grup ODOJ MITI. Pernah diceritakan penulis dalam blognya yang lain.